CERITA ANDA

Hanya Ada Satu Pasangan Calon di Pilkada Pati 2017

Untuk menang mereka harus meraih 50 persen plus satu suara.
Hanya Ada Satu Pasangan Calon di Pilkada Pati 2017
Pasangan Haryanto dan Saiful Arifin, satu paslon di Pilkada Pati 2017

VIVA.co.id – Pertama kali dalam sejarah Kabupaten Pati, setidaknya setelah tumbangnya Orde Baru, pemilihan Bupati Pati yang kini disebut Pemilukada/Pilbub hanya diiikuti satu pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil Bupati.

Setelah diketahui pendaftar hanya satu paslon, yaitu Haryanto (petahana bupati) dan Saiful Arifin, maka sesuai surat edaran KPU Pusat, KPU Pati memperpanjang masa pendaftaran hingga 4 Oktober 2016. Namun, sampai masa perpanjangan berlalu, tidak muncul paslon lagi.

KPU Pati menetapkan, Pilkada Pati yang akan berlangsung 15 Februari 2017 nanti hanya diikuti satu paslon yaitu Haryanto-S. Arifin. Dengan ketentuan, paslon ini harus melawan ‘kotak kosong'. Mereka bisa dinyatakan menang jika meraih 50 persen suara plus satu suara.

Ada yang merasa paslon tunggal dianggap relatif mudah menang, sebab tanpa lawan. Tapi jika dihitung dari persentase kemenangan yaitu 50 persen plus satu suara, itu bukanlah hal mudah. Apalagi di arus bawah, kini ada gerakan senyap untuk memilih kotak kosong. Dibanding jika paslon lebih dari satu, sepertinya akan relatif lebih ringan. Sebab, untuk memperoleh kemenangan, paslon hanya cukup mengumpulkan 30 persen suara dari jumlah pemilih.

Kekuatan parpol Pati terefleksi di keanggotaan DPRD yang terdiri dari 50 kursi. Di mana PDIP sebagai pemenang Pemilu 2014 dengan delapan kursi. Ketua DPRD pun dipegang kader PDIP. Walaupun Gerindra juga punya delapan kursi. Malah fraksinya lebih besar karena plus 3 kursi dari PPP yang bergabung.

Haryanto-S. Arifin diusung PDIP (8 kursi), Gerindra (8 kursi), Demokrat (6 kursi), Golkar (6 kursi), PKB (6 kursi), PKS (5 kursi), Hanura (4 kursi), PPP (3 kursi) dengan total 46 kursi. Seluruh kekuatan parpol Pati nyaris berpihak pada paslon itu. Cuma Nasdem (4 kursi) yang bertahan dalam prinsip enggan berpihak pada siapapun.

Saat KPU Pati memperpanjang pendaftaran, Nasdem diprediksi akan melakukan gerakan masif dengan mendekati salah satu parpol pengusung paslon Haryanto-S. Arifin, hingga bisa mengusung paslon. Prediksi itu ternyata meleset dan tumbang oleh kekokohan sikap Nasdem.

Kehadiran S. Arifin, new comer di Pilkada Pati cukup mencengangkan. Ia langsung mendapat tempat di hampir semua parpol. Padahal sebelumnya lewat selebaran gelap, ia menjadi bulan-bulanan fitnah. Dibilang merebut istri orang, disebut istrinya banyak, dan hal-hal jorok lainnya. Beberapa tokoh parpol Pati menilai selebaran fitnah itu ibarat tabiat anak kemarin sore. Ditebar oknum-oknum berpikiran sempit. Berkompetisi di ajang politik dan demokrasi dengan cara-cara yang jauh dari sikap terhormat.

Sementara Tasiman SH, sesepuh PDIP Pati, mantan Ketua DPC Pati/Ketua DPRD Pati/Bupati Pati yang dibui karena kesandung kasus korupsi, secara langsung atau tidak menyebut PDIP Pati tak lagi punya kekuatan politik. Sehingga tak mampu mengusung kader sendiri di Pilkada 2017. Karena Haryanto dan S. Arifin bukanlah kader PDIP.

Haryanto adalah mantan Sekda Pati. Sedangkan S. Arifin sendiri tak punya basis politik, ia cuma pengusaha. Tapi Ali Badrudin, Ketua DPC PDIP Pati berkata kalau dua nama itu telah bersedia menjadi anggota dan mengantongi KTA PDIP. Jadi mereka adalah kader PDIP.

Yang pasti PDIP Pati dua kali remuk di Pilkada. Tahun 2012 lalu harusnya menang, posisi Bupati teraih. Tapi sayang ada jegal-jegalan antar kader yaitu Sunarwi (saat itu Ketua DPRD) dan Imam Suroso (DPR/FPDIP). Dan Haryanto pun dapat durian runtuh dengan memenangkan Pilkada dan menjadi Bupati.

Sunarwi, Mudasir, Irianto (mereka anggota DPRD) hengkang dari PDIP Pati. Di Pemilu 2014 mereka lolos jadi anggota DPRD Pati di bawah Fraksi Hanura. Andai mereka tak keluar, PDIP punya 11 kursi. Bisa mengusung paslon sendiri tanpa berkoalisi dengan parpol lain.

Syarat minimal untuk mengusung paslon, sebuah parpol/gabungan parpol harus punya 10 kursi. PDIP Pati kini hanya punya delapan kursi, sehingga terpaksa koalisi dengan parpol lain. Karena secara politis tak punya kekuatan mumpuni, PDIP Pati dipaksa mengusung bukan kader tulen. Inikah pertanda kalau Kandang Banteng Pati ambruk? (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...