CERITA ANDA

Kulakukan Apapun untuk Membahagiakanmu

Tak peduli rintangan apa yang ada di depan nanti.
Kulakukan Apapun untuk Membahagiakanmu
Ilustrasi ibu. (Ibu)

VIVA.co.id – Sedalam samudera kumencintaimu. Sebesar dunia kumenyayangimu. Sedangkan kau ibu, lebih dalam dan lebih besar daripada itu cinta dan sayangmu padaku. Tak bisa dibandingkan oleh apapun, karena kasihmu begitu tulus dan tak lekang oleh waktu.

Saat aku belum ada, engkau selalu mengharapkanku. Engkau sabar menunggu kedatanganku. Sampai saatnya kuhadir memberi keceriaan dalam hari-harimu. Meskipun mungkin kumembatasi kegiatanmu, tapi kau tetap menjagaku sepenuh hatimu. Bahkan kau rela berjuang mempertaruhkan hidup dan matimu untuk melahirkanku.

Mungkin aku belum mengerti apa-apa saat itu. Tapi seiring bertambahnya usiaku, kau selalu mengajari, mengawasi, dan mendidik agar kelak aku menjadi anak yang membanggakan. Meskipun aku sering melakukan kesalahan, tapi engkau tak pernah lelah mengingatkan dan menunjukkan mana yang benar demi kebaikanku.

Setiap malam engkau menemaniku hingga aku terlelap. Mengelus rambutku dan melantunkan doa-doa serta harapan untuk aku kelak saat besar nanti. Saat aku tertidur lelap, kadang ibu tidak bisa tidur. Ia memikirkan masa depanku, masa depan anak yang disayanginya. Ibu tak pernah memikirkan dirinya, yang dipikirkan adalah aku, aku, dan aku.

Sebelum tidur engkau memikirkanku, dan saat bangun pun kau tetap memikirkanku. Engkau sungguh sempurna, ibu. Di mataku, ibu bagai malaikat yang selalu ada saat aku terpuruk. Saat aku menangis, saat aku kecewa, dan saat aku bahagia. Tak ada satupun orang sepertimu di dunia ini. Jika orang lain selalu mengharapkan balasan atas apa yang mereka lakukan, sedangkan ibu melakukan semuanya dengan tulus dan ikhlas tanpa mengharap sedikitpun balasan dariku.

Jauh sebelum aku terbangun dari tidur lelapku, ibu telah bergegas bangun. Dengan mata suntuknya ia menantang fajar untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah dan menyiapkan semua kebutuhanku. Bagiku, ibu lebih dari seorang wanita hebat. Ia membesarkanku dengan penuh kasih sayang dan kesabaran yang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Menjagaku tanpa pamrih, merawatku tanpa mengeluh. Dialah ibu, ibu yang sangat aku cintai, ibu yang rela berkorban untukku. Namun, kenapa mulut ini begitu malu untuk mengucapkan kata terimakasih atas segala pengorbanan yang telah ia lakukan? Mungkin aku sering membuatnya menangis, sering membangkang sehingga membuatnya kecewa, sering berbohong, bahkan menyakiti hatinya dengan sikap dan perkataanku. Tapi dia selalu memaafkan jauh sebelum aku minta maaf padanya.

Engkau begitu tulus menyayangiku, sampai-sampai daging menjadi makananku dan tulang adalah bagianmu. Tak ada kasih manusia yang melebihi kasihmu kepadaku. Ibu maafkan jika aku bebal, setiap nasihat yang ibu ucapkan selalu aku membangkangnya. Maafkan jika aku pernah membuat hatimu terluka.

Aku butuh doamu ibu. Aku butuh peluk hangat darimu ketika aku sudah lelah berjuang. Aku butuh bersandar di bahumu ibu, ketika air mataku sudah tak sanggup lagi reda. Semakin hari aku semakin tumbuh dewasa, tetapi aku lupa bahwa ibu semakin tua. Masih saja aku menyuruh-nyuruh ibu padahal ibu lelah. Ibu letih, tetapi ibu masih mau menuruti keinginanku. Aku yang seharusnya membantu ibu, karena aku lebih muda dan lebih kuat.

Sekarang aku sudah besar dan harus pergi untuk menuntut ilmu. Waktu kecil, ibu pernah mengatakan padaku, ”Jadilah orang sukses dan orang yang berguna!” dan aku tak pernah lupa semua kata-katamu. Aku percaya kelak nanti, saat aku kembali lagi ke pelukanmu aku sudah jadi orang sukses dan mungkin juga menjadi orang yang berguna. Bagiku yang terpenting aku bisa membahagiakanmu, walaupun itu tidak cukup untuk membalas semua yang telah engkau berikan.

Dulu aku anak yang manja dan tidak pernah mau untuk membantumu. Bahkan untuk keperluanku sendiri saja aku masih mengandalkanmu. Kadang terbesit bahwa aku ini hanya sampah yang tidak berguna dan hanya menjadi beban untuk ibu dan keluarga, bahkan semua orang di sekitarku. Sekarang aku harus mandiri!

Akan kubuktikan kalau aku bisa mengurus diriku sendiri tanpa bantuan orang lain. Tapi aku tetap membutuhkan bantuan ibu untuk menyemangatiku demi mewujudkan cita-cita. Memang anakmu ini selalu membutuhkanmu. Tak pernah terbayang jika suatu saat nanti engkau tak ada di sampingku. Tak sanggup rasanya bila kuharus kehilangan kasih sayang darimu, ibu. Selalu temani aku ya, Bu!

Walaupun jauh, aku tetap bangga terhadapmu. Hampir setiap hari kau meneleponku, menanyakan kabarku, dan aku tahu ibu selalu mendoakanku. Mendoakan yang terbaik untukku. Sedangkan aku? Tak pernah aku meneleponmu. Aku selalu saja sok sibuk dengan urusanku yang padahal tidak begitu penting ini.

Kadang aku merasa malu karena sampai saat ini belum bisa membanggakanmu. Masih saja aku membebanimu. Tapi ibu selalu percaya padaku bahwa perjuangannya menjadikanku anak yang berguna tidak akan sia-sia. Aku berjanji, bahkan aku bersumpah pada diriku sendiri, suatu saat nanti aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi seperti yang ibu harapkan.

Saat aku lulus nanti, aku akan bekerja sekeras mungkin demi kesuksesanku. Demi membuat ibu bangga. Tak peduli rintangan apa yang ada di depan nanti, akan kuterobos dengan niat, usaha dan doa. Ibu, aku menyayangimu dan aku tahu tak ada rasa sayang terbesar selain kasih sayangmu. (Tulisan ini dikirim oleh Elsa Farida)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...