CERITA ANDA

Idul Fitri dan Antusiasme Umat Islam Saling Bermaafan

Kata maaf harus membumi jangan diucapkan pada momen tertentu saja.
Idul Fitri dan Antusiasme Umat Islam Saling Bermaafan
Julkarnain Rajak. (U-Report)

VIVA.co.id – Angin segar hari raya Idul Fitri telah tercium. Kini sudah terdengar lantunan suara takbir, tasbih, tahmid, dan tahlil yang dikumandangkan dari ufuk timur sampai barat Indonesia, yang menandakan bulan suci Ramadan akan hanyut meninggalkan kita. Umat Islam pun kini mulai berbondong-bondong mempersiapkan dirinya untuk menyambut hari raya tersebut.

Hari raya Idul Fitri merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Pada prinsipnya, bagi umat Islam yang bersungguh-sungguh dan ikhlas menjalankan ibadah puasa ia akan kembali kepada kefitrahan atau kesucian layaknya bayi yang baru dilahirkan. Di samping itu, hari raya Idul Fitri juga merupakan momen yang tepat bagi umat Islam untuk saling bermaaf-maafan.

Kata maaf sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, akan tetapi kadang kita menyepelekan hal tersebut. Padahal kata maaf mempunyai makna yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Di samping bermakna mengakui kesalahan yang pernah kita perbuat kepada orang lain, juga bermakna untuk kembali menyambung tali silaturahmi yang mungkin retak pada hari-hari sebelumnya.

Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan kepada umat Islam agar tidak memutuskan tali silaturahmi baik dengan umat Islam itu sendiri maupun dengan umat beragama lainnya. Hal ini dikarenakan ketika terputusnya tali silaturahmi maka sudah tentu hubungan horizontal kita dengan orang lain (hablum minannas) tidak baik. Sementara Islam dalam perspektif agama sebagai rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam) menganjurkan kepada umatnya agar selalu menjaga hubungan baik antara manusia dengan Allah (hablum minallah), hubungan baik antara manusia dengan manusia (hablum minannas), dan hubungan baik antara manusia dengan alam (hablum minalalam).

Ketika ketiga hubungan ini selalu harmonis dalam kehidupan sehari-hari, maka menurut penulis kita akan berada pada koridor keadilan dan kesejahteraan dunia dan akhirat. Namun dewasa ini, kata maaf seakan-akan menjadi kata baru dalam Islam yang menunggu momen tertentu untuk disampaikan kepada orang lain. Momen tersebut salah satunya adalah hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Orang semua sibuk dan antusias mengucapkan kata “Mohon maaf lahir dan batin” pada hari itu. Padahal Islam sejak berabat-abad tahun yang lalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu meminta maaf kepada orang lain bila berbuat salah agar tali silaturahmi selalu terjaga. Menurut penulis, umat Islam kini harus membumikan kata maaf dalam kehidupan sehari-hari. Kata maaf harus jauh dari momen-momen tertentu agar hubungan kita dengan orang lain selalu harmonis, tali silaturahmi selalu terjaga, bahkan persatuan dan kesatuan bangsa ini akan kokoh meski kita berbeda dari berbagai aspek.

Penulis teringat dengan perkataan Almarhum KH. Abdurahman Wahid atau sering disapa Gus Dur ketika berdialog di Kick Andy. Beliau mengeluarkan kata-kata yang begitu bijak dalam memaafkan orang lain. Mengajarkan kepada bangsa ini agar tidak saling membenci bila ada orang lain menyakiti kita. Beliau berkata, “Maafkanlah kesalahannya jikalau dia berbuat salah kepada kita, tapi jangan lupakan kesalahannya.” (Tulisan ini dikirim oleh Julkarnain Rajak)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...