CERITA ANDA

Susahnya Menjadi Anak Pertama

Adik-adikku tidak pernah mendengarkan apa yang aku katakan.
Susahnya Menjadi Anak Pertama
Ilustrasi kakak dan adik (Pixabay/ RondellMelling)

VIVA.co.id – Terkadang ada enak dan tidaknya menjadi anak pertama. Selama 21 tahun aku hidup di dunia ini, hanya selama 9 tahun aku mengalami rasanya menjadi seorang abang. Awal merasakan menjadi seorang abang kualami ketika aku berumur 12 tahun. Kala itu aku masih duduk di bangku kelas 6 SD.

Sejak lahir hingga berumur 12 tahun aku belum pernah sekalipun merasakan menjadi seorang abang. Karena selama 12 tahun, aku tinggal bersama kakek dan nenek. Senang rasanya karena aku dijadikan cucu kesayangan mereka. Namun sekarang, aku bukanlah cucu kesayangan kakek dan nenekku. Karena nenek sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dan kakek mulai sakit-sakitan. Ia pun sering memarahiku karena aku selalu pulang malam, menginap di rumah teman, begadang, dan bangun siang.

Selama 12 tahun aku dituntun untuk selalu belajar, belajar, dan belajar oleh nenek. Hingga saat aku tinggal bersama orangtuaku, aku tidak memiliki waktu belajar karena selalu diajak bermain oleh adik-adikku dan teman-temannya. Setelah tinggal bersama dengan adik-adikku, entah kenapa aku lebih mementingkan waktu untuk bermain daripada harus belajar. Aku tidak menyalahkan adik-adikku dan teman-temannya, aku malah menyalahkan diriku sendiri karena terlalu mementingkan mereka daripada belajar.

Selama menjadi seorang abang, aku tidak pernah menjalani peranku dengan baik. Adik-adikku tidak pernah mendengarkan apa yang aku katakan. Sudah berkali-kali aku memberitahu, tapi mereka tidak mau mendengarkan. Aku merasa gagal dan tidak becus menjadi seorang abang.

Kini, aku duduk sendirian tanpa ditemani siapa-siapa. Adik-adikku sibuk dengan urusannya masing-masing. Bukan untuk mengerjakan tugas sekolah, tapi mereka sibuk dengan teman, sahabat, dan pacar mereka. Bahkan mereka lupa dengan kewajiban mereka sebagai seorang anak yang harus mendengarkan apa yang dikatakan orangtua dan abangnya.

Di lubuk hatiku yang terdalam, ingin rasanya aku dilahirkan di keluarga yang miskin, tapi dengan ayah, ibu, dan adik-adik yang mau mendengarkan daripada hidup dengan segala kebutuhan yang terbilang cukup. Karena dengan begitu, adik-adikku pasti akan sadar dan mau mengikuti apa kata orangtua.

Namun, inilah takdir. Aku dilahirkan di keluarga yang cukup berada. Namun, aku selalu hidup apa adanya, bahkan serba kurang. Karena orang tuaku lebih mementingkan kepentingan adikku, tepatnya setelah aku lulus dan berhenti kuliah. Aku sadar kenapa mereka seperti itu padaku. Itu karena aku sudah menyia-nyiakan apa yang telah mereka berikan padaku ketika aku masih sekolah dan kuliah dulu.

Aku menyadari kesalahanku, tapi mereka tidak menyadari kesalahan mereka padaku. Aku yang dulunya ingin begini, tapi mereka inginnya malah begitu. Aku terpaksa mengikuti mau mereka dan melupakan apa yang aku inginkan.

Jika saja waktu bisa diputar lagi, pasti aku tidak akan mengikuti apa yang orang tuaku kehendaki dan aku akan tetap mengikuti apa yang sudah menjadi keinginanku. Mungkin aku tidak akan diperlakukan begini oleh mereka. Bahkan adik-adikku mungkin akan mau mendengarkan apa yang aku katakan dan aku bisa menjalankan peranku sebagai seorang abang dengan baik.

Aku benar-benar menyesal karena telah menjadi seorang abang bagi mereka. Andaikan dulu aku tidak bertemu dengan mereka dan masih tinggal bersama kakek dan nenek, cerita ini mungkin tidak akan pernah ada. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie, Pekanbaru)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...