CERITA ANDA

Kaum Nazar Bhe-kun dan Perayaan Kuda Sam Poo di Semarang

Yang terkabul keinginannya mencoreng-moreng wajahnya di acara ini.
Kaum Nazar Bhe-kun dan Perayaan Kuda Sam Poo di Semarang
Sejumlah Bhe-kun, di antaranya Tutuk Kurniawan, siap-siap ikut arak-arakan Kuda Sampo.(Dok.Pribadi)
VIVA.co.id - Saya, 66 tahun, lahir dan besar di Semarang. Sejak usia enam tahun hingga kini, tiap tahun suka nonton arak-arakan Jaran Sampo (Kuda Sampo). Begitu masyarakat pribumi menyebut tradisi ritual tahunan warga Tionghoa Semarang itu, diadakan tiap bulan Juli atau Agustus. Warga Tionghoa menamai tradisi itu, Perayaan Sam Poo. Disebut Jaran atau Kuda Sampo, karena di pawai itu selalu ada Kuda putih, dikawal puluhan hingga ratusan lelaki dan perempuan Tionghoa. Mereka berkostum khas Cina warna hitam-merah. Wajah mereka dicoreng-moreng dengan warna hitam, putih dan merah pula.

Mereka yang berkostum atau bermuka aneh menyeramkan itu, disebut kaum Bhe-kun. Bhe berarti Kuda dan Kun adalah pasukan atau pasukan berkuda. Mereka melaksanakan kaul atau nadzar dengan mengawal Kuda Sampo; Setelah cita-cita mereka terkabul melalui doa di Kelenteng Sam Poo Khong (Sam Poo Thay Jien), Semarang. Kaum Bhe-kun mengawal Kuda Sampo diarak-arakan yang berjalan bolak-balik dari Kelenteng Thay Kak Sie di Gang Lombok Semarang-Tengah ke Kelenteng Sam Poo Khong di Simongan, Semarang-Barat, sejauh 15 Km.

Semasa saya kecil, Kuda Sampo dibiarkan bebas. (Tak diberi tali kendali, dituntun satu-dua Bhe-kun seperti kini). Karena dibiarkan bebas berjalan atau berlari, tak jarang kuda lepas dari formasi pawai. Lalu dikejar para Bhe-kun dan susah-payah digiring kembali dibarisan arak-arakan. Kuda Sampo lepas liar ke sana ke mari, dikejar pontang-panting para Bhe-kun tersebut, merupakan momen paling seru dan menarik. Sekaligus meningkatkan adrenalin para Bhe-kun dan ribuan penonton, memadati kanan-kiri jalan sepanjang rute yang dilalui arak-arakan.

Tahun ini Perayaan Sam Poo dilaksanakan 31 Juli 2016. Para Bhe-kun, datang dari berbagai pelosok tanah air. Konon malah ada yang dari Malaysia dan Singapura. Di antara para Bhe-kun terdapat sosok Ir Tutuk Kurniawan, pengusaha Taksi Atlas Semarang dan pengurus Kelenteng Sam Poo Khong. Tutuk mengaku, sedang melampiaskan kaul dengan menjadi Bhe-kun. Apa kaulnya? Tak dijawab. Mungkin setelah dia lepas dari status tersangka korupsi dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp14,5 milar, terkait rehabilitasi atau pembangunan Kelenteng Sam Poo Khong.

Duplikat Kim-sien

Perayaan Sam Poo adalah memperingati kebebasan Kelenteng Sam Poo Khong, sekaligus mengenang jejak kedatangan Sam Poo Thay Jien atau Sam Poo Khong atau Laksamana Cheng-Ho di Simongan-Semarang, abad empat belas silam. Laks Cheng-ho utusan Kaisar Tiongkok, Yung-le, memimpin tujuh kali muhibah pelayaran diberbagai negara dikawasan Samudra Selatan dan Samudra Hindia, mulai tahun 1405. Muhibah pelayaran ini singgah di beberapa pelabuhan, sepanjang Laut Jawa Utara; Di antaranya di Pantai Simongan-Semarang yang kini jadi Kelenteng Sam Poo Khong.

Saat turun dari Jung, kapal layar besar khas Tiongkok, ketika mendarat di Pantai Simongan-Semarang, Laks.Cheng-Ho menunggang kuda. Peristiwa itu yang dikenang warga Tionghoa Semarang. Diwujudkan dalam bentuk Kuda Sampo pada arak-arakan Perayaan Sam Poo setiap tahun hingga sekarang. Para Bhe-kun yang mengawal Kuda Sampo, merupakan refleksi dari pengorbanan dan loyalitas seseorang pada pemimpin, panutan, dan junjungannya.

Pada tahun 1700-an, kawasan Simongan Semarang di lokasi Kelenteng Sam Poo Khong, dikuasai tuan tanah etnis Yahudi. Warga Cina yang bersembahyang di kelenteng itu, ditarik cukai/pajak/ticket tinggi oleh Si Yahudi. Karena tak kuat membayar pajak, masyarakat Cina Semarang lalu membangun duplikat Kelenteng Sam Poo Khong, lengkap dengan tiruan Kim-sien (patung suci) Sam Poo Thay Jien, berlokasi si Gang Lombok, Semarang-Tengah.

Seorang tai-pan yaitu Oei Tjie Sien, ayah dari Oei Tiong Ham Raja Gula Indonesia, berhasil membeli kawasan Simongan dan lokasi Kelenteng Sam Poo Khong dari orang Yahudi tahun 1879. Sejak itu (hingga sekarang), warga Tionghoa kembali dengan bebas bersembahyang di Kelenteng Simongan tersebut. Untuk mengenang kebebasan Kelenteng Sam Poo Khong dan duplikatnya, Kelenteng Thay Kak Sie; Setiap tahun dilaksanakan Perayaan Sam Poo (Thay Jien).

Perayaan ditandai arak-arakan. Pagi buta, duplikat Kim-sien Sam Poo Thay Djien dan semua atribut kebesarannya, keluar dari Kelenteng Thay Kak Sie, diarak menuju Kelenteng Sam Poo Khong. Di Kelenteng Sam Poo Khong diadakan prosesi ritual. Tiga sendok abu hio-loo dari Kelenteng Thay Kak Sie, disatukan dengan abu hio-loo Kelenteng Sam Poo Khong. Begitu sebaliknya. Ritual ini dimaksudkan untuk menyetroom Kim-sien Sam Poo Thay Djien Kelenteng Thay Kak Sie, agar sesakti Kim-sien Sam Poo Thay Djien yang asli, yang berada di altar Kelenteng Sam Poo Khong.

Setelah semua rangkaian ritual rampung, sorenya arak-arakan dilaksanakan lagi. Menandai pulangnya duplikat Kim-sien Sam Poo Thai Djien ke Kelenteng Thay Kak Sie dari Kelenteng Sam Poo Khong. Arak-arakan jalan kaki ini, dimeriahkan atraksi Liong dan Barongsai, serta pertunjukan tradisional lain; Akan berulang dan terus berulang ditahun-tahun depan. Satu prosesi ritual warga Tionghoa, tapi sangat diminati warga asli setempat. Bukankah ini cermin kerukunan antar umat beragama antar masyarakat dari beraneka etnis. Semoga lestari. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah).

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...