CERITA ANDA

Marcus Tugiman, Mantan Pembalap Nasional yang Jadi Pemulung

Tempat-tempat kotor dikaisnya untuk mendapat barang rongsokan.
Marcus Tugiman, Mantan Pembalap Nasional yang Jadi Pemulung
MT saat menerima bantuan dari Pengurus ISSI Jawa Tengah (u report)

VIVA.co.id - Balada kehidupan dialami Marcus Tugiman (MT), mantan pembalap sepeda berprestasi nasional yang lahir di Semarang 16 Maret 1958. Kehidupan hari tuanya saat ini sungguh membuat yang melihatnya miris terenyuh.

Betapa tidak, kemiskinan melilit diri dan keluarganya. Untuk kebutuhan sehari-hari, ia bergantung dari kerja memulung barang rongsokan. Tragisnya lagi, lelaki dengan dua bola mata tebal oleh selaput katarak ini, tangan dan kakinya dari tahun ke tahun digerogoti penyakit kusta.

MT dan Ngatminah (45 thn) istrinya, serta tiga orang anaknya, tinggal di rumah bangunan tembok setengah jadi. Situasi dan kondisi di dalam dan di luar rumah diwarnai kekumuhan.

"Sejak dulu saya tinggal di rumah ini," ujar MT mengenai tempat tinggalnya yang beralamat di Kampung Tanggungrejo RT 01/RW 05, Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Saat menceritakan masa lalunya, di wajah keriput MT silih berganti tergurat pancaran sukacita dan dukacita. Lelaki berkulit kelam dan tamatan SLTP ini mengaku berasal dari keluarga tak berpunya, tapi sejak kecil gemar bersepeda.

Menjelang remaja, bermodal sepeda jengki bekas, MT bergabung dalam Persatuan Balap Sepeda (PBS) Semarang tahun 1980. Di PBS itu talenta alamiah MT terasah. Mulai tampak mengkilap hanya dalam waktu tiga sampai empat tahun.

Sesuai bakatnya, MT diarahkan oleh pelatih PBS sebagai pembalap spesialis road race yaitu, Nomor Jalan Raya. Setiap ada kejuaraan balap sepeda tingkat lokal (Kota Semarang) atau regional (Provinsi Jawa Tengah), MT selalu naik podium sebagai juara. Atau paling tidak, dia masuk kategori tiga besar dan berhak mendapat kalungan medali.

"Rasanya senang sekali naik podium, dikalungi medali, menjadi sang juara," ujar MT dengan raut berbinar.

Puncak prestasi sekaligus titik keruntuhan prestasi dan kehidupan MT terjadi di tahun 1984. Saat itu MT meraih gelar Juara III Balap Sepeda Tour de Jawa dengan rute Surabaya-Jakarta. Sebelumnya, ia meraih Juara I di Pekan Olahraga Jawa Tengah di nomor Laps Race 50 round.

"Waktu itu saya ditawari pindah ke PBS Marinir Surabaya atau ke PBS Lampung. Semua saya tolak karena saya cinta Jateng," kata MT dengan nada bergetar mengenang masa kejayaannya.

Berkat prestasi gemilang itu, MT menjadi salah satu pembalap andalan ISSI (Ikatan Sport Sepeda Indonesia) Jawa Tengah dan masuk tim Jawa Tengah menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) XI/1984 Jakarta. MT memperkuat tim balap sepeda Jateng, mengikuti event Pra-PON XI. Hasilnya, tim balap sepeda Jawa Tengah lolos ke PON XI, karena pada Pra-PON XI itu berada di peringkat tiga besar nasional.

Hari-hari jelang berangkat ke PON XI/1984 Jakarta merupakan awal bencana bagi MT. Saat itu dia amat senang mendapat sepeda balap baru dari KONI Jawa Tengah sebagai sarana untuk berlaga di PON XI. Celakanya, sepeda balap itu dibawa kabur oleh mekanik tim ke Sulawesi. Karena tidak punya sepeda balap, MT pun batal berangkat ke Jakarta bersama tim PON XI Jawa Tengah.

"Sedih dan menangis saya waktu itu, tapi bagaimana lagi takdir sudah begitu," ujar MT lirih.

Sejak itu MT total undur diri dari balap sepeda. Di dadanya mengeram rasa sesal, sedih, geram, kecewa, dan jengkel yang campur aduk jadi satu. Setelah itu MT memilih jalan hidup dengan mengayuh becak.

Bermodal mata pencaharian sebagai tukang becak itu, MT lalu menikah dan membangun keluarga. Seiring bertambahnya usia, tenaganya mulai renta. MT pun berganti menjadi pemulung sampai kini. Tempat-tempat kotor dikaisnya untuk mendapat barang rongsokan dan bisa dijual.

Pola hidup bergelut di tempat kumuh kotor berdampak fatal bagi kesehatan MT. Tak disadarinya, kedua tangan dan kakinya dirambati jamur kusta. Makin lama makin parah, membuat tangan dan kaki MT kini invalid. Sakit Kusta MT kian kronis, karena selama ini nyaris tak pernah berobat. Itu disebabkan karena tak adanya biaya karena faktor kemiskinan, ditambah juga keengganan MT mencari kesembuhan. "Biarlah begini, saya sudah tua," ucap MT tentang sakit kustanya.

Balada hidup MT pun didengar pengurus ISSI Jawa Tengah. ISSI memutuskan akan membantu meringankan hidup MT, dengan merehab rumah MT yang berantakan bak kandang sapi.

Ia juga akan diberikan sejumlah dana, tanda terima kasih ISSI pada eks atlet yang pernah mengharumkan nama Jateng di kancah olahraga itu. "Mungkin hidup saya tak begini jika saat itu saya pindah ke PBS Marinir Surabaya atau PBS Lampung," guman MT. Demikianlah, manusia boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukan. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...