CERITA ANDA

Kisah Anak-anak Desa Cimenyan yang Putus Sekolah

Sebagian besar hanya bisa sekolah sampai SD.
Kisah Anak-anak Desa Cimenyan yang Putus Sekolah
Anak-anak desa Cimenyan sedang mengaji.

VIVA.co.id – Di balik kampung yang teduh dan tenteram itu, terdapat sisi kemanusiaan yang terabaikan. Warga hidup serba kekurangan dan anak-anak putus sekolah. Penasaran, saya menyusuri kampung-kampung di Cimenyan Bandung Utara. Ada kawasan wisata yang bagus-bagus seperti Puncak Bintang, Oray Tapa, dan Palintang.  Minggu, 2 April 2017 saya menyempatkan ke Oray Tapa. Dan terus naik menyusuri perbukitan dengan Hutan Arcamanik yang dipenuhi pinus.

Sampai di sebuah Kampung Pondok Buahbatu, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung saya istirahat, dan menyaksikan panorama kehidupan desa di pinggir hutan itu. Sejuk, teduh dan tenteram. Namun begitu mengenal kehidupan warga dengan perbincangan di Masjid Nurul Iman, saya mulai berpikir lain.

Ada Pak Idan di sana yang sedang menunggu masjid. Ada juga keluarga Pak ustaz Nanang Yusuf yang kami temui dan kami ajak bicara, tak terkecuali beberapa anak desa. Dari kisahnya, banyak anak putus sekolah di sana. Itu yang merisaukan hati saya. Kemudian juga soal ekonomi keluarga di Kampung Pondok Buahbatu yang kata Pak Nanang rata-rata tidak memiliki tanah untuk pertanian. Tanah-tanah sudah dibagi waris, sementara di ladang sebagian mereka hanya mengontrak milik orang kota atau menggarap lahan Perhutani.

Sebagian mata pencaharian petani Pondok Buahbatu di luar musim kerja tani kopi atau tani sayur adalah kerja bangunan. Bukan pekerjaan dengan sedikit hasil yang jadi masalah, tapi kelangkaan pekerjaannya. Sebab mereka hanya bekerja beberapa hari, sedangkan setiap hari mereka tetap butuh makanan dan biaya lain.

Hidup serba sulit. Ekonomi yang tak wajar, jalan-jalan rusak dan tidak ada sarana kesehatan, sekolah atau sarana lain yang sifatnya memudahkan kehidupan warga. Anak-anak desa sebagian hanya bisa sekolah sampai SD. Itupun harus berjalan kaki setiap hari sampai 5 km. Untuk SMP sangat jauh, jaraknya 7 km dengan jalanan rusak yang kalau hujan lumpur akan mewarnai jalanan itu.

Di masjid itu, kami mendapatkan cerita tentang kehidupan anak-anak desa yang nyaris tanpa masa depan. Beruntung kata Pak Nanang, beberapa bulan di akhir tahun 2016 lalu ada dosen-dosen ITB dan wartawan yang sering ke Pondok Buahbatu. Selain membantu kegiatan pembangunan masjid, mereka juga membantu melalui kegiatan sosial. Termasuk mendampingi anak-anak putus sekolah.

Informasi dari Pak Nanang juga yang menggerakkan saya meneliti situs internet untuk mengetahui seluk beluk Kampung Pondok Buahbatu. Dan ternyata, sudah ada relawan yang bergiat untuk penggalangan dana guna memenuhi kebutuhan pendampingan di sana. Melalui https://kitabisa.com/bantuananakdesa, yuk kita sama-sama saling membantu. (Tulisan ini dikirim oleh Ferlita Husain)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...