CERITA ANDA

Kesabaran Tanpa Batas Seorang Ibu

Kita cukup saling menyayangi agar kuat menjalani takdir-Nya.
Kesabaran Tanpa Batas Seorang Ibu
Ilustrasi ibu dan anak. (U-Report)

VIVA.co.id – Sedari bayi menuju balita, hingga tumbuh menjadi dewasa, semua kebutuhan selalu saja disediakan oleh ibu. Ibu dari empat anak yang berjuang sendiri membesarkan buah hatinya, karena ditinggal suami ke Jepang untuk mengais rezeki di sana.

Berawal dari suaminya yang pergi dan ia harus melewati lima tahun tanpa kasih sayang dan cinta. Tapi di satu sisi, anak-anaknya sudah semakin tumbuh besar. Beliau menggandakan posisinya sebagai ibu sekaligus ayah bagi kami. Mungkin saja tidak pernah terpikir di benaknya melihat kenyataan bahwa suaminya tidak bisa melihat anak-anaknya tumbuh dewasa. Atau tidak pernah mengira bahwa anak-anaknya sudah lupa bentuk wajah ayahnya seperti apa.

Kami berempat akhirnya tumbuh dewasa. Tiga belas tahun hanya ditemani ibu. Sosok ayah pun pudar di kehidupan kami. Tapi setiap kami melupakan hal itu, ibu selalu saja menguatkan kami dengan mengatakan, “Ayah kalian sedang bertarung untuk kehidupan kita”.  Dia adalah seorang ibu dan istri yang setia menunggu. Menunggu anak-anaknya dewasa dan menunggu suaminya untuk pulang ke rumahnya.

Ibu adalah ibu yang mencintai anak-anaknya. Apapun kesalahan terbesar anak-anaknya, beliau yang paling sabar menghadapi segala macam ujian-Nya. Setelah sekian lama berjuang dan berdoa, pada tahun ke-15 akhirnya yang beliau tunggu-tunggu kembali ke pangkuannya yaitu suaminya, ayah dari anak-anaknya.

Namun bagi kami berempat itu adalah hal yang biasa-biasa saja. Tapi jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, aku punya mimpi untuk bisa berkumpul satu atap dengan ayah, ibu, dan ketiga saudaraku. Dan ternyata impian itu terwujud di tahun 2014 lalu. Kami pun dapat berkumpul.

Hanya saja kebahagian kami tidak utuh. Karena ternyata aku sudah memiliki adik tiri. Lagi-lagi ibu yang menguatkan kami dan mengajarkan kami untuk berlapang dada. Beliau mengatakan bahwa takdir tidak ada yang bisa melawannya, kita cukup saling menyayangi agar kuat menerima takdir-Nya. (Tulisan ini dikirim oleh Fitrah Arini Syam, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...