CERITA ANDA

Perihnya Berburu Rupiah di Sisi Gelap Ibu Kota

Ia membulatkan tekad untuk bisa keluar dari lingkaran setan itu.
Perihnya Berburu Rupiah di Sisi Gelap Ibu Kota
Tempat hiburan malam. Foto ilustrasi. (photobucket.com)

VIVA.co.id – Memang masih terlalu pagi bagi Nurul Apriliani yang baru berusia 18 tahun untuk membulatkan tekad bekerja di sebuah klub di bilangan Jakarta Selatan. Klub malam yang sampai saat ini tidak lepas dari stereotip binalnya wanita yang ada di dalamnya.

Setelah lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada tahun 2013, akhirnya Nurul pun bisa bernapas lega, layaknya terbebas dari cekikan kuat. "Masa-masa SMA adalah masa yang paling indah". Sontak saat mendengar kata-kata itu Nurul hanya bisa tutup telinga rapat-rapat. Karena realita yang dihadapinya adalah kata-kata kasar dan cemooh pedas yang harus ia telan setiap harinya.

Teman-teman Nurul mengejeknya karena ia tidak tampil bergaya layaknya kebanyakan siswi-siswi di sana. Rambut ikal pendek yang selalu diikat, tubuh agak gemuk, dan seragam kebesaran membuat Nurul terpojokkan.

Layaknya sebuah dendam, Nurul bertekad untuk mengubah penampilannya. Dan ia ingin mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang banyak. Mata Nurul tertutup tekadnya yang berapi-api, sehingga Nurul justru melamar pekerjaan di sebuah tempat hiburan malam.

Sayangnya, kekecewaan gadis berdarah Betawi ini masih tetap berlanjut. Nurul tidak diterima bekerja di tiga tempat hiburan malam. Karena soal fisik yang tidak memenuhi standar.  "Gila yeh! Gue kira nyari kerjaan gampang. Syarat masuk kerja di diskotik aja pake segala muka mulus, rambut terawat. Ngina banget sih, dari dulu orang-orang kerjanya ngatain fisik mulu!" ucap Nurul yang kesal dengan kejadian yang dialaminya.

Akhirnya, dalam waktu dua bulan setelah kejadian penolakan itu Nurul melakukan perawatan. Setidaknya untuk tampil lebih fresh dengan memadupadankan baju masa kini. Nurul pun kembali melamar di klub yang dua bulan lalu tidak menerimanya. Intonasi suara yang pede pun terdengar dari mulut Nurul saat diwawancarai langsung. Dan tanpa banyak basa basi, akhirnya Nurul diterima bekerja di salah satu klub malam di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

Sempat muncul pertanyaan di benak Nurul, bagaimana jika orangtua dan kakak laki-laki Nurul menanyakan apa pekerjaan yang ia kerjakan. Jam kerja Nurul berbeda dengan jam kerja orang kebanyakan. Nurul harus berangkat pukul 5 sore dan pulang saat subuh menjelang.

Siang itu, Nurul tidak sabar untuk memberitahukan ibunya bahwa tepat hari Jumat ia sudah dapat bekerja. "Assalamualaikum Mak, Nurul diterima kerja di restoran di Kemang. Nurul seneng banget.  Emak lihat ya, Nurul bakal berubah jadi cakep. Kalau nanti sudah gajian, Nurul bakalan perawatan tubuh," ucap Nurul siang itu pada sang ibu dengan wajah yang sumringah.

Nurul lega sudah memberikan kabar baik itu kepada ibunya. Pesan ibunda pun tidak muluk-muluk yaitu Nurul harus bisa jaga diri dan jangan bikin malu keluarga. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Nurul pun bersiap-siap untuk bekerja. "Mak, Beh, Abang, Nurul bakal berangkat jam segini terus, jam 5-an. Karena Nurul dapatnya shift malam di restoran tempat Nurul kerja," pamit Nurul kepada keluarganya yang sedang berkumpul dan duduk di balai bambu.

Setelah sampai di tempatnya bekerja, Nurul diberi seragam berupa kemeja hitam ketat, rok mini yang terlalu mini, serta stocking hitam yang menggoda.  "Ini seragam lu. Kemaren lu bilang ukurannya M kan? Oh iya, itu nanti kemejanya jangan rapet-rapet kancingnya, lu buka sampe 2 juga nggak apa-apa,” Itulah pesan kapten bar atau atasannya saat memberikan seragam pada Nurul. Tuntutan pekerjaan memaksanya bertingkah layaknya wanita setengah binal yang harus selalu tersenyum. Hanya untuk membuat para tamu betah atas pelayanan di dalam klub.

"Black Label satu botol buat kita-kita, nggak pake lama ye," teriakan segerombolan laki-laki berusia 30 tahunan terdengar di ujung table sebelah kiri. Diiringi dengan tawa haha hihi yang kian mengencang. Entah mereka sedang menertawakan apa. Kondisi ini membuat Nurul seperti seseorang yang baru memasuki hutan sendirian. Nurul kerap kali bingung dengan keadaan ini. Mereka seperti binatang yang meraung tanpa sebab.

Karena ini hari pertama Nurul bekerja di klub. Ia pun membawa botol minuman dengan sangat hati-hati. "Ini harganya mahal, lu hati-hati kalo ngasih ini ke tamu. Kalo pecah, kelar hidup lu!" Begitulah ucapan seorang bartender yang justru malah membuat langkah Nurul seolah-olah berjalan dengan tumpukan buku di kepala.

"Aarrgghh..! Susah amat sih! Kenapa juga nih om-om pada pesen di table paling pojok? Di sini udah gelap, banyak orang-orang yang joget di second floor, jogetnya maju mundur. Tangan kiri bawa botol minuman, tangan kanan pegang rokok, sambil tertawa-tawa kayak orang gila. Ini hari pertama kerja kenapa jadi susah amat yah buat jalan. Belum pernah gue bawa minuman alkohol sebotol gede begini. Ini kerjaan haram kali ya, makanya langkah gua kagak berkah. Enggak apa-apalah selagi bukan kerja sebagai pelacur," begitulah keluhan Nurul saat pertama kalinya mengantar minuman malam itu.

Setiap malam Nurul menanyakan minuman beralkohol apa yang akan diinginkan tamu yang datang. Nurul harus menawarkan dengan wajah senyum dan tampilan kemeja hitam ketat yang kancing bajunya terbuka dua, serta rok mini lengkap dengan stocking hitam.

Lama kelamaan Nurul terbiasa dengan tamu serta kelakuan gila para tamu yang datang setiap malamnya. Tak terasa sudah tiga bulan Nurul bekerja. Karena Nurul harus berangkat jam 5 sore dan pulang subuh, membuat kakak laki-laki Nurul pun curiga dengan pekerjaan adiknya. Tepat jam 10 malam ia menghampiri tempat di mana Nurul bekerja.

Beruntungnya, saat itu Nurul sedang bertugas di area restoran. Karena memang ada beberapa klub di bilangan Kemang yang struktur bangunannya memiliki dua lantai. Termasuk tempat di mana Nurul bekerja. Yaitu lantai pertama untuk restoran dan lantai kedua untuk klub yang dibuka pukul 11 malam sampai subuh.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...