CERITA ANDA

Perjalanan Hidup Ibuku

Pesan ibu menjadi motivasiku dalam menjalani kerasnya kehidupan.
Perjalanan Hidup Ibuku
Ilustrasi ibu dan anak. (U-Report)

VIVA.co.id – Matahari masih sembunyi di dalam peraduannya. Udara dingin menusuk kulit mulai menghampiriku, tapi aku masih enggan membuka mata. Aku masih saja tak ingin beranjak dari ranjang yang seakan memeluk tubuhku. Tak pernah bosan, setiap paginya seorang wanita paruh baya dengan ketulusan yang terpancar dari wajahnya, mencoba membangunkan tidurku. Terdengar suara lembut yang membuatku tersentak ingin membuka mata. “Bang, bangun. Mandi, habis itu salat subuh.”

Walaupun masih terasa berat membuka mata, aku mencoba bangun. Bergegas ke kamar mandi, lalu mengambil air wudu. Setiap paginya, ibu membangunkan anak-anaknya dan menyajikan sarapan yang sangat lezat. Selepas membuat makanan untuk anak-anaknya dan ayah, ibu selalu menyiapkan keperluan kami untuk melakukan aktivitas.

Ibuku adalah seorang lulusan Sekolah Menangah Atas Negeri di Jakarta, yang saat ini menghabiskan waktu luangnya hanya untuk menjadi ibu rumah tangga. Kegiatan sosialnya hanya mendekatkan diri kepada sang pencipta dan pengajian bersama ibu-ibu yang lain. Di balik ketelatenan dan ketabahan ibu, dulu ia dibesarkan di tengah keluarga sederhana oleh H. Abdul Rahim dan Hj. Sani. Mereka memenuhi kebutuhan dan menyambung hidupnya dengan mengandalkan kontrakan-kontrakan miliknya. Karena kami asli warga Jakarta, dan kakek adalah seorang guru di salah satu SD.

Ibuku Dewi Handayani adalah anak ke 6 dari 7 bersaudara. Setelah lulus SMA ibu berkerja di PT. Alam Multi Sari Selam. Selama empat tahun ibu bekerja sebagai collection. Ibuku dipinang oleh seorang lelaki yang memilih ia sebagai istrinya. Seorang wiraswasta yang saat itu bekerja di Bank INA. Lelaki itu bernama H. Ahmad Sauki. Seorang lelaki asli dari Jakarta, anak dari pasangan H. Murtaba dan Hj. Mutiah.

Perkenalan ayah dan ibuku dimulai sejak SD, ayahku adalah kakak kelas ibu saat itu. Ayah dan ibuku menikah pada tanggal 14 Februari 1988, dan tinggal bersama dengan mertuanya. Setelah 1 tahun menikah, mereka dikaruniai seorang anak bernama Wina Nirmala Sari yang menjadi kakakku saat ini. Dan enam tahun setelah itu mereka diberi kesempatan lagi mendapatkan buah hati laki-laki, yaitu saya, Andika Zikri Hakim. Setelah cukup lama menanti, akhirnya dilahirkan anak perempuan yang sekarang menjadi adikku.

Ibu selalu sabar membesarkan kami semua, dengan penuh kasih sayang dan cinta. Ibuku selalu berpesan kepada anak-anaknya, “Jangan pernah takut untuk mencoba, harus selalu ingat Tuhan dan orangtua, dan selalu sopan dan santun sama orang lain.” Itulah yang menjadi motivasi aku dan saudara-saudaraku dalam menjalani kerasnya kehidupan.

Walaupun pendidikan ibu tidak setinggi dan sehebat teman-temannya, ia memiliki tekad untuk membesarkan anaknya menjadi sarjana-sarjana yang berguna nantinya. Tentu saja saat itu ibu memiliki kebanggaan tersendiri dalam hidupnya, yang dijadikan motivasi bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Itulah cerita singkat perjalanan hidup ibuku selama ini. (Tulisan ini dikirim oleh Andika Zikri Hakim, mahasiswa Universitas Nasional, Jakarta)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...