CERITA ANDA

Saatnya Membangun Kota Berkelanjutan dengan Green Lifestyle

Adaptasi dan mitigasi untuk menghadapi dampak perubahan iklim.
Saatnya Membangun Kota Berkelanjutan dengan Green Lifestyle
Salah satu penyebab pemanasan global di bumi. (VIVA.co.id / Danar Dono)

VIVA.co.id – Membangun kota yang resilient terhadap perubahan iklim membutuhkan konseptualisasi yang lebih luas dari konsep kota berkelanjutan. Kota tersebut tidak hanya mampu beradaptasi dan mengelola risiko perubahan iklim, tetapi juga berkontribusi untuk pembangunan rendah karbon. Termasuk turut berpartisipasi untuk mengurangi kenaikan temperatur global 2 derajat

Adaptasi dan mitigasi perubahan iklim adalah konsep yang saling mendukung dan melengkapi. Dua hal ini merupakan konsep utama yang diperkenalkan oleh rezim modernitas untuk menghadapi dampak perubahan iklim. Secara singkat, mitigasi berarti sebuah  usaha yang dilakukan untuk mencegah, menahan dan atau memperlambat efek gas rumah kaca yang menjadi penyebab pemanasan global di bumi.  Berkebalikan dengan mitigasi, adaptasi lebih kepada upaya yang dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim yang telah terjadi dan dirasakan di bumi.

Mitigasi perubahan iklim didefinisikan sebagai sebuah intervensi antropogenik untuk menurunkan tekanan antropogenik terhadap sistem iklim, termasuk di dalamnya strategi untuk mengurangi sumber-sumber penghasil gas-gas rumah kaca dan meningkatkan penyerapan karbon. Terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan, seperti dari sisi sosial, ekonomi, politik, dan teknologi. Yang semuanya dapat mendukung penurunan emisi yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Terdapat empat strategi utama penerapan mitigasi. Salah satunya adalah eliminasi, yaitu menghindari penggunaan alat-alat penghasil emisi gas rumah kaca. Tindakan ini memberikan penghematan biaya yang terbesar dan dapat langsung dirasakan. Contoh mematikan lampu saat tidak digunakan, mematikan AC saat tidak ada orang di dalam ruangan.

Strategi lainnya yang dapat dilakukan dalam mengatasi dampak perubahan iklim adalah pengurangan. Yaitu sebuah tindakan dapat dilakukan dengan mengganti peralatan lama dan atau mengoptimalkan struktur yang sudah ada. Tindakan mitigasi seperti ini sangat efektif dan dapat diintegrasikan ke dalam bisnis sehari-hari dengan usaha minimum. Contoh memasukkan efisiensi energi ke dalam pengambilan keputusan investasi.

Hal lainnya yang dapat dilakukan dalam mengatasi perubahan iklim adalah subtitusi. Sekalipun langkah ini memiliki konsekuensi atau implikasi biaya investasi yang tinggi, namun akan melahirkan dampak positif terhadap penurunan potensi emisi melalui subtitusi sangatlah tinggi. Contoh penggunaan energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik dan atau pemanas.

Mitigasi perubahan iklim dapat juga dilakukan dengan merubah kebiasaan dalam hidup kita sehari-hari. Efisiensi energi dapat dilakukan melalui substitusi ataupun melalui penghematan. Penghematan energi sering kali turut menurunkan emisi penyebab perubahan iklim. Penggunaan energi secara efisien juga dapat menghemat biaya.

Dalam menghadapi perubahan iklim, tidak ada “satu solusi untuk semua” dalam usaha efisiensi energi. Justru sebaliknya, solusi bisa berbeda-beda tergantung dari kasus per kasus. Bagaimanapun juga, banyak tindakan efisiensi energi yang dapat diterapkan dengan biaya investasi rendah dan usaha minimum (tindakan tanpa/rendahbiaya). Efisiensi energi yang membutuhkan biaya lebih tinggi harus diimbangi dengan penghematan biaya energi yang dikeluarkan.

Inilah beberapa gagasan yang akan didiskusikan dalam Youth Climate Week yang digelar selama 3 hari di Bali sejak tanggal 16-18 Agustus 2016 yang diselenggarakan oleh Garda Hijau Garda Bangsa yang bekerjasama dengan Friedrich Naumann Stiftung. (Tulisan ini dikirim oleh Billy Ariez)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...