CERITA ANDA

Sembahyang Setan di Kelenteng Hian Thian Siang Tee Jepara

Sepuluh ton beras dan sembako dibagi pada warga miskin.
Sembahyang Setan di Kelenteng Hian Thian Siang Tee Jepara
Tumpukan karung beras di serambi Kelenteng Hian Thian Siang Tee, Welahan, Jepara. (Heru Christiyono Amari)

VIVA.co.id – Pada bulan tujuh atau delapan kalender Masehi seperti saat ini, hampir semua kuil atau kelenteng di Indonesia yang mampu, menyelenggarakan ritual Sembahyang Ulambana, atau Sembahyang Rebutan. Tapi menurut sejumlah warga Tionghoa (Cina) totok, sebutan ritual itu lebih tepat dengan nama Sembahyang Setan. Sebab pada hakekatnya, ritual sembahyangan yang digelar di altar terbuka atau super besar ukurannya itu, seluruh sesaji yang disediakan untuk para roh atau arwah sesat atau tersesat bala tentara setan.

Sembahyang Setan terbesar dan terseru selama ini, diselenggarakan Kelenteng Hian Tian Siang Tee (HTST) atau Kuil Dewa Bumi, Welahan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Sejak ratusan tahun silam, kuil ini tiap tahun melaksanakan ritual itu. Altar terbuka digelar berukuran 15 x 15 meter. Di atasnya ditaruh sesaji makanan lezat-lezat, terutama kue-kue khas Cina. Ditambah amplop-amplop ang-pao dan benda berharga seperti, alat kosmetika, baju pria atau wanita, kain, jarit, batik, sendal, selop, sepatu dan lain-lain yang harganya mahal-mahal.
 
Tahun ini Sembahyang Setan atau Ulambana Kelenteng HTST diadakan 31 Agustus 2016. Bersamaan itu akan dibagikan sembako berupa beras, mie instan, minyak goreng dan ang-pao/uang. Kata
Hidayat, 78 tahun, salah satu bio-khong (juru kunci) Kelenteng HTST, sekitar enam sampai 10 ton beras kualitas baik bantuan para dermawan seluruh Jawa beserta sembako lain, akan dibagikan pada masyarakat kurang mampu di wilayah setempat. Saat ini bahan-bahan sembako tersebut sudah mengalir masuk dan ditumpuk di serambi depan Kelenteng HTST.
 
Detik-detik pelaksanaan Sembahyang Setan/Sembahyang Rebutan lewat tengah hari, ditandai ritual sembahyang massal di depan kelenteng. Seluruh bio-khong berkostum hitam-hitam berjumlah belasan, di deretan depan peserta ritual. Satu di antaranya yang tertua atau senior, memimpin sembahyang. Berulangkali lidi Hio yang menyala di tangannya, diangkat tinggi mengarah langit. Isyarat mengundang para roh yang gentayangan tanpa arah atau tujuan di alam barzah sana, agar segera datang menikmati seluruh sesajian yang ada di atas altar.
 
Saat para arwah mulai datang, bio-khong pemimpin ritual, ekor matanya melirik ke semua sudut altar. Ketika aksi mata sang bio-khong berhenti, bermakna para arwah sudah usai mencicipi sesajian. Sesudah beberapa menit jeda, bio-khong lewat lambaian tangan minta gerbang kuil sebelumnya ditutup dan dijaga aparat segera dibuka. Berbareng itu, ribuan orang atau warga sejak pagi menanti di luar gerbang kuil, serentak liar menyerbu masuk dan naik ke atas altar. Seluruh sesajian diperebutkan di antara mereka. Inilah sembahyang rebutan itu.
 
Sembahyang Setan atau Sembahyang Rebutan, khusus dilaksanakan untuk merawat atau memelihara (memberi makan-Pen) para arwah atau roh yang menderita tersesat di alam halus. Di alam sana yang berbeda dengan alam manusia, mereka tersiksa karena tak pernah dirawat atau dipelihara (dengan memberi doa dan sesaji-Pen) oleh anak-keturunannya. Dengan Sembahyang Ulambana, diharap roh-roh gentayangan itu tak mengganggu para umat manusia yang masih hidup. Ritual ini juga simbol rasa welas pada sesama, terutama pada para kaum miskin dengan memberi bantuan. (Tulisan ini dikirim Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah).        
 
KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...