CERITA ANDA

Sebuah Surat untuk Haris Azhar

Mari kita merayakan demokrasi dengan tidak memotong lidah.
Sebuah Surat untuk Haris Azhar
Haris Azhar (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

VIVA.co.id - Baru saja aku membaca jika engkau sudah dilaporkan. Baru saja aku membaca jika Tito Karnavian mengiyakan hal tersebut. Begitu pula dengan pihak tentara nasional kita yang katanya sahabat rakyat.

Pak Haris, saya pikir kita ada di negeri bedebah. Ya, namanya juga bedebah, kebenaran dapat diubah menjadi kesalahan. Orang baik ditendang, orang jahat diberi tepuk tangan. Lihat saja para pelanggar Hak Asasi Manusia yang saat ini mungkin duduk di kementerian. Lihat saja bagaimana presiden kita hari ini yang sedang asyik ingkar janji.

Pak Haris, ingatkan saja Pak Tito tentang demokrasi lalu biarkan Pak Tito berbisik kepada Pak Jokowi. Sangat disayangkan jika Pak Tito salah kaprah dengan nyanyian Pak Haris. Ternyata lulusan luar negeri tak menjamin nurani. Padahal lulusan luar negeri tak membatasi mana ego institusi, yang mana teriakan pinggiran untuk memperbaiki diri.

Pak Haris, saat ini Hak Asasi Manusia dalam ancaman besar. Sebab institusi yang diharapkan memberantas pelanggaran Hak Asasi Manusia justru institusi yang banyak membuat pelanggaran HAM. Apalagi saat ini malah dipimpin oleh terduga pelanggar HAM.

Pak Haris, seharusnya yang harus dilaporkan sekarang ini adalah yang saat ini sudah dikubur, toh itukan nyanyian dia, sedang engkau hanya perpanjang tangan saja. Dan saya pikir, Pak Tito yang lulusan luar negeri itu tahu dan sadar betul. Tapi saya pesimistis setelah melihat bagaimana cara analisa yang digunakan Pak Tito saat debat. Benar memang kata Prof. J Saytapy, mereka terbiasa mengambil sebagian yang menguntungkan mereka saja.

Pak Haris, di akhir surat ini saya hanya bisa mendoakan engkau melalui sujud dan tulisan-tulisan agar para penegak hukum di negeri ini membuka mata. Siapa dia, siapa kita, siapa Anda, dan siapa saya. Terimakasih. Mari kita merayakan demokrasi dengan tidak memotong lidah. (Tulisan ini dikirim oleh Abdul Rasyid Tunny, Makassar)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...