CERITA ANDA

Mbah Kardi, Puluhan Tahun Hidup dari Berjualan Mainan

Keterampilan membuat mainan didapat dari almarhum ayahnya.
Mbah Kardi, Puluhan Tahun Hidup dari Berjualan Mainan
Mbah Kardi menunjukan mainan Ketek Menek hasil karya tangan tuanya.

VIVA.co.id - Sehari-hari lelaki tua berusia 68 tahun ini dipanggil dengan sebutan Mbah Kardi. Sedangkan nama lengkapnya adalah Sukardi. Tinggal bersama istrinya yang juga sudah renta di Kampung Mojopitu, Kecamatan Kota, Pati, Jawa Tengah. Selama puluhan tahun Mbah Kardi menghidupi keluarganya dengan berjualan Ketek Menek dan berbagai benda sederhana lain, hasil karya keterampilan tangannya sendiri.

Yang dimaksud Ketek Menek (kera naik pohon) adalah, mainan anak-anak yang terbuat dari kardus bekas dan bambu berbentuk kera, ditarik dengan tali. Sehingga kera itu seakan-akan turun naik memanjat pohon. Amat naif konstruksinya, tapi tampak lucu jika dimainkan seorang anak. Selain itu, Mbah Kardi juga membuat mainan lain berupa baling-baling terbang. Dan peluit siul yang suaranya bisa menirukan berbagai kicauan burung. Semuanya dibuat dari bahan bambu.

"Sejak dulu saya cuma membuat mainan anak-anak tiga jenis itu. Ketek menek, kitiran (baling-baling), dan peluit. Bentuk modelnya tidak pernah berubah," jelas Mbah Kardi yang ditemui sedang menggelar dagangannya di trotoar tepi perempatan Jalan Supriyadi dan Jalan Mojopitu, Pati. Dagangan itu digelar di atas plastik usang. Di dekatnya ada bakul dan pikulan bambu, wadah semua dagangannya saat dibawa berangkat atau pulang ke rumah.

Ketika usianya masih di bawah 50 tahun, cara Mbah Kardi menjual mainan anak-anak tidak mangkal di perempatan jalan seperti sekarang. Dia memikul dagangannya keliling kota dan di pasar-pasar tradisional setempat. Mengingat tubuhnya makin renta, untuk berjalan dan memikul dagangan tidak kuat lagi, akhirnya terpaksa Mbah Kardi memilih berjualan mainan anak-anak dengan mangkal di tepi perempatan jalan yang berjarak 300 meter dari rumah tinggalnya.

Biasanya Mbah Kardi berangkat jalan kaki dari rumah dan mulai menggelar dagangannya di tepi perempatan jalan mulai pukul 06.00 pagi, saat itu bersamaan dengan anak-anak berangkat sekolah. Sesudah murid-murid TK atau SD kelas 1 pulang sekolah, Mbah Kardi pulang. Sorenya, berjualan lagi dari pukul 16.00 hingga 18.00. Waktu luang lain, dibuat Mbah Kardi untuk mencari bahan-bahan untuk membuat mainannya dengan cara memulung kardus bekas di berbagai pojok kota.

Mbah Kardi tak pernah rugi, sebab bahan mainan didapatnya cuma-cuma dari memulung. Sebaliknya, tiap hari dia selalu untung, berapapun besarnya. Tahun-tahun 1980-an hingga 1995-an, keuntungan sehari Mbah Kardi bisa untuk membeli beras 5 kg. Kini keuntungan yang diperoleh hanya dapat untuk membeli 1 kg beras. "Anak-anak sekarang lebih suka mainan modern dari plastik dan bisa bergerak sendiri karena didorong baterai," ucapnya.

Dengan keuntungan sebesar itu, apa bisa dibuat hidup? Jawab Mbah Kardi, seberapa pun keuntungan nyatanya bisa untuk menghidupi diri dan istrinya. "Saya dan istri sudah tua, tak butuh apa-apa. Makan seadanya, porsinya tak banyak seperti orang muda," kilahnya.

Malah terkadang Mbah Kardi bisa sedikit menyisihkan keuntungannya. "Bisa buat uang jajan cucu", tambah Mbah Kardi sambil cerita. Dari kedua anaknya, dia diberi hadiah tiga cucu.

Di tengah perbincangan, mendadak Mbah Kardi tercenung. Dia berkata lirih mengucapkan terima kasih pada mendiang ayahnya. Sebab keterampilan membuat mainan anak-anak ini didapat dari almarhum ayahnya. "Sebelumnya saya kerja serabutan tapi hasilnya tak karuan. Setelah bisa membuat dan menjual mainan, hidup saya sekeluarga terasa tenang walau dapat untung seadanya," ujar Mbah Kardi menutup kata-katanya. Tuhan Maha Adil dan Maha Pemurah. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...