CERITA ANDA

Festival Jondang, Tradisi Sedekah Bumi Desa Kawak

Setiap RT mengusung jondang yang berisi berbagai tanaman pangan.
Festival Jondang, Tradisi Sedekah Bumi Desa Kawak
Festival Jondang di Desa Kawak Jepara, upaya melestarikan tradisi budaya leluhur

VIVA.co.id – Festival Jondang di Desa Kawak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, bermula dari prosesi pemberian upeti pada raja. Lalu, jondang berubah fungsi sebagai tempat mas kawin saat seorang pria melamar calon istri. Agar tradisi ini tak luntur, dihidupkanlah melalui festival.

Jondang atau jodhang adalah tandu gantung bertutup di atas dan samping-sampingnya. Berbentuk kotak kayu segi empat, berukuran 1x1 meter. Di dalamnya, diisikan mahar mas kawin atau berbagai jenis hasil bumi (padi/beras dan sayur-mayur), atau harta berharga lainnya.

Kadipaten Jepara dulu merupakan wilayah Kesultanan Islam Demak yang didirikan oleh Sultan Fattah. Setelah Demak surut, kemudian dilanjutkan Kesultanan Pajang, di bawah komando Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir). Kelak akhirnya diteruskan menjadi Kesultanan Mataram yang didirikan Sultan Agung.

Di era kekeratonan, di saat-saat tertentu, para Adipati memberi upeti berupa hasil bumi/harta benda berharga pada Sri Sultan sebagai tanda kesetiaan. Upeti tersebut dimasukkan di ribuan jondang, dipikul berarak-arak selama berhari-hari dari kadipaten menuju ke hadapan raja/sultan.

Sesudah zaman kekeratonan berganti pemerintahan modern, tradisi ‘Jondang Upeti’ lengser dari kehidupan rakyat. Di beberapa pedesaaan, seperti di Kawak, Pakisaji, Jepara, masih berusaha mempertahankan tradisi yang berusia ratusan tahun ini agar tak sirna ditelan zaman dan modernisasi.

Hr. Eko, Lurah Kawak menuturkan, melamar dengan jondang untuk wadah/tempat mas kawin masih dilakukan warganya di tahun 1960-an. Saat itu sering tampak puluhan jondang berisi mas kawin, dipikul ramai-ramai dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita. “Kini, tradisi lamaran dengan jondang sudah tidak ada atau tak lazim. Rakyat pedesaan sudah tersentuh pola hidup modern. Mas kawin berganti wujud. Bukan hasil panen atau emas permata lagi, tapi berupa motor atau mobil. Mana bisa itu dipikul?” ujar Hr. Eko sambil tertawa.

Namun, sebagai pemimpin rakyat di pedesaan, Hr. Eko dan sejumlah tokoh desa merasa prihatin. Sebab jika budaya jondang hilang, artinya tradisi warisan leluhur itu betul-betul dilupakan. Maka akhirnya akan sirna dan tamat di telan zaman. Atas kesadaran itu, lalu dicetuskanlah Festival Jondang.

Pertama kali Festival Jondang diadakan di desa itu lebih lima tahun lalu. Dilaksanakan setahun sekali bersamaan dengan tradisi 'Sedekah Bumi' usai panen raya. Setiap RT diwajibkan mengusung jondang yang berisi berbagai aneka tanaman pangan.

Bentuk jondang tiap RT bervariasi, sesuai kreativitas masing-masing, dan dikumpulkan di Balai Desa Kawak. Lalu jondang diarak ramai-ramai, diiringi tetabuhan tradisional menuju Masjid Agung Desa Kawak sejauh 2 km. Ribuan warga terlibat di keramaian ini dan betul-betul meriah, menyehatkan lahir batin. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...