CERITA ANDA

Dalang Kentrung Terakhir di Jepara

Tak ada satupun generasi muda yang berminat meneruskannya.
Dalang Kentrung Terakhir di Jepara
Mbah Parmo dan Mbah Madi saat mementaskan seni Kentrung.
VIVA.co.id - Mbah Suparmo (Mbah Parmo) 65 tahun dan Mbah Sumadi (Mbah Madi) 63 tahun, penduduk Desa Ngabul, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah merupakan dalang seni tradisional Kentrung terakhir di daerahnya, bahkan mungkin di Provinsi Jawa Tengah. Sebab, tak ada satupun generasi muda yang berminat belajar atau mendalami seni bercerita ini.

Mbah Parmo kerap berduet dengan Mbah Madi. Tapi lebih 15 tahun terakhir, mereka sudah jarang membawa seni tersebut di muka umum. "Sekarang tanggapan (pagelaran) Kentrung sepi, hampir-hampir tak pernah ada. Tak seperti tahun-tahun 1980-an, tiap malam saya naik panggung mendalang Kentrung," kata Mbah Parmo.

Seni kentrung adalah seni bercerita beraroma ritus-religius, layaknya trubadur dengan lakon-lakon khas yang tak boleh dikurangi atau ditambah. Digelar malam hari dari pukul 21.00 hingga 03.00 dini hari, biasanya dua sampai tiga dalang Kentrung tampil bersama. Masing-masing membawa terbang/rebana, berdendang bersahutan dengan irama dan nada khas. Menceritakan satu lakon yang telah dipilih oleh penanggapnya.   

Seni Kentrung diperkenalkan pertama oleh Kyai Basiran dari Desa Bate, Bangilan, Tuban, Jawa Timur tahun 1930. Dan berkembang di daerah pesisir Kabupaten Rembang, Blora, Pati, Jepara, Demak, Semarang, hingga Kendal. Lakon pakem pada seni Kentrung di antaranya, Angling Darmo, Jalak Emas, Murtotosiyah, Amat Muhamad, Mursodo Maling, Joharmanik.

Menyadari seni tradisional Kentrung di ambang kepunahan, Pemerintah Desa (Pemdes) Ngabul, Tahunan, Jepara, berusaha keras menyelamatkannya. Berbagai upaya ditempuh, misalnya di waktu tertentu seperti saat Sedekah Desa atau malam 1 Muharam, seni Kentrung digelar dengan duet dalang Mbah Parmo dan Mbah Madi. Sayang, upaya macam itu tampaknya tak mencapai tujuan.

"Anak-anak muda sekarang tak berminat melihat Kentrung. Apalagi mempelajari agar bisa menjadi dalang Kentrung. Mereka lebih suka tontonan jenis baru seperti dangdut," keluh Mbah Parmo dengan raut duka. "Anak saya empat orang, semua sudah berkeluarga. Tidak satupun di antara mereka tertarik mempelajari Kentrung," kata lelaki yang rambut dan kumisnya sudah memutih tersebut.

Mbah Parmo menguasai seni Kentrung hasil belajar dari Alm. Subani, ayahnya yang semasa hidupnya adalah seorang dalang Kentrung tersohor di Jepara. Mbah Parno mulanya mengamen kentrung dari desa ke desa, dilakukan sebelum tahun 1970. Setelah namanya populer di masyarakat luas, tanpa mengamen pun Mbah Parmo sering dipanggil oleh orang.

Masa keemasan seni Kentrung di Jepara adalah tahun 1980. Saat itu jumlah dalang Kentrung di daerah setempat masih relatif banyak. Termasuk sepupunya, Karisan, anak mendiang Sumo Sukir. Nama terakhir, merupakan kakak kandung Subani ayah Mbah Parmo. Kini satu per satu dalang Kentrung meninggal karena usia uzur dan hanya tinggal Mbah Parmo dan Mbah Madi.

Masa kejayaan berlangsung sampai tahun 1990. Tiap malam Mbah Parmo dan Mbah Madi diminta orang yang punya hajat (khitanan, pernikahan, selapanan bayi, kaulan/nadzar dan lain-lain) menggelar Kentrung di rumah mereka. "Pendek kata bagi saya, Kentrung ngrezekeni (membawa rezeki). Saya sekeluarga hidup makmur," ucap Mbah Parmo dengan raut sumringah mengenang masa lalunya.

Dengan Kentrung, Mbah Parmo bisa piknik gratis ke mana-mana. Misalnya, pernah diminta naik pentas membawa seni Kentrung di anjungan Jawa Tengah, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Pernah pula Ngentrung di Taman Wisata Maerokoco di Semarang. "Opo ora enak, iso nglencer lan enthuk duit (Apa tidak enak, bisa piknik gratis dan dapat uang)," ujarnya.

Jadi dalang Kentrung, harus hati-hati dan waspada, tak boleh sembarangan. Misalnya, tiap akan memulai dan menyudahi pagelaran, harus doa lebih dulu agar lancar, selamat tidak ada gangguan. Selain itu, tak boleh merekayasa, mengurangi, atau menambah isi cerita/lakon yang dibawakan. Jika hal-hal itu diabaikan, dipastikan dalang Kentrung akan terkena musibah berat.

Satu jenis seni tradisional dan asli, Kentrung, terancam kelestariannya di bumi Nusantara. Jika Pemdes Ngabul, Tahunan, Jepara, berikhtiar menyelamatkan, seperti disebut Mbah Parmo, pesimistis bisa berhasil. Sementara Pemkab Jepara atau Pemprov Jawa Tengah sama sekali tak terasa geliatnya untuk ikut menyelamatkan. Sungguh ironis bukan? (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah)




KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...