CERITA ANDA

Kebahagiaan yang Sebenarnya

Jangan pernah iri melihat kebahagiaan orang lain.
Kebahagiaan yang Sebenarnya
Ilustrasi persahabatan. (http://indowebby.com)

VIVA.co.id – Mina dan Minjoo adalah kedua perempuan yang bersahabat sejak lama dan selalu bersama ke mana-mana. Mina berasal dari kalangan orang miskin dan Minjoo berasal dari kalangan kaya. Walaupun dengan adanya fakta itu mereka tetaplah tidak peduli dan mereka tetap bahagia bersama berdua dalam persahabatan mereka.

Suatu hari mereka kebagian mengerjakan tugas berdua dan Mina mengusulkan untuk mengerjakannya di rumah Minjoo. Tapi Minjoo menolak dengan alasan rumahnya berantakan dan dia hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Namun, Mina tetap meyakinkan untuk mengerjakannya di rumah Minjoo karena mereka bisa sekalian membersihkan rumahnya setelah tugas mereka selesai.

Saat tengah mengerjakan tugas, ayah Minjoo pulang dengan wajah super kusut dan Mina melihat Minjoo menyambut ayahnya dengan baik. Tapi sayang, ayahnya hanya sebatas melirik tanpa memberikan jawaban apapun. Beberapa hari setelah kejadian di rumah Minjoo dan ini sudah memasuki akhir pekan, Minjoo ingin mengajak Mina berjalan-jalan bersamanya dan akhirnya Minjoo pun menjemput Mina di rumahnya. Minjoo melihat keadaan rumah Mina yang jika diukur rumah Mina hanyalah sebatas kamar tidurnya saja. Dia juga melihat begitu banyak orang berpakaian seperti berandalan di sana.

Setelah seharian menghabiskan waktu berjalan-jalan, mereka pun duduk-duduk sebentar di sebuah taman sebelum pulang. "Siang tadi siapa orang-orang itu Mina?" tanya Minjoo. "Mereka preman pasar," jawab Mina santai. "Mengapa mereka ke rumahmu?" Minjoo semakin penasaran. "Kau sangat ingin tahu sekali ya Minjoo?" jawab Mina sambil tertawa dan merangkul sahabatnya itu.

Keesokannya mereka mendapat tugas dari guru mereka lagi, dan kali ini tugasnya akan dikerjakan di rumah Mina. Saat mereka tengah mengerjakan tugas, tiba-tiba preman-preman yang kemarin langsung masuk ke rumah Mina tanpa permisi. Sontak Minjoo yang sedang berada di ruang tamu sendirian merasa terkejut atas kedatangan mereka. "Ada perlu apa kalian ke sini? Kalian mau merampok ya?" tanya Minjoo marah. "Di mana Mina? kami mencari dia!" jawab salah satu preman itu. "Aku tidak akan menjawab sebelum kalian jawab pertanyaanku. Katakan apa kalian mau merampok? Aku akan telepon polisi!" hardik Minjoo.

"Minjoo jangan! Mereka itu baik, kau tenang saja. Mereka tidak akan merampok rumah ini. Lagi pula tidak ada yang bisa diambil dari rumah ini," tiba-tiba Mina datang dari sebuah ruangan. "Mina, kami mau menyerahkan senjata ini. Berikan ke ayahmu, dan tolong sampaikan kalau kami sudah selesai menbangun musala untuk preman. Dan jika ayahmu ada waktu luang, tolong bilang silahkan mampir ke musala untuk melihat hasilnya," ucap salah satu dari mereka. "Baiklah, akan saya sampaikan Kak. Tapi, apa perintah ayah sudah kalian turuti?" tanya Mina. "Sudah. Boby sudah menyebar kepada seluruh preman di daerah ini untuk berpuasa, dan kami juga akan mengadakan acara buka bersama di saat tengah bulan nanti. Mina kami pamit dulu, ada hal lain yang harus kami lakukan," terangnya.

"Minjoo, maaf ya kamu pasti terkejut. Mereka memang tidak pernah izin dulu kalau mau masuk ,dan juga sudah banyak orang yang terkejut akan hal itu," jelas Mina sambil duduk di samping sahabatnya. "Iya, aku juga minta maaf sudah menuduh mereka yang bukan-bukan. Tapi apa yang mereka lakukan? Benar mereka membangun musala?" tanya Minjoo penasaran. "Iya nak, mereka membangun musala di dekat pasar untuk kumpulan preman di situ," tiba-tiba ayah Mina pulang dan memotong ucapan Minjoo. "Tidak setiap preman itu keterlaluan. Seperti mereka, ya awalnya mereka sangat keterlaluan tapi mereka sekarang sudah berubah," jelas ayahnya Mina. "Dan yang mengubah adalah ayahku," Mina menambahkan. "Kalian lanjutkan obrolannya ya, Ayah mau mandi dulu."

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...