CERITA ANDA

Kebangkitan Pendidikan melalui Sekolah Guru Indonesia

Sebanyak 1148 guru telah dibina melalui berbagai macam program.
Kebangkitan Pendidikan melalui Sekolah Guru Indonesia
Kegiatan Sekolah Guru Indonesia.

VIVA.co.id – Berbicara mengenai pendidikan, berarti berbicara mengenai nasib suatu bangsa. Bangsa yang maju pastinya ditopang dengan keberhasilan penyelenggaraan pendidikannya. Karena hanya dengan pendidikanlah manusia bisa benar-benar menjadi manusia seutuhnya yang mampu berkarya dan mengembangkan potensi dirinya.

Berdasarkan Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Pasal 1 ayat (1) yang menjelaskan tentang pendidikan. Bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Definisi pendidikan di atas jelas mengisyaratkan. Bahwa sejatinya dalam pendidikan ada komponen utama selain peserta didik yang berperan penting dalam mewujudkan harapan dan cita-cita bangsa. Fasilitator yang berperan mengembangkan potensi peserta didik tidak lain dan tidak bukan adalah guru.

Menurut Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 ayat 1 menjelaskan definisi guru. Bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Mengenai guru adalah pendidik profesional, maka tidak boleh tidak seorang guru harus memiliki kecakapan dalam mengajar atau dalam istilah lain memiliki kompetensi. Menurut Mulyasa dalam Jejen Musfah (2011:27) mengungkapkan bahwa kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial, dan spiritual, yang secara kafah membentuk kompetensi standar profesi guru.

Yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalitas. Dengan berbekal kompetensi inilah sudah barang tentu guru bisa meraih keberhasilannya.

Menurut Rogers dalam Catron dan Allen dalam Sujiono (2009:58), keberhasilan guru yang sebenarnya menekankan pada tiga kualitas dan sikap yang utama. Yaitu guru memberikan fasilitas untuk perkembangan anak menjadi manusia seutuhnya.

Membuat suatu pelajaran menjadi berharga dengan menerima perasaan anak-anak dan kepribadian, dan percaya bahwa yang lain dasarnya layak dipercaya membantu menciptakan suasana selama  belajar. Dan mengembangkan pemahaman empati bagi guru yang peka/sensitif untuk mengenal perasaan anak-anak di dunia.

Sayang seribu sayang, sepertinya keberhasilan guru dan kompetensinya masih menjadi PR besar di negeri ini. Data yang dikeluarkan oleh Balitbang Mendiknas baru-baru ini menjelaskan bahwa guru-guru yang layak mengajar untuk tingkat SD, baik negeri maupun swasta di Indonesia ternyata hanya mencapai 28,94 persen, guru SMP Negeri 54,12 persen, swasta 60,99 persen, guru SMA Negeri 65,29 persen, swasta 64,73 persen, guru SMK negeri 55,91 persen, dan guru SMK swasta mencapai 58,26 persen. Dari kekurangan-kekurangan inilah sudah barang tentu setiap komponen di negara ini harus berperan menambal dan mencari solusinya.

Bak oase di padang tandus, harapan kebangkitan guru yang menyegarkan terlihat geliatnya akhir-akhir ini di tengah kelabakannya mencari pemantik yang menjanjikan. Sedikitnya 31 titik yang tersebar di sepuluh provinsi yang berbeda di Indonesia pada hari Minggu, 12 Maret 2017 lalu serentak guru-gurunya mengadakan kuliah umum rangkaian pembinaan School of Master Teacher, Sekolah Guru Indonesia.

Meliputi SGI Pankepdan Makassar (Gabungan Sulsel), SGI Tubi Taramanu Polewali Mandar (Sulbar), SGI Monta Bima (NTB), SGI Mataram dan Lombok (Gabungan NTB), SGI Pulau Sebatik Nunukan (Kaltara), SGI Ponorogo (Jatim), SGI Depok (Jabar) dan Pandeglang (Banten), SGI Musi Rawas Utara (Sumsel), SGI Palembang (Sumsel), SGI Medan (Sumut), SGI Batam (Kepulauan Riau), SGI Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), serta SGI Lima Puluh Kota dan Tanah Datar (Sumatera Barat).

Sekolah Guru Indonesia (SGI) adalah salah satu jejaring divisi Dompet Dhuafa University yang berkomitmen melahirkan guru transformatif yang memiliki kompetensi mengajar, mendidik, dan berjiwa kepemimpinan sosial. Sejak tahun 2009, Sekolah Guru Indonesia telah membina sebanyak 1148 guru melalui berbagai macam program unggulannya yang diselenggarakan secara gratis.

Meliputi School of Master Teacher untuk guru-guru daerah, dengan masa pembinaan selama tiga bulan, School for Principle (sekolahnya para kepala sekolah Indonesia), Professional Class untuk para fresh graduate calon guru dengan masa pelatihan 3-15 bulan dan penempatan perjuangan pendidikan marginal daerah terluar, terdepan, dan tertinggal di Indonesia selama satu tahun.

Perjuangan Sekolah Guru Indonesia dalam upaya peningkatan kualitas guru-guru di Indonesia ini patut dicontoh oleh segenap civitas pendidikan di Indonesia. Guna visi pendidikan Indonesia, yaitu terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, berakhlak, berkeahlian, berdaya saing, maju dan sejahtera dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, bertakwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berdasarkan hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin dapat tercapai. (Tulisan ini dikirim oleh Riki Wirahmawan S.Si, Bogor)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...