CERITA ANDA

Mualim, Ahli Reparasi Barang Elektronik Lulusan SD

Ia belajar secara otodidak tentang seluk-beluk barang elektronik.
Mualim, Ahli Reparasi Barang Elektronik Lulusan SD
Mualim sedang membedah mesin cuci yang rusak. (HCA) (U-Report)

VIVA.co.id - Meski cuma berbekal ijazah Sekolah Dasar, Mualim, 52 tahun, setiap hari minimal bisa mengantongi uang Rp75.000. Bahkan jika sedang beruntung, bisa dua kali lipat dari itu. "Gusti Allah adil dan pemurah. Asal kita berikhtiar sambil berusaha, pasti Dia beri rezeki buat kita," ucapnya saat dijumpai di salah satu kios Pasar Sleko-II, kota kecil Pati, Jawa Tengah, beberapa hari lalu.

Mualim tinggal di Desa Panjunan, Pati Kota. Lebih dari lima tahun ini, ia membuka usaha reparasi barang-barang elektronik di Pasar Sleko-II. Namanya sebagai "dokter" atau tukang memperbaiki barang-barang elektronik rusak sudah terkenal di masyarakat setempat. Tiap hari ada saja orang datang ke kiosnya dengan membawa peralatan elektronik rusak agar diperbaiki oleh Mualim.

Tentang penghasilannya sebagai tukang memperbaiki barang elektronik rusak, Mualim tak bisa memastikan. "Tidak bisa dipastikan. Setiap hari bisa Rp100.000 atau Rp150.000, paling apes jika hari sepi saya hanya dapat Rp 75.000," ujarnya polos dengan suara keras.

Bicara dengan dia harus dengan volume tinggi atau keras. Sebab, indera pendengarannya agak berkurang. Daya dengar Mualim 50 persen berkurang. Selain karena faktor usia yang sudah lebih setengah abad, juga karena waktu kecil dia pernah magang kerja di tukang pandai besi. Suara palu godam bertalu-talu dan "pompa ubub" yang berdesis tiada henti di tempat kerja, membuat telinganya jadi setengah tuli. Lama-lama setengah tuli itu permanen sampai kini. "Makanya saya tak suka jadi tukang besi," tambahnya.

Kata Mualim, dirinya tak pernah bercita-cita jadi tukang elektronik seperti sekarang ini. "Sekolah ya sekolah, tanpa berpikir besok ingin jadi apa," ucapnya. Tamat SD ia tak melanjutkan sekolah, mengingat orang tuanya miskin dan buruh serabutan yang tak mampu membiayai sekolah lanjutan bagi Mualim. Meskipun masih kecil dan usianya masih belia, Mualim tak ingin menganggur. Waktu itu kondisi perekonomian orang tuanya amat berat. "Nganggur berarti tak makan dan kelaparan," ujar Mualim mengenang masa kecilnya yang pahit.

Setiap hari dia keluar rumah untuk mencari pekerjaan apa saja yang bisa mendatangkan uang, sekadar untuk mengganjal perut. Mualim juga pernah jadi buruh di tiga bengkel elektronik selama 15 tahun. Pengalaman itu dipakainya belajar secara otodidak tentang seluk-beluk barang elektronik yang rusak dan cara memperbaikinya. "Semua barang elektronika yang rusak seperti televisi, kulkas, kipas angin, genset, rice cocker, setrika, kompor listrik, dan lain-lain, dapat saya perbaiki," tuturnya.

Setelah mengusai ilmu elektronika, Mualim lalu membuka sendiri bengkel elektronik kecil-kecilan. Awalnya dibuka di bawah tenda sederhana di tepi jalan. Tapi kerap kena operasi aparat, terpaksa berpindah-pindah. Itu membuat pelanggannya bingung dan banyak lari ke bengkel lain. Jika begini terus tak akan punya pelanggan, pikir Mualim.

Lantas dia memberanikan diri membuka lapak kaki lima di kompleks Pasar Sleko-II, Pati. Sejak itu bengkel elektronik Mualim mulai punya langganan. Lama-lama jumlahnya banyak, hasil yang didapat pun bertambah. Akhirnya Mualim dapat membeli kios cukup luas dan pantas di kompleks pasar itu yang kini ditempatinya untuk bekerja sehari-hari.

"Menjelang hari-hari besar seperti Idul Fitri, Natal, atau Tahun Baru, berdatangan orang membawa barang elektronik rusak minta diperbaiki. Hasilnya yang saya dapat sehari bisa Rp 300.000," tandas pria yang punya tiga anak lelaki, tapi belum dikaruniai cucu ini saat mengakhiri obrolannya. Jika semua bersikap seperti Mualim, mungkin tidak ada pengangguran di negeri kita. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah).

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...