CERITA ANDA

Berkah Toko Sepeda Bu Tumirah di Hari Lebaran

Dari uang THR banyak yang membelikan sepeda buat anak-anaknya.
Berkah Toko Sepeda Bu Tumirah di Hari Lebaran
Bu Tumirah dan suami sibuk melayani pembeli sepeda di tokonya. (HCA) (U-Report)

VIVA.co.id – Membuka toko sepeda di kota kecil Pati, Jawa Tengah, seperti untung-untungan. Sebab jumlah masyarakat dan peminatnya kecil dan saingan dari toko-toko semacam pun banyak. Tapi Bu Tumirah dan suaminya yang semula bekerja sebagai petani ini sejak lima tahun lalu sepakat, memutar haluan hidup dengan berdagang dan membuka toko sepeda.

Lokasi yang dipilih untuk toko adalah di Timur terminal bus Kembangjoyo, Pati. Modal awal berjualan sepeda diperolehnya dari patungan antara suami istri ini. Kabarnya sang suami menjual sebagian sawah milik orang tuanya, sedangkan Bu Tumirah melego dua atau tiga ekor sapi yang juga milik orang tuanya.

Uang hasil jual tanah dan ternak itu digabungkan untuk modal berjualan sepeda. Termasuk untuk mengontrak kios yang kini dipakai untuk toko sepeda tersebut. Tahun pertama dan kedua, kata Bu Tumirah adalah saat-saat berat. Dia dan suaminya belum pengalaman menangani seluk-beluk dagang sepeda. Terkadang kebingungan waktu melayani pembeli. Terutama saat harus menyetel sepeda baru hingga siap dipakai pembeli. Terpaksa mereka mengupah tukang sepeda dengan bayaran lumayan besar. Hal itu membebani kemajuan toko sepeda Bu Tumirah.

Memasuki tahun ketiga, Bu Tumirah dan suaminya mulai menguasai lika-liku bisnis sepeda. Dia dan suaminya juga sudah terampil memasang semua suku cadang sepeda. Singkat cerita, urusan bengkel membengkel sepeda benar-benar telah dikuasai suami istri ini. Tenaga upahan yaitu tukang sepeda, tidak diperlukan lagi. Dengan begitu tidak perlu ada uang keluar sia-sia.

Bu Tumirah dan suaminya gotong-royong mengelola toko sepeda milik mereka. Misalnya, suatu ketika datang dua pembeli. Masing-masing langsung dilayani Bu Tumirah dan suaminya. Juga saat penentuan harga, bisa dilakukan Bu Tumirah sendiri atau suaminya sendiri. Bahkan dalam hal merakit sepeda sebelum dibawa pembeli, bisa dilakukan Bu Tumirah atau suaminya.

Melalui tata kerja macam itu, toko sepeda jadi efisien terutama saat melayani pembeli. Tidak harus menunggu lama seperti hanya dilayani satu orang baik oleh Bu Tumirah sendiri atau oleh suaminya. Agar lebih efektif, rumah tangga Bu Tumirah pun diboyong ke toko. Hingga toko bisa buka lebih pagi dan operasional sampai malam, karena juga dipakai untuk rumah tinggal.

Tahun ini Bu Tumirah dan suaminya bersyukur karena rezeki lebih lancar dari tahun lalu, hingga bisa mengembangkan usahanya agak lebih besar dari sebelumnya. Tampak di tokonya yang berukuran relatif sempit, kini dijejali dagangan sepeda segala ukuran dan jenis. Bu Tumirah juga mulai jual beli sepeda bekas. Sebab keuntungannya juga lumayan bagus.

Libur panjang kenaikan sekolah tahun ini bersamaan dengan Lebaran, hal itu membawa berkah bagi Bu Tumirah dan suaminya dalam berdagang sepeda. Banyak anak-anak mengisi liburan dengan bersepeda santai. Dan yang belum punya sepeda minta pada orang tuanya agar dibelikan sepeda. Saat Lebaran ini para pegawai atau pekerja swasta mendapat THR. Dari uang THR itu mereka banyak yang membelikan sepeda buat anak-anaknya.

Pada liburan sekolah dan Lebaran ini, sehari dari pukul 07.00 sampai 20.00 dagangan Bu Tumirah laku lima sampai enam buah sepeda. Harga sepeda terendah adalah Rp 250.000 dan termahal Rp 4 juta. Keuntungan tiap sepeda dari yang terkecil Rp 50.000 sampai terbesar Rp 300.000. Dengan begitu, dalam sebulan laba yang didapat mereka antara 6 sampai 9 juta rupiah. “Dengan keuntungan sebesar itu saya sangat bersyukur,” kata Bu Tumirah. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, pati, Jawa Tengah)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...