CERITA ANDA

Juru Kunci Kelenteng Hok Hien Bio Ternyata Seorang Pribumi

Dia sudah dua belas tahun menjadi biokhong di kelenteng itu.
Juru Kunci Kelenteng Hok Hien Bio Ternyata Seorang Pribumi
Chundori, biokhong kelenteng Hok Hien Bio, Kota Kudus. (HCA) (U-Report)

VIVA.co.id – Kelenteng Hok Hien Bio terletak di Jalan A. Yani No 10 Kudus, Jawa Tengah. Sepintas, kelenteng ini tak berbeda dengan kelenteng lainnya. Kelenteng ini merupakan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD), yang meliputi tiga keyakinan yaitu Khonghucu, Budha, dan Taois. Tapi jika orang masuk ke dalam kelenteng ini dan mengamati secara cermat, maka orang akan mulai bertanya-tanya dalam hati sebab kelenteng ini dilayani biokhong atau juru kunci seorang lelaki pribumi.

Biokhong itu bernama Chundori, berusia 52 tahun. Saat ditemui dan diajak bincang-bincang, dia sedang sibuk menyiapkan ratusan lampu minyak yang akan dipasang di altar Makco Kwan Iem Poo Sat (Dewi Welas Asih) dalam kelenteng tersebut. Pada Jumat malam itu, 22 Juli 2016, memang bertepatan dengan hari besar She-Jiet, ulang tahun Makco Kwan Iem Poo Sat, salah satu budha suci.

Sambil terus bekerja, Chundori yang asli dari Desa Undaan, Kudus, 10 km dari selatan Kelenteng Hok Hien Bio, becerita mengapa dirinya bisa sampai menjadi juru kunci kelenteng. “Saya waktu itu amat taat menjalankan ibadah sebagai muslim. Suatu saat kenalannya seorang Cina atau Tionghoa, menawari pekerjaan sebagai biokhong,” ujar Chundori. “Saya bingung, bagaimana saya bisa menjadi juru kunci kelenteng sebab tak pernah satu kalipun masuk kelenteng dan buta mengenai tata cara bersembahyang ala warga Tionghoa,” tambahnya.

Orang Tionghoa kenalannya itu berkata, jika Chundori setuju, nanti akan diberi petunjuk tata cara sembahyang di kelenteng dan ia diberi arahan terkait adat istiadat melayani para umat atau pengunjung kelenteng. Akhirnya, Chundori pun menerima tawaran sebagai biokhong Kelenteng Hok Hien Bio. Itu terjadi 12 tahun silam.

Mengapa dia terima tawaran pekerjaan juru kunci kelenteng, padahal saat itu di hatinya masih ada rasa ragu? “Terus terang waktu itu dengan hati setengah terpaksa saya terima tawaran itu. Sebab saat itu saya bekerja sebagai buruh, tapi upahnya minim. Tak cukup untuk menghidupi istri dan dua anak,” aku Chundori.

Pertama bekerja sebagai biokhong hingga hampir setahun, Chundori masih dituntun oleh biokhong lama yang usianya sudah kelewat lanjut. Tetapi lebih setahun setelah itu, semua kerja dan urusan terkait dengan tugas-tugas biokhong sudah bisa dilaksanakannya dengan cukup sempurna. Sejak itu dia tidak lagi dituntun atau didampingi biokhong lama.

Tiga tahun kemudian, karena pengunjung kelenteng kian banyak, Chundori kewalahan melayani tamu. Atas seizin pengurus kelenteng, dia diperbolehkan dibantu oleh istrinya dalam melaksanakan tugas juru kunci kelenteng tersebut. Semula istrinya di desa, bersama dua anak lelakinya yang sudah lulus SLTA. Mulai saat itu, Chundori dan istrinya pun boyongan dan tinggal dalam kompleks kelenteng.

Di usia lebih dari setengah abad kini, Chundori tak punya rencana apapun tentang hidupnya dan keluarganya ke depan. Dia dan keluarga sudah puas hidup sebagai biokhong. Malah merasa bahagia karena lahirnya anak nomor tiga seorang lelaki yang sekarang berumur 10 tahun. Anak bungsu itu dibanggakan Chundori dan istrinya sebab berhasil menjadi salah satu pemain inti perkumpulan Barongsai di kelenteng tersebut.

“Hidup saya sekeluarga saya pasrahkan pada kelenteng. Saya serahkan kepada para Kongco dan Makco (arca suci) kelenteng ini,” ucap Chundori dengan kata-kata lembut tapi mantap. Terakhir, waktu ditanya terkait keyakinannya saat ini, dia mengatakan meski kini dia mahir sembahyang kelenteng, namun dia tetap beribadah menurut keyakinan yang dipeluknya semula. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari Pati, Jawa Tengah).

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...