CERITA ANDA

Pasrah, Ibu Ini Hidup Sebatangkara dengan Kondisi Stroke

Ketiga anaknya merantau dan tidak pernah mengunjunginya.
Pasrah, Ibu Ini Hidup Sebatangkara dengan Kondisi Stroke
Terkena stroke, Ibu Martini hidup sebatangkara.

VIVA.co.id – “Waktu itu saya mau salat tahajud. Sudah siap-siap mau salat, lalu tiba-tiba kaki saya nyeri. Rasanya seperti kejutan, tegang, pokoknya semacam itulah. Saya kaget saat itu apa yang terjadi. Hingga saya akhirnya tahu, kaki saya terkena stroke,” papar Martini.

Begitulah penggalan kisah yang dituturkan wanita berusia 63 tahun itu ketika ditemui oleh Rumah Yatim saat pemberian santunan dan bingkisan Ramadan, Sabtu, 10 Juni 2017. Namanya Martini, tapi para tetangga mengenalnya dengan Mamah Kiki (Kiki nama anak Martini). Sudah enam tahun ia mengalami stroke yang akhirnya harus membuatnya berjalan dengan bantuan kruk.

Dahulu, ia bekerja serabutan. Meski tak banyak hasilnya, tapi setidaknya ia mampu membiayai makannya sehari-hari. Namun, seketika semua berubah ketika ia ditakdirkan menderita stroke. Ibu Martini tak dapat bekerja. Untuk makan ia hanya bergantung pada belas kasihan para tetangga. “Kalau ada yang beri maka hari itu saya bisa makan. Jika tidak, ya saya tidak makan apa-apa,” ceritanya pasrah.

Bak sudah jatuh tertimpa tangga pula, Ibu Martini yang mengalami stroke hidup sebatang kara di sebuah kontrakan di daerah Sukapura, Lemah Hegar, RT 1 RW 4, Bandung. Sang suami telah lama tiada. Tiga anaknya telah berkeluarga dan merantau. Dari ketiganya, hanya satu yang pernah pulang dan menjenguknya. Itupun tak setiap tahun.

“Anak saya satu orang di Lampung. Dia satu-satunya yang masih menghubungi saya. Dia mengirimkan uang tapi hanya sekadar untuk listrik dan kontrakan, sebab dia pun hidup susah di sana,” ujar Martini lagi dengan nada semakin lirih.

Saat ditanya apa yang paling membuatnya terluka adalah kenyataan bahwa ia sebatang kara di usia tuanya. Ditambah dengan kondisi kakinya yang tak lagi normal. “Begitu sedih rasanya hidup sendiri di sini. Saya mencuci sendiri, bersih-bersih, semuanya saya lakukan sendiri dengan kondisi stroke ini. Enggak ada yang ngurusin di usia tua saya yang sakit ini. Kadang makan, kadang tidak.” urainya diiringi dengan isak tangis yang tak tertahankan.

Martini adalah satu dari sekian banyak sosok orang tua yang harus menelan pahitnya usia tua tanpa satupun keluarga di sampingnya. Hanya sedikit bantuan dan doa sejatinya yang bisa diberikan agar Martini selalu diberi kekuatan oleh-Nya. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...