CERITA ANDA

Pilkada Rasa Pilpres

Kehadiran sosok pemimpin yang siap mengabdi sangat dirindukan.
Pilkada Rasa Pilpres
Cagub dan Cawagub DKI foto selfie di RSAL Mintohardjo. (Istimewa)

VIVA.co.id – Melihat perkembangan dinamika politik menjelang Pilkada DKI Jakarta belakangan ini, suhu politik terasa kian memanas. Berbagai manuver dilakukan oleh elite parpol untuk menentukan jagoannya yang siap bertarung merebut DKI satu. Tidak tanggung-tanggung, para suhu politik kawakan alias politisi senior ikut ambil bagian dalam memainkan strateginya menentukan arah siapa figur yang dianggap layak menandingi Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok selaku calon petahana.

Sontak saja jagat sosial media ramai memperbincangkan situasi terkini terkait peta politik Pilgub DKI dengan nada komentar yang beragam. Ada yang menposisikan diri sebagai pendukung kandidat tertentu. Namun tidak sedikit pula yang hanya menjadikan situasi ini sebagai guyonan dengan joke-joke yang dapat mengundang tawa.

Para pengamat bermunculan. Mulai dari kelas warung kopi hingga kelas elite yang sering muncul di layar kaca. Semuanya membahas peta politik DKI dengan berbagai argumentasi yang mereka miliki. Artinya, situasi politik yang ada telah menjadi santapan masyarakat pada ruang-ruang publik dari masyarakat bawah hingga atas.

Dalam kondisi politik yang memanas seperti ini, tidak salah memang jika ada yang menyebutkan Pilkada DKI rasa Pilpres. Jika melihat irisan politik dan manuver elite yang dilakukan, sepertinya memang terlihat jelas sisa-sisa pertarungan Pilpres 2014 masih dimainkan dalam komposisi yang berbeda.

Terlepas dari memanasnya suhu politik tersebut, menarik rasanya jika kandidat yang sudah resmi ikut bertarung tersebut untuk menyiapkan strategi merebut simpati masyarakat DKI degan cara yang elegan, mendidik, dan sekaligus dapat menjadi pembelajaran politik yang dapat mencerdaskan masyarakat. Dalam sebuah kesempatan, Efendi Ghazali, seorang praktisi dan pakar komunikasi yang sangat peduli dengan perbaikan perilaku kehidupan dalam berbangsa dan bernegara baik dalam ranah politik maupun sosial ikut prihatin atas permainan politik uang yang telah merusak tatanan demokrasi kita dengan budaya yang tidak baik.

Menurutnya, sulit sekali mencari formulasi agar politik uang dalam hajatan politik dapat dihindari di negeri ini. Namun jika saja kita memiliki komitmen bersama untuk mengubah perilaku politik tidak terpuji tersebut, dengan melibatkan para tokoh masayarakat dan agamawan untuk memeranginya, mungkin dapat menjadi solusi.

Jika melihat perebutan kekuasaan yang masih sangat kental dengan pertarungan kepentingan, dapat pula dipastikan kekuasaan hanya dijadikan alat untuk memuluskan kepentingan para elite. Lantas bagaimana nasib rakyat yang sangat mengharapkan ketulusan penguasa?

Meskipun atmosfer politik menjelang pelaksanaan Pilkada DKI saat ini terasa sengit dalam persaingan, tentunya tidak ada salahnya kita berharap pada parpol yang telah mengusung pasangan calon untuk maju pada Pilkada nanti dengan mengikhlaskan mereka sebagai pengabdi pada kepentingan masyarakat jika kelak terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta. Kehadiran sosok pemimpin yang siap mengabdi sangat dirindukan masyarakat.

Sudah lelah masyarakat memakan janji-janji manis saat Pilkada. Namun setelah menang janji seolah terlupakan, dan mereka lebih patuh pada pengamanan kepentingan partai ketimbang melayani dan memberi yang terbaik bagi rakyat yang dipimpin. Semoga Gubernur terpilih nanti dapat menjadi pemimpin yang amanah. (Tulisan ini dikirim oleh Muhammad Dong Ghanie, mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo, Jakarta)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...