CERITA ANDA

Susahnya Terjebak Banjir

Di saat genting seperti ini yang dibutuhkan adalah ketenangan.
Susahnya Terjebak Banjir
Banjir (U-Report)

VIVA.co.id – Dulu, rumah saya adalah langganan banjir. Sebenarnya daerah di tempat saya itu bukan daerah banjir, tapi bentuk rumah saya yang dulu terlalu rendah. Jadi, setiap hujan besar sedikit saja pasti langsung banjir. Banjirnya memang tidak terlalu besar, hanya semata kaki. Tapi ternyata dengan banjir semata kaki itu sudah cukup membuat saya kewalahan.

Saya yang waktu itu masih berumur 5 tahun punya side job lain di samping mengerjakan PR dan nonton Si Unyil di TVRI. Side job saya adalah setiap terjadi banjir saya harus ngeluarin air yang menggenang di halaman rumah dengan menggunakan ember, gayung, ataupun baskom biar rumah saya enggak kemasukkan air.

Biasanya saya melakukan hal itu sambil menangis (ditambah ingusan) karena saya takut air hujan akan masuk ke kamar dan menghanyutkan koleksi Tamiya milik saya. Tiap air masuk ke halaman rumah, sambil mencidukkan air, saya pasti menangis sesengukkan sambil berdoa "Tuhan, tolong berhentikan hujan ini. Aku enggak mau hanyut ke kali, huhuhu". Tapi semua berubah sejak rumah saya yang lama dihancurkan dan dibangun baru.

Karena sekarang rumah saya tinggi, air pun tidak pernah bisa masuk ke halaman rumah lagi. Saya yang dulu setiap hujan selalu menciduk air sambil mewek, sekarang hanya ngelihatin tetangga saya yang kewalahan menciduk air dari balik jendela. Bahkan selama saya tinggal 3 bulan di Jakarta yang katanya selalu banjir itu, saya tidak pernah ketemu banjir. Semuanya lancar-lancar saja, saya tetap bisa membaca komik Gober sambil berselimut tebal tanpa harus takut kena banjir.

Tapi memang yang namanya musibah bisa datang kapan saja. Tanpa ada kode apa-apa, tanpa ada pertanda apa pun tiba-tiba saya terjebak banjir di Jakarta. Sebenarnya ini cukup memalukan sih, atau lebih tepatnya saya lagi sial.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...