CERITA ANDA

Serunya Bakar Ikan bersama Keluarga Pasca Hari Lebaran

Puncak berlibur ke pantai Lombang biasanya pada lebaran ketupat.
Serunya Bakar Ikan bersama Keluarga Pasca Hari Lebaran
Keseruan bakar ikan bersama keluarga pasca Lebaran

VIVA.co.id – Pasca hari raya memang sudah menjadi budaya bangsa Indonesia untuk liburan dengan berbagai macam cara. Biasanya diisi dengan jalan-jalan, berkumpul untuk melakukan kegiatan yang sifatnya bersama, berziarah, dan lain-lain.

Di salah satu pulau di Madura memiliki kebiasaan jalan-jalan ke pantai sehabis hari raya. Pantai yang paling populer yaitu pantai Lombang yang berada di kabupaten Sumenep. Tidak jarang orang dari luar pulau garam juga memadati kawasan yang dipagari oleh pohon cemara udang ini. Apalagi masyarakat Sumenep sendiri yang menjadi tuan rumah, pasti akan berada di deretan pertama.

Puncak dari berlibur ke pantai Lombang biasanya pada lebaran ketupat. Pada H-1 lebaran ketupat, pantai Lombang yang memiliki daya tarik yang begitu kuat ternyata tidak mampu menarik keluarga Ahdini untuk datang. Padahal keluarga ini notabenenya merupakan masyarakat Sumenep, lebih-lebih satu kecamatan dengan pantai Lombang yaitu Batang-batang. Keluarga mereka tidak memilih berlibur ke pantai bersama keluarga besar dan kerabat-kerabatnya dalam ajang perpisahan karena Ahdini akan kembali merantau ke Jakarta tempat bekerjanya.

Akhirnya bakar-bakar ikan di samping rumah menjadi pilihan dalam ajang perpisahan tersebut. Cara yang sederhana tetapi mampu mengundang banyak senyuman bagi para kerabat yang hadir, lebih-lebih keluarga besar Ahdini. Lalu-lalang sepeda motor dan mobil menuju arah pantai tidak mampuh memunculkan rasa kecewa dengan tindakan yang diambilnya.

Proses pemanggangan dilakukan secara bergiliran, serta kerabat yang belum juga datang segera ditelepon kembali. Orang-orang lewat yang dikenal juga diajak untuk bergabung dalam menyantap ikan bakar. Para tetanggapun tidak terlepas untuk diundang. Acara dikemas dengan santai, siapa yang datang langsung ngambil ikan untuk dibakar sendiri dan dinikmati bersama. Bagi yang tidak suka memakan ikan tanpa nasi, bisa memakan  dengan nasi di tempat atau memanggang untuk dibawa pulang.

Dari awal, proses pemanggangan dilakukan secara sederhana. Ikan langsung dibakar dan disantap dengan racikan sambal yang sudah disediakan dengan tiga macam. Sebab, begitu banyak yang memberi opsi dalam proses pembuatan sambal. Gaya pemanggangan berubah setelah Yanto keponakan Ahdini membuat racikan rempah-rempah untuk dioleskan ke ikan. Membuat yang lain juga mengikutinya.

Kenikmatan bakar-bakar ternyata tidak hanya dinikmati oleh kalangan manusia, tapi hewan peliharaan juga. Kucing berwarna putih polos peliharaan Abd. Halim, suami dari saudara tiri Ahdini juga mendapatkan jatah. Tak terlepas kucing anggora milik Yanto yang berwarna putih dan abu-abu juga ikut menyantap ikan bersama di tempat.

Keseruan bakar-bakar kurang lengkap, karena Wildan putra Ahdini tidak ikut dikarenakan sedang keluar bersama teman-temannya. Kelurga besar Sunahya saudari Ahdini juga tidak bisa bersama sebab sedang berada di Banyuwangi, karena ada pernikahan dari salah satu kerabatnya. (Cerita ini dikirim oleh Syahid Mujtahidy, Pamekasan)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...