CERITA ANDA

Bangunlah Sahabatku

Cerita ini untuk sahabat saya yang sedang koma.
Bangunlah Sahabatku
Sahabatku Isti. (U-Report)

VIVA.co.id – Terasa menyenangkan ketika hari terakhir Pendidikan Sistem Ganda (PSG) sebelum libur hari Sabtu dan Minggu. Seperti biasanya, kami sebagai pekerja Pegawai Negeri Sipil, kalau tidak aku, ya, Dayat yang telat datang. Untungnya hari itu bukan aku, tapi Dayat yang telat. Aku, Laras, dan Isti yang tiba lebih dulu di tempat kami bertugas yaitu KPP Pratama Pangkalanbun. Dilanjutkan Ririn yang kemudian datang, barulah Dayat menyusul.

Kami berjalan bersama menuju pintu belakang kantor untuk mengikuti kegiatan seperti biasanya. Kami pun terpisah, aku dan Laras di bagian seksi pertama yaitu seksi pelayanan, Ririn seksi kedua di bagian lantai bawah, sedangkan Dayat dan Isti di lantai atas atau tepatnya di tingkat tiga.

Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Dan kami pun hanya bertiga yang keluar bersama-sama untuk istirahat karena Ririn sudah pulang duluan. Rupanya Dayat masih di luar menunggu kami. Sewaktu kami pulang, terjadi musibah sedikit. Saat baru keluar gerbang KPP, aku hampir saja tertabrak motor yang penggunanya melawan arah yang ditentukan. Tapi untungnya aku tidak apa-apa, dan kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Waktu untuk istirahat pun telah habis, dan jarum jam telah menunjukan jam setengah dua siang. Sepertinya aku orang yang terakhir datang. Tetapi ketika aku datang, ternyata aku tidak menemukan satu orang pun di ruang seksi pelayanan. Beberapa menit kemudian Laras turun dari lantai 3. Kami pun saling ngobrol sebentar. Pekerjaan pun selesai dan jam telah menunjukan pukul 04.00 sore.

Karena lama menunggu Isti dan Dayat, kami pun putuskan untuk pergi ke atas menjemput mereka. Sesampainya di atas kami bertemu mereka di pintu keluar ruangan. Ternyata mereka juga sudah bersiap akan pulang. Kami pun berjalan menuju tempat parkir bersama-sama. Aku, Dayat, Isti, dan Laras. Sesampainya di parkiran, kami sempat bergurau kepada Isti dan Laras, “Baca Bismillah dulu ya,” ucapku. “Iyalah,” jawab Laras. Akhirnya kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Waktu berbuka puasa pun tiba. Aku sempat mengirim SMS kepada Laras menanyakan apakah dia sudah sampai rumah, dan ternyata dia sudah di rumah dengan selamat. Selang beberapa menit, temanku Pebri meneleponku. “Kamu di mana, Nung? Tanyanya. “Di rumah, ada apa Peb?” jawabku. “Isti kecelakaan!” Pebri memberitahuku dengan nada khawatir. Akupun langsung menanyakan keberadaannya dan langsung pergi menuju ke sana. Aku pergi ke sana naik motor dengan bensin seadanya dan kecepatan agak tinggi, ditambah belum mandi pula.

Akhirnya kami sampai di RSUD Imanudin. Sampai di sana, kami bertanya di bagian administrasi, dan mendapat informasi kalau Isti masih di bagian UGD. Kami pun segera berlari ke sana. Aku menunggu Isti sampai jam 9 malam, dan belum mendapat kepastian tentang kondisi sahabat kami itu.

Pagi pun terang, jam menujukkan pukul 9.00 pagi. Aku pergi ke tempat kos Laras, dan kami pun kembali datang ke RSUD Imanudin. Setelah Aku lama di sana, kami pun mendapat kabar kalau Isti dirujuk pindah ke RS yang lebih lengkap, yaitu di Jawa atau di Banjarmasin. Awalnya, pihak keluarga Isti ingin membawanya ke Semarang. Tetapi karena kondisi Isti dan terbatasnya waktu, akhirnya Isti dibawa ke RSUD Banjarmasin pada pukul 3 sore.

Sebagai sahabatnya aku merasa sangat sedih dan kehilangan. Isti koma dan belum sadar. “Ayo Isti bangun! Aku banyak salah dengan kamu. Kamu kuat Isti, kamu harus bangun dan harus bisa aktivitas lagi. Ya Allah, kalu bisa ditukar Isti dengan aku, aku pun rela dan ikhlas menjalaninya.” ucapku. Ya Allah, berilah kesembuhan bagi Isti. Aku sayang dia. Isti orang yang baik, lugu, dan pantang menyerah. Amin. (Tulisan ini dikirim oleh nuk03021998, Pangkalan Bun)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...