CERITA ANDA

Cinta dan Kesetiaan dalam Sepak Bola

Kesetiaan dalam sepak bola adalah kesetiaan yang hampir buta.
Cinta dan Kesetiaan dalam Sepak Bola
Chelsea FC (U-Report)

VIVA.co.id – Sono Milanese ma non sono Milanista (saya orang Milan tetapi bukan tifosi AC Milan). Ungkapan ini bisa keluar dari mulut seorang Italiano ketika dia ditanya darimana asalnya. Ya, bicara soal fans sepak bola tidak bisa semata-mata dilihat dari faktor genital atau regional seorang tifosi. Bisa jadi si Italiano tadi seorang Interisti, Romanisti atau Juventini.

Ibarat seorang yang sedang jatuh cinta, demikianlah juga dengan seorang tifosi. Emosinya lebih banyak bermain daripada nalar. Ia akan mengerahkan segala kemampuan untuk mendukung tim kesayangannya dengan cara-cara yang menurut kaca mata orang awam unik, aneh, dan bahkan tidak masuk akal. Kalau menang, cinta seorang tifosi terhadap timnya makin subur mekar. Kalau kalah ia murung, sedih, tak bergairah tetapi tidak sampai pindah ke lain hati.

Mungkin nasihat bagi para penggila bola Italia ini bisa menggambarkan maksud itu. Tu puoi avere du moglie ma tu hai soltanto una squadra. Devi amarla piu che moglie (engkau dapat mempunyai dua istri namun engkau hanya boleh mempunyai satu klub sepak bola. Engkau harus mencintainya melebihi istri-istrimu). Memang agak hiperbolis rasanya, tetapi orang Italia merasa tidak berdosa bila mempunyai l’amante (istri simpanan) di samping istri sah, hanya merasa berdosa kalau mencintai dua klub sepak bola.

AS Roma ya Romanisti. Lazio ya Laziale. Haram kalau jatuh cinta pada keduanya. Maka dari itu, atas nama cinta pula para Liverpudlians akan menyanyikan lagu hits Gary and The Peacemakers yang tenar di tahun 1960-an: You’ll Never Walk Alone di stadion Anfield atau di mana saja The Reds bertanding. Juga para pendukung West Ham United yang menyanyikan lagu kebanggaan mereka We’ll Never Stop Blowing Bubles saat jenazah ibu dari Frank Lampard diusung karena anaknya dulu adalah pemain West Ham United.

Everton dan Liverpool FC adalah dua klub liga Inggris dari kota yang sama, tetapi kalau keduanya terlibat derby maka dalam satu rumah orang tua bisa mengenakan jersey Liverpool dan anak-anak mereka mengenakan jersey Everton. Lalu, mereka pun berteriak untuk tim yang mereka cintai. Maklum, warga Liverpool terkenal gila bola. Selain The Beatles dan Titanic, dua klub sepak bola, Everton dan Liverpool juga menjadi ikon kota yang terletak di tepi sungai Mersey itu.

Ini soal cinta, dan bagi seorang Madridista sampai kapan pun dia tetap Madridista meski timnya tersingkir di Liga Champions. Kesetiaan seorang tifosi tidak akan terguncang oleh apa pun yang terjadi pada klub kesayangannya. Di sini kesetiaan dalam sepak bola seringkali adalah kesetiaan yang (hampir) buta seperti juga cinta.

Jadi, fanatisme dalam sepak bola bukan terjadi hanya karena seseorang melihat sepak bola dari satu sisi saja, tetapi lebih dari itu. Karena ia sudah terlanjur jatuh cinta dan di dalamnya terselip satu pesan, setialah! (Tulisan ini dikirim oleh Ricko W, Maumere, NTT)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...