CERITA ANDA

Pahlawanku yang Sesungguhnya

Miris melihatnya mengangkat berpuluh kilogram baut di pundak.
Pahlawanku yang Sesungguhnya
Ayah dan Anak (Pixabay/ Ulilink)

VIVA.co.id – Hidup itu adalah sebuah tantangan bagi siapapun yang menjalaninya. Tidak kenal lelah, putus asa, dan terus maju. Sejenak kata-kata itu muncul melejit di otakku. Persis dengan apa yang pernah dikatakan oleh ayahku beberapa hari kemarin. Ayahku bernama Effendi. Ya, hanya itu saja, tak ada embel-embel lain lagi di belakangnya. Beliau lahir pada tanggal 7 Juli 1964 di Bogor, tepatnya di Desa Gunung Bunder, Jawa Barat. Beliau adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kakak dan dua adiknya adalah perempuan.

Ayahku hanya mengenyam bangku pendidikan hingga SMA. Bukan karena tidak dapat membiayai ke jenjang selanjutnya, melainkan memang idealisme yang tinggi pada diri ayahku. Sehingga ia memutuskan untuk segera bekerja. Padahal saat itu kakekku ingin sekali melihat anaknya menjadi seorang sarjana.

Kemantapan ayahku untuk bekerja sangatlah tinggi. Seminggu setelah hari kelulusannya, beliau pergi merantau ke Batam. Padahal ia sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di kota seribu industri tersebut. Di sana ia juga tidak memiliki kerabat ataupun saudara yang ia kenal. Hanya sebatang kara.

Perjalanan karir ayahku dimulai dengan menjadi seorang sopir di perusahaan es krim. Hanya dengan pendapatan sebesar 30 ribu rupiah pada tahun 80-an, beliau sudah sangat senang. Dari mulai mengantarkan es krim antar kota, hingga antar pulau telah beliau lalui. Lima tahun sudah ayahku tinggal di Batam. Kerinduan yang semakin tebal menyelimuti ayahku untuk memutuskan kembali ke kampung halamannya, Bogor.

Tak lama setelah kembali, keluarga ayahku mengalami musibah. Usaha bangunan milik kakekku bangkrut, area perkebunan rusak akibat hama tikus yang kian merajalela, serta nenekku yang sedang sakit-sakitan. Keadaan semakin kacau ketika tahu bahwa adik bungsu ayahku hamil di luar nikah. Kehidupan yang tadinya serba mudah, kini seketika berbalik 180 derajat menjadi kemelaratan.

Bencana yang sedang menggelayuti keluarga ayahku tak membuatnya untuk berlarut-larut dalam kesedihan. Ya, ayahku segera bangkit! Ia memutuskan untuk pergi merantau ke ibukota. Di Jakarta, beliau memulai lembaran baru menjadi seorang montir di salah satu perusahaan baut. Sedikit demi sedikit ia dapat mengangkat perekonomian keluarganya lagi.

Ayahku adalah seorang yang mempunyai jiwa petualang yang tinggi. Terbukti ia sudah berhasil menaklukkan 21 gunung di Indonesia. Ia pernah berkata kepadaku, "Ketika suatu hari kamu berhasil mencapai puncak gunung impianmu, maka di situlah kamu akan menemukan setangkup kenikmatan yang disuguhkan alam semesta padamu," tuturnya.

Jiwa pendaki yang dimiliki ayahku mengantarkannya bertemu dengan sang pujaan hati, yaitu ibuku. Ibuku bernama Suhartini. Ia tidak cantik, hanya manis. Rambutnya cepak tentara, kulitnya sawo matang, suka petualangan, dan sangat tomboi. Mereka bertemu di puncak Gunung Papandayan. Ayahku sangat mencintai ibuku. Jika ditanya, "Kok Ayah bisa sih cinta banget sama Mama?" Ayahku akan menjawab, "Ayah juga enggak tahu. Pas pertama kali lihat mama kamu, kayak lihat Ranukumbolo. Surga dunia yang dianugerahi Allah. Serasa ingin memilikinya," ucapnya.

Sembilan tahun berkenalan dengan ibuku, membuat Ayah memutuskan untuk meminangnya. Bukan waktu yang sebentar untuk melanjutkan proses ke jenjang yang lebih serius ini. Meskipun ayahku hanya berprofesi sebagai seorang montir, keluarga ibuku sangat menerimanya dengan senang hati. Memang betul, bahwa cinta tidak pandang pangkat, strata atau status sekalipun.

Setahun kemudian, ibuku mengandung. Dapat melahirkan aku merupakan karunia yang tak ternilai harganya dari Allah SWT. Mahligai pernikahan ayah dan ibuku tidaklah mulus. Perilaku Ayah saat masih bujang masih terbawa hingga menikah. Ayahku dulunya adalah seorang pengonsumsi narkoba dan minuman keras. Kehidupan kaum marginal pernah dilalui oleh ayahku saat awal-awal bertandang ke Jakarta. Hingga akhirnya ia bertemu dengan belahan jiwanya.

Perlahan ibuku berhasil membuka mata ayahku. Membuatnya sadar bahwa kehidupan di Jakarta yang keras takkan menjadi lembut bila terlalu terlena dengan keadaan. Dua puluh tahun sudah aku hidup dengan orangtuaku. Banyak hal-hal mengenai kehidupan yang mereka ajarkan padaku. Mulai dari berperilaku sopan terhadap orang lain, menumbuhkan akhlak mulia, serta solusi bagaimana memecahkan masalah dalam hidup telah mereka ajarkan padaku.

Aku adalah anak semata wayang mereka. Satu-satunya kebanggaan dan harapan bagi mereka. Anak perempuan kesayangan ayah. Entah mengapa aku sangat dekat dengan ayahku. Ayahku merupakan seorang yang antik. Ia suka sekali mengoleksi barang-barang antik peninggalan zaman dahulu. Terhitung sudah ada 7 motor Vespa tahun 60-an hingga 80-an milik ayahku yang terparkir di garasi rumah.

Berjibaku dengan mobil box-nya dalam melawan debu dan polusi kota Jakarta merupakan makanan sehari-hari ayahku. Mengantarkan baut, mur, serta ring pesanan perusahaan-perusahaan tetangga. Sesekali aku ikut bekerja dengan ayahku. Melihatnya menyetir mobil box, mengantarkan dan menggendong berpuluh-puluh kilogram baut. Miris sekali aku melihatnya, tak terasa air mata meneteskan duka perih dari mataku.

Seusai bekerja memanggul beberapa kardus baut tersebut, ayah segera duduk di sampingku. Tak terlihat raut lelah dari wajahnya. Justru ia tersenyum manis kepadaku, berusaha tetap tegar di depan anak perempuan kesayangannya dengan melakukan candaan-candaan ringan. Aku tahu jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasakan lelah yang teramat sangat. Namun, diriku tidak pernah malu akan profesi orangtuaku.

Dua puluh tiga tahun sudah ayahku mengabdi pada perusahaan baut tersebut. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya selama ini, akhirnya sekarang ayahku menjadi manajer marketing pada perusahaan itu. Selain menjadi seorang manajer, ia juga tengah merintis usaha outbond di daerah Cikole, Lembang, Bandung. Dan membangun bengkel di daerah Depok.

Hidup itu adalah sebuah tantangan. Dan ayahku berhasil menaklukkan tantangan tersebut. Beliau tak pernah lelah dan putus asa untuk kembali bangkit dan maju demi masa depan dan kebahagiaan keluarganya. Semoga Allah SWT selalu melindunginya di mana pun ia berada. (Tulisan ini dikirim oleh Rinjani Pangestu, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Nasional, Jakarta)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...