CERITA ANDA

Anakku, Kemana Engkau Harus Melanjutkan Sekolah?

Disiplin lebih agar terbentuk jati diri dan karakter yang baik.
Anakku, Kemana Engkau Harus Melanjutkan Sekolah?
Saya dan istri (U-Report)

VIVA.co.id – Di penghujung tahun pelajaran ini, saya sebagai seorang ayah yang memiliki anak sulung yang baru lulus tingkat dasar, tidak henti-hentinya bolak-balik berpikir tentang ke mana seharusnya anak saya melanjutkan sekolah tingkat pertamanya.

Sebagai seorang kepala keluarga, bisa saja saya berlaku otoriter, “Nak kamu melanjutkan sekolah ke sini saja, ke sana saja, dan seterusnya.” Tapi di zaman anak sudah tidak gaptek sekarang ini, malu juga kalau sampai diprotes, “Yah, kata pak guru, kata facebook juga, di google juga, katanya anak harus dibebaskan untuk memilih masa depannya. Masa ayah maksa-maksa kaka.”

Duh, betul juga, anak sekarang memang lebih pintar dari kita orang tuanya saat seusia mereka kini. Ini tidak terlepas dari media internet yang sudah sangat mudah diakses. Kalau pas zaman saya dahulu, mesti jauh-jauh ke perpustakaan untuk mencari bahan baca. Kalau pun dekat, ya paling koran bekas bungkus yang isi bacaanya pun hanya berita kriminal dan iklan-iklan kolom. Atau kalau pun dapat koran bermutu, sudah tidak utuh bacaannya karena sambungannya hilang.

Tapi bagi anak sekarang, bacaan-bacaan sebagai sumber wawasan mereka sudah siap, bahkan ada di genggaman melalui smartphone-nya. Di mana-mana sambungan wifi online, sangat mudah bagi mereka belajar, membaca, mencari tahu tentang hal apapun.

Hanya tetap saja sebagai seorang ayah yang setiap hari disuguhi berita-berita mengerikan tentang rendahnya moralitas generasi anak bangsa ini, akhlak yang terkikis dengan perbuatan kriminalitas, pencabulan, narkoba, hati ini jadi deg-degan juga. Sangat khawatir. Anak yang sejak dalam kandungan, kemudian lahir, tumbuh dan berkembang besar, saya dan bundanya selalu elus-elus dengan kasih sayang penuh, apakah harus kemudian terlibat, terjerat, dan menjadi korban dengan semua itu?! Naudzubillah. Semoga anak saya dan anak kita semua dijauhkan dari hal menakutkan itu.

Menurut hemat saya, saat ini lingkunganlah yang sangat susah kita imbangi dalam hal pendidikan anak. Baik oleh pendidikan keluarga, atau pun oleh pendidikan sekolah. Saat kita bersepakat dengan bapak-bapak dan ibu-ibu guru di sekolah untuk mensalehkan dan mencerdaskan anak-anak kita, di saat yang sama lingkungan memberikan tawaran-tawaran kepada anak kita yang tidak hanya positif, tetapi juga sarat negatifnya. Dan yang sangat disayangkan, kenapa yang negatif lebih menggiurkan bagi anak-anak kita? Maka mulailah timbul masalah bolos, tawuran, narkoba, dan yang lain-lain yang cenderung negatif.

Ya sudahlah, kalau masalah amat-mengamati persoalan lingkungan, kita dan bangsa ini saya yakin sudah pada pintar. Ya, setiap hari sering mendengar, melihat, membaca pengamat-pengamat berkomentar yang kadang menbuat kita juga berkomentar.

Kembali ke soal ke mana anak saya harus melanjutkan sekolah. Sudah sejak anak saya naik ke kelas VI tingkat dasar, saya dan bundanya sering diskusi ke mana nanti anak sulung kami melanjutkan sekolah tingkat pertamanya. Hasil diskusi alot, akhirnya kami putuskan untuk memasukkan anak kami ke sekolah yang berasrama.

Dengan pelan-pelan saat kami berkumpul, rencana itu saya sisipkan dalam obrolan-obrolan. Walau tanpa penolakan, tapi dari ekspresi wajah tampak keengganan anak saya atas rencana tersebut. Kesan ke sekolah berasrama seolah dibuang jelas sekali dari wajah anak saya. Puncaknya saat pendaftaran sekolah lanjutan mulai dibuka. Mulai ada tekanan dalam perasaan saya bagaimana membuat positif rencana ini. Apakah harus dengan paksaan atau bagaimana?

Anak saya memang sampai saat ini belum menolak, bahkan sudah ikut tes dan dinyatakan lulus di salah satu sekolah berasrama. Hanya ucapan, “Yah, nanti boleh bawa HP ya, boleh bawa laptop ya?” yang selalu terucap. Padahal barang-barang itu yang sementara waktu dilarang untuk dibawa dulu.

Mungkin pembaca ada yang memiliki kasus yang sama dengan saya, dilema memilih lembaga pendidikan bagi anak-anak kita. Tapi saya pernah membaca ulasan seorang psikolog, bahwa di usia anak saya saat ini posisi kita ibarat sipir pada narapidana, yang mesti mengawasi dan memastikan untuk perbaikan-perbaikan perilakunya ke depan. Dengan sedikit disiplin lebih agar terbentuk jati diri dan karakter yang terbaik.

Di akhir tulisan, saya tidak bermaksud membandingkan mana yang lebih baik antara lembaga pendidikan yang berasrama atau regular (non asrama). Hanya bagi saya yang agak sibuk kerja, sangat khawatir dengan anak saya yang memiliki banyak waktu luang sepulang sekolah. Khawatir anak saya larut dalam pragmatisme lingkungan yang hedonis yang melupakan adab kepatutan, dan saya takut kecolongan oleh itu. Mungkin sekolah yang berasrama menjadi pilihan yang terbaik. (Tulisan ini dikirim oleh Agussukendar)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...