CERITA ANDA

Sang Penggagas Perang Tomat di Kampung Cikareumbi

Hasil panen sayuran terutama tomat sangat melimpah.
Sang Penggagas Perang Tomat di Kampung Cikareumbi
Abah Nanu, penggagas perang tomat.

VIVA.co.id – Nanu Munajar Dahlan yang lahir di Subang pada 6 Desember 1960 adalah seorang koreografer sekaligus penari tarian tradisional. Ia lulusan dari Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung, Jawa Barat. Nanu kemudian melanjutkan pendidikan S2 Ilmu Humaniora di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Seusai menimba ilmu di Universitas Gadjah Mada, Nanu berkesempatan menjadi dosen seni tari STSI. Nanu Munajar Dahlan pertama kali tertarik dengan seni tari-tarian ketika dia melihat bahwa di zaman yang modern ini semakin menggerus keberadaan tarian tradisional. Kegiatan sehari-hari bukan hanya sebagai sesepuh desa saja, tetapi beliau juga mengajar sebagai dosen tari dayak di STSI. Dialah tokoh yang menjadi penggagas Perang Tomat di Kampung Cikareumbi.

Abah Nanu menyatakan hasil panen sayuran terutama tomat sangat melimpah dan patut disyukuri. Salah satu cara mensyukuri rezeki dari hasil bumi masyarakat Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat adalah dengan mengadakan perang tomat. Sejarah perang ini awalnya karena banyaknya tomat busuk pada musim panen tahun 2011 lalu. Karena dibiarkan, akhirnya menjadi busuk. Lalu warga berpikir bagaimana cara agar tomat ini bisa bermanfaat.

Nah, daripada dibuang, akhirnya sejak tahun 2012 tomat-tomat yang busuk ini menjadi peluru yang digunakan dalam perang tomat,” ungkap Abah Nanu, Rabu (19/10/2016). Dari sejak tahun itulah, setiap tahun warga kampung Cikareumbi rutin menggelar perang tomat yang tidak hanya diikuti oleh warga setempat saja, namun para penonton juga ikut larut dalam perang-perangan ini.

Meski perang ini hanya berlangsung selama setengah jam, namun ribuan tomat dapat membuat jalanan memerah dibanjiri tomat pecah. Serta menebar bau asam menyengat karena tomat dilemparkan sekenanya. Tomat dilempar oleh dua tim yang masing-masing berjumlah 10 orang. Mereka mengenakan baju pangsi warna hitam, lengkap dengan helm dan tameng yang terbuat dari anyaman bambu.

Sebelum perang tomat yang merupakan acara puncak, terlebih dahulu dilakukan arak-arakan yang mengusung berbagai hasil panen sayuran. Seperti tomat, kol, brokoli, buncis, umbi-umbian, terong, lalapan, dan lainnya. Hasil panen tersebut diwadahi dalam tandu yang dihias sedemikian rupa dengan iringan musik tradisional dengan mengitari perkampungan warga. (Tulisan ini dikirim oleh Abdu Aziz Faturochman dan Refi Ardiansyah, Mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...