CERITA ANDA

Meredupnya Era Musik sebagai Bentuk Kritik

Jiwa mengkritik melalui media musik sudah memudar.
Meredupnya Era Musik sebagai Bentuk Kritik
Ilustrasi Musik (Pixabay/Pate Linforth)

VIVA.co.id – Sepertinya mayoritas para musisi di Indonesia sudah merasa nyaman dengan keadaan atau realita-realita sosial yang ada di Indonesia. Sehingga lupa dengan membuat suatu karya yang dibalut dengan alunan nada yang dapat menggerakkan para pendengar untuk bersimpati atau berempati terhadap suatu hal atau peristiwa. Saya rasa, jiwa mengkritik melalui media musik sudah memudar dalam jiwa para musisi. Walau masih ada yang terlihat untuk meneriakkan aspirasi pun hanya berada di jalan yang sepi.

Melihat fenomena masa kini, saya rasa perlu ada gebrakan dari para musisi untuk lebih atraktif. Agar dapat mewakili aspirasi yang menjadi solusi dari regulasi yang dirasa kurang tepat untuk diterapkan. Menurut saya, cara yang efektif untuk menyuarakan aspirasi selain menggelar aksi ialah dengan musik.

Seperti kata Plato, musik merupakan seni surgawi yang mampu menyentuh perasaan. Hal ini terbukti pada Robert Nesta Marley, yang mempunyai nama panggung Bob Marley, yang dapat mempersatukan ras kulit hitam dan putih di dunia. Yang menjadikannya mendapat medali perdamaian dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) atas karya-karyanya yang mempromosikan perdamaian pada tahun 1978.

Dewasa ini kian terlihat kancah musik nasional sedang bergelora dengan hadirnya banyak band-band baru yang bermunculan, baik indie maupun tidak. Bahkan dengan tenarnya kembali band-band lama bak putri salju yang terbangun dari tidur panjangnya. Seperti Sheila on 7, Naif, The Adams, yang mulai bersinar kembali.

Tetapi bergeloranya para musisi ataupun band-band tersebut tidak dibarengi dengan karya-karya yang dapat merangsang pendengarnya untuk bersimpati atau berempati terhadap suatu fenomena atau peristiwa. Justru industri musik era kini seperti menganut ideologi kapitalisasi dalam kemunculannya. Hal ini terlihat pada tatanan busana, gaya rambut, atau produk-produk tertentu.

Bahkan sangat terlihat jelas karya-karya musisi maupun band-band nasional, materi lagu-lagunya tak lebih dari sekadar percintaan belaka. Hal ini yang membahayakan. Mengapa? Karena musik merupakan konseptualisasi dari diri manusia. Yang maksudnya, lirik maupun nada yang bersumber dari suatu lagu akan direspon oleh otak dan diresapi oleh jiwa sehingga melahirkan penghayatan.

Seperti halnya dengan teori kultivasi media, yang mendeksripsikan bahwa media menghasilkan sebuah dampak di mana ada sebagian masyarakat yang menganggap dunia nyata (kehidupannya sehari-hari) berjalan sesuai dengan dunia yang digambarkan oleh media. Ataupun sebaliknya, menganggap bahwa dunia dalam media itu adalah realita. Jika dianologikan ke dalam sebuah lagu (percintaan), pendengar akan menganggap kehidupannya seperti ke dalam sebuah alunan lirik sebuah lagu cinta.

Hal ini yang dapat menumbuhkan mental melayu bagi para pendengar, terutama anak kecil yang sudah mulai terkontaminasi dengan alunan musik seperti itu. Maka tak jarang dapat dijumpai seorang anak usia SD yang sudah mempunyai pacar.

Melihat keadaan pasar, mungkin hal ini yang dikiblati sebagai materi utama dari album-album mereka. Apa mungkin karena kita memang benar melayu, yang suka mendayu-dayu, atau  apa memang karena kuping melayu, suka yang sendu-sendu? Yang merupakan penggalan lirik “Cinta Melulu” dari Efek Rumah Kaca.

Lagu Cinta Melulu merupakan bentuk dari sebuah kritikan terhadap industri musik yang sedang berkiblat pada persoalan percintaan. Lagu ini sangat populer di kalangan anak muda yang menyebabkan kepopuleran Efek Rumah Kaca juga naik. Memang saya akui, Efek Rumah Kaca merupakan band yang vokal dalam menyuarakan kritikan. Baik untuk pemerintah, fenomena sosial, dan sebagainya.

Dapat dilihat dari karya-karyanya yang berjudul Mosi Tidak Percaya, Cinta Melulu, dan Hijau. Walaupun karya tersebut mengindikasikan sebuah kritikan, tetapi sang vokalis Cholil Mahmud, menerangkan bahwa karya mereka tidak bermaksud untuk mengkritik. Awalnya hanyalah representasi kegelisahan yang ternyata menghasilkan sebuah karya seperti itu.

Mungkin cara tersebut dapat ditanamkan dalam jiwa para musisi Indonesia, agar dapat menghidupkan kembali jiwa kritik masyarakat terhadap kinerja pemerintah. Agar pemerintah dan masyarakat dapat bersinergi membangun Indonesia ke arah yang lebih baik.

Walau Indonesia sempat dipimpin oleh rezim Orde Baru yang totalitarian. Keberadaan untuk berpendapat sangatlah suatu hal yang berbahaya, apalagi dengan mengkritik. Tetapi kita patut bangga terhadap musisi-musisinya yang melahirkan karya dengan berani untuk  mengkritik pemerintah saat itu. Iwan Fals misalnya, salah satu yang sangat vokal mengkritik rezim tersebut.

Banyak karya yang dihasilkan dari musisi yang akrab dipanggil Bang Iwan ini. Menurut saya, ia  lebih dikenal sebagai sosok musisi yang pemberani. Buktinya, pada zaman Orba. Dimana berpendapat bagi sebagian kalangan masih terasa segan, berbeda halnya dengan Bang Iwan ini. Ia malah melahirkan sebuah karya yang menampar pemerintah pada masa itu. Salah satu karyanya ialah Bento. Karya tersebut disinyalir bentuk suatu reprenstatif Bang Iwan terhadap Bapak Soeharto.

Selain Bento, ada Galang Rambu Anarki, Jangan Bicara, dan masih banyak lagi yang menjadi karya kritikan beliau. Dengan menggunakan diksi kata yang mudah dicerna, dan alunan musik yang bersinergi, karya Iwan Fals dapat menumbuhkan gelora semangat bagi pendengarnya. Maka dari itulah pada tahun 2002, Bang Iwan terpilih oleh majalah Time menjadi kategori Asian Heroes.

Pada masa kini, memang para musisi mulai mengikuti tren pasar dengan meninggalkan musikalisasi kritik. Tetapi sebagian musisi masih berada pada jalannya, walau hanya berada di sisi yang sepi. Salah satunya dari jalur Indie, selain Efek Rumah Kaca, karya dari Banda Neira yang berjudul “Tini dan Yanti” merupakan karya yang patut diapresiasi menurut saya.

Lagu tersebut diciptakan oleh mantan tahanan politik 65, yang diadopsi kembali oleh Banda Neira yang baru saja dirilis albumnya pada 30 Januari lalu. Lagu tersebut patut diapresiasi karena dapat menghadirkan nuansa tahun politik 65 tersebut. Salah satu penggalan liriknya ialah “La historia me absolvera”, kalimat dalam bahasa Spanyol yang artinya “Sejarah akan membebaskanku”.

Industri musik nasional saat ini memang berkiblat pada pasar dan pengusaha. Tetapi yang perlu ditekankan di sini ialah perlu adanya inisiatif dari para musisi untuk merevolusi industri musik nasional. Musikalisasi kritik itu perlu dilahirkan. Di samping untuk mengoreksi kinerja pemerintah, kritikan dalam bentuk balutan nada tersebut akan menghidupkan jiwa-jiwa kritik di masyarakat.

Sebagian masyarakat memandang musik hanya sebagai sarana hiburan dan alat bersenang-senang. Padahal lebih dari itu, musik mampu membuat suatu negara memiliki kekuatan yang besar serta kejayaan. Sebaliknya, musik juga mampu mendorong kejahatan dan meruntuhkan Pemerintahan seperti kata Plato. (Tulisan ini dikirim oleh Achmad Al Fiqri)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...