CERITA ANDA

Kebangkitan Komunis antara Gaya Baru dan Modus Lama

Yang akan memecah belah NKRI adalah masalah kesenjangan sosial.
Kebangkitan Komunis antara Gaya Baru dan Modus Lama
Julkarnain Rajak, Ketua Umum PMII FKM UMI. (U-Report)

VIVA.co.id – Dewasa ini banyak golongan mengibarkan benderanya menghiasi negeri ini. Mulai dari golongan kanan sampai golongan kiri. Semuanya menawarkan keadilan dan kesejahteraan rakyat di bawah benderanya masing-masing. Bahkan ideologi Pancasila dan demokrasi dijadikan bahan lucuan di negerinya sendiri.

Kita seakan-akan lupa dengan perjuangan leluhur kita yang memperjuangkan ideologi bangsa ini. Perjuangan yang dimulai dari tetesan keringat hingga darah, kini hanya menjadi mitos dalam sejarah negeri ini. Bahkan akhir-akhir ini muncul isu tentang kebangkitan komunisme di Negara Indonesia yang menjadi sorotan publik dan menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan ilmuwan, politisi, aktivis mahasiswa, sampai masyarakat pada umumnya.

Isu kebangkitan komunisme di Indonesia seakan-akan menjadi tren isu di depan publik yang tak kalah dengan tren-nya gosip para selebriti di negera ini. Menurut penulis, isu kebangkitan komunisme bukanlah hal yang baru yang harus kita perbincangkan. Karena menurut penulis, paham komunis sudah ada di Indonesia sejak dulu. 

Sejak tahun 1912 paham komunis lahir dari hariban organisasi Islam yaitu Serikat Islam, sehingga muncullah tokoh-tokoh sayap kiri seperti Semaun (Presiden Serikat Islam) dan Darsono, anak didik Hendrik Sneevlit (tokoh sosialisme Belanda). Dari sinilah organisasi Serikat Islam yang dimotori Haji Samanhudi dan Tjokroaminoto akhirnya bisa diruntuhkan dari tubuh Serikat Islam itu sendiri.

Perjalanan komunisme di Indonesia, setelah organisasi Serikat Islam diruntuhkan tepatnya tahun 1917, lahirlah Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, pada saat itu nama Partai Komunis Indonesia (PKI) belumlah diketahui oleh masyarakat luas karena didirikan masih secara diam-diam. PKI juga pada saat itu menjadi fraksi kiri dari Serikat Islam. Namun, pada masa transisi Orde Baru kehancuran PKI mencapai puncaknya. Terjadi pergulatan antara non PKI dan PKI itu sendiri. Hal tersebut terlihat pada peristiwa G 30 S-PKI.

Akan tetapi pada masa Presiden RI ke empat, masa KH. Abdurahman Wahid atau sering disapa Gus Dur, sang kiai yang humoris ini dianggap mengeluarkan kebijakan yang kontroversial karena mencabut TAP MPRS XXV 1966, yang isinya tentang pelarangan ideologi komunis, marxisme.

Hal tersebut menjadi perbincangan di mana-mana. Bahkan sebagian kalangan mengkhawatirkan PKI akan mendapat angin segar untuk bangkit kembali. Sang kiai yang sederhana, humoris, sekaligus jenius tersebut mendapat perbincangan di publik. Dan yang lebih parahnya lagi, sang kiai dikatakan sebagai pendukung PKI.

Namun, hal tersebut tidak mengubah niat bahkan menjadi semangat untuk terus konsisten melakukan pencabutan terhadap TAP MPRS XXV 1966 karena dianggap melanggar Hak Asasi Manusia dan Konstitusi Negara ini. Menurut Gus Dur ia hanya menjalankan amanat konstitusi yakni UUD yang mengusung kebebasan berekspresi dan berpendapat di depan umum tanpa harus ada perbedaan.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...