CERITA ANDA

Mbah Leman, Bertahan Hidup dengan Menjadi Tukang Urut

4 dari 5 anaknya memiliki keterbelakangan mental.
Mbah Leman, Bertahan Hidup dengan Menjadi Tukang Urut
Mbah Leman

VIVA.co.id – Berawal dari matahari yang mulai menyinari bumi, terlihat sosok ibu tua yang sudah renta ini keluar dari rumah yang sedari dulu ia tempati. Tua dan renta, adalah kesan pertama saat baru pertama kali melihat sosok nenek tua yang sedang berjalan mencari alamat rumah. Bukan untuk meminta-minta, melainkan untuk memulai aktivitas yang sudah biasa dilakukannya sejak 30 tahun silam.

Di umur yang sudah seharusnya hanya menikmati hasil jerih payahnya dulu, tapi hingga saat ini ia masih disibukkan dengan segala aktivitas untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mbah Leman, begitu beliau akrab dipanggil sehari-hari. Nenek yang sudah berumur 75 tahun ini memang tidak pernah putus asa untuk mencari secercah rezeki demi menghidupi suami dan kelima anaknya. Bukan karena terpaksa, tetapi memang itu yang harus dilakukan agar beliau dan keluarga bisa bertahan hidup.

Memang bila melihat kondisi keluarga ini sama seperti layaknya keluarga biasa. Ada ibu, ayah, dan anak-anaknya. Tapi ternyata terdapat satu keprihatinan di dalam keluarga yang utuh ini. Hanya 1 dari 5 anaknya yang normal, sedang 4 lainnya memiliki keterbelakangan mental. Tetapi hal ini tak membuat sang nenek tua putus semangat. Beliau hanya bisa terus melakukan aktivitasnya demi membantu sang suami yang sudah tidak bekerja kembali.

“Memang sudah takdir Tuhan saya diberi anak seperti ini. Kalo sudah dikasihnya begini, Nenek tidak bisa protes atau marah,” ujar sang nenek. Tak banyak hal yang dapat dilakukan oleh nenek yang sudah menginjak usia tua seperti Mbah Leman saat ini. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki oleh nenek 75 tahun ini, beliau hanya bisa memanfaatkannya dengan menjadi tukang urut keliling di sekitar perumahannya saja.

Bukan hanya itu, terkadang beliau juga mendapat panggilan untuk dimintai bantuan memandikan bayi di pagi hari. Dengan hanya bermodalkan sisa-sisa tenaga dan pengalaman yang dimiliki olehnya, beliau tak segan-segan untuk memenuhi panggilan tersebut.

“Kadang-kadang kalau pagi, Mbah suka disuruh buat mandiin bayi. Mengurut bayi juga ada, tapi tidak banyak. Paling-paling hanya yang biasa Mbah tangani saja. Sekitar 1-2 bayi sehari. Lalu kalau sudah agak siang, Mbah suka diminta untuk mengurut orang dewasa. Sampai malam juga Mbah masih mau kalau ada yang minta buat urut,” ucap sang nenek dengan terpatah-patah.

Memang tidak banyak upah yang didapat dari jerih payah yang beliau lakukan sehari-hari. Tapi hebatnya, beliau masih bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Tak hanya itu, meski tak sepenuhnya dari hasil yang dihasilkan sang nenek, beliau juga berhasil merenovasi rumahnya. Yang awalnya sudah tak layak huni, hingga menjadi terlihat bagus.

Sudah 30 tahun beliau menjalani berbagai aktivitas hingga saat ini. Tak banyak keluhan yang terucap dari mulut Mbah Leman. Hanya saja tersirat sebuah harapan untuk dirinya kelak. Beliau meminta kepada Tuhan agar dirinya selalu diberi kesehatan dan dijauhkan dari macam-macam penyakit.

“Ya, kebanyakan kalau sudah tua pasti ada saja penyakitnya. Apalagi Mbah juga sering mengurut, jadi tenaga yang keluar juga banyak. Mbah cuma minta dikasih sehat saja sama Gusti Allah. Biar bisa mengurut dan uangnya bisa dibelikan makanan buat anak dan suami. Kasihan kalau Mbah sakit. Tidak ada yang bisa dapat uang selain Mbah,” jawab sang nenek yang mulai menitikkan air mata.

“Saya juga sering mendoakan Mbah biar sehat terus. Kasihan kalau lihat Mbah. Sudah tua, tapi masih keliling buat cari uang. Apalagi anak-anaknya punya keterbelakangan mental. Yang bisa saya bantu cuma kasih doa saja,” tutur tetangga dekat Mbah Leman.

Kini, Mbah Leman hanya bisa mensyukuri apa yang diberikan oleh Tuhan. Beliau tidak bisa mengeluh dengan keadaan, apalagi memprotes. Yang bisa dilakukan hanyalah terus berdoa dan berusaha. Agar beliau selalu diberi kesehatan, ketabahan, dan kemurahan rezeki oleh Tuhan yang Maha Esa. (Tulisan ini dikirim oleh Al Hafiz dan Wisnu Hadi Kusuma, mahasiswa Fikom, Universitas Pancasila, Jakarta)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...