CERITA ANDA

Hari Kemenangan yang Sesungguhnya

Hari kemenangan tidak harus dirayakan dengan berlebih-lebihan.
Hari Kemenangan yang Sesungguhnya
Hari kemenangan (U-Report)

VIVA.co.id – Tidak terasa bulan Ramadan telah berakhir dan umat muslim yang ada di seluruh dunia pun merayakan hari kemenangan. Hari umat muslim tidak lagi diharuskan menahan lapar dan haus, tidak harus lagi melaksanakan salat tarawih dan witir.

Dengan berakhirnya bulan Ramadan, orang-orang ada yang merasa senang tapi ada juga yang merasa sedih. Senang karena mereka sudah tidak diharuskan melaksanakan kewajiban di bulan Ramadan yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT, seperti berpuasa menahan lapar dan haus. Ada juga yang sedih karena mereka merasa hanya di bulan Ramadanlah mereka bisa berkumpul bersama keluarga, teman, dan sahabat. Bisa pergi salat tarawih ke masjid bersama-sama, tadarus dan bisa mengajarkan sanak saudara yang masih kecil dan belum akil baliq untuk belajar berpuasa.

Namun, di balik hari kemenangan yang dirayakan oleh umat muslim di seluruh dunia, terdapat beberapa hal-hal yang bisa diambil pelajarannya. Pertama, kita bisa belajar menghargai mereka yang susah untuk mencari makan, hingga mereka sampai tidak bisa makan selama satu hari dan bahkan lebih. Karena itu umat muslim diwajibkan untuk berpuasa menahan lapar dan haus.

Kedua, bukan hanya lapar dan haus saja yang dilawan, tetapi juga hawa nafsu akan godaan yang terlihat di depan mata. Hawa nafsu terhadap lawan jenis yang terlihat menggoda, hingga kita tergoda untuk mengikuti hawa nafsu tersebut. Ketiga, melatih seseorang untuk tidak mudah berkata bohong kepada seseorang yang sedang ada di hadapannya. Karena dengan berbohong saja, puasa seseorang bisa saja menjadi batal. Dan yang keempat, ini merupakan hal yang paling penting menurutku. Mengetahui dan memaknai apa arti hari kemenangan tersebut.

Hari kemenangan yang kumaksudkan adalah hari seseorang berhasil melawan apa-apa saja yang telah dilarang untuk dilakukan di bulan Ramadan dan melaksanakan apa-apa saja yang harus dilakukan di bulan Ramadan. Banyak umat muslim di dunia ini yang merayakan hari kemenangan tersebut dengan berbagai cara. Ada yang berkumpul bersama keluarga, teman, dan sahabat. Ada juga yang merayakannya dengan menyalakan sebuah petasan yang bisa menimbulkan suara yang meriah dan terdengar riuh.

Memang terlihat meriah dan terdengar riuh, namun itu merupakan hal yang berlebihan. Bukan hanya itu saja, ada yang lebih berlebihan dari merayakan petasan, yaitu dengan memiliki segala hal yang baru. Baju, celana, dan sepatu harus baru, kalau tidak ada yang baru, tidak mau merayakan hari kemenangan. Ada yang sampai ngambek dan marah-marah dengan orang tua hanya karena tidak dibelikan baju, celana, dan sepatu baru.

Biasanya yang seperti itu adalah anak-anak yang sudah terlalu dimanjakan oleh orang tuanya. Hari kemenangan tidaklah harus dirayakan dengan berlebih-lebihan, bahkan ada yang sampai membeli perhiasan, yang jika dibandingkan harga perhiasan tersebut dan zakat yang harus dikeluarkan di bulan Ramadan sangatlah berbeda jauh, sangat jauh.

Hari kemenangan yang sesungguhnya ialah hari umat muslim memiliki hati dan jiwa yang telah bersih dari segala dosa-dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya selama hidup di dunia ini. Istilah tepatnya yaitu manusia tersebut akan merasa kalau dia telah terlahir seperti sedia kala. Seperti layaknya seorang bayi yang masih suci, bersih dan belum ternodai dari dosa-dosa. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...