CERITA ANDA

Panorama Danau Ranu Kumbolo

Untuk menemukan dan menikmati keindahan diperlukan perjuangan.
Panorama Danau Ranu Kumbolo
Bersama teman-teman di Danau Ranu Kumbolo. (U-Report)

VIVA.co.id – Dua tahun yang lalu, tepatnya saat memulai liburan semester 5, saya dan teman-teman sekelas berencana untuk pergi menikmati liburan kuliah ini ke Kota Malang. Tujuan kami yaitu pergi mendaki ke Danau Ranu Kumbolo yang letaknya berada di bawah puncak Gunung Semeru.

Ketika tiba hari yang telah direncanakan, kami pun mulai menyiapkan dan mengemasi barang-barang serta perlengkapan yang dibutuhkan selama perjalanan. Kami berangkat dari Surabaya pada malam hari tepatnya jam 12.00 dan sampai di Kota Malang tepat jam 03.00 dini hari.

Ketika sampai di Malang, kami langsung mencari tumpangan untuk bisa pergi menuju ke Ranupani. Dan akhirnya kami naik angkot untuk pergi ke tempat pendaftaran pendaki yakni di Daerah Tumpangi. Setelah tiba di sana, kami beristirahat sejenak untuk melakukan salat subuh dan mendaftarkan anggota kami yang akan melakukan pendakian.

Sekitar pukul 05.00 kami melanjutkan perjalanan ke Ranupani dengan naik mobil Jeep yang dibilang agak sempit kalau diisi oleh 10 orang. Pada saat sampai di Ranupani, kami menyelesaikan dulu administrasi untuk bisa masuk ke area pendakian gunung, dan akhirnya pada jam 08.30 kami memulai perjalanan dari Ranupani menuju tempat tujuan yakni Danau Ranu Kumbolo yang jaraknya sekitar 10,5 kilometer.

Selama perjalanan, kami sangat menikmati sejuknya udara dan indahnya pemandangan yang berada di sekitar kami. Walaupun terkesan menakutkan karena jalan yang kami lalui sangat berdekatan dengan jurang. Setelah melalui perjalanan yang sangat panjang dengan jarak tempuh 10,5 km, kami akhirnya tiba di Danau Ranu Kumbolo tepatnya pada pukul 15.45.

Dengan kaki yang sangat kelelahan, kami beristirahat sejenak lalu membangun sebuah tenda dan menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk mengisi perut yang sudah terkuras habis isinya. Alangkah indahnya panorama di Danau Ranu Kumbolo, di mana di dalamnya mengalir air yang sangat jernih dan ada ikan-ikan kecil yang berenang. Di sebelah danau juga ada sebuah bukit yang masyarakat di sana menyebutnya dengan sebutan Bukit Cinta. Konon ceritanya, jika seorang pendaki yang sedang mendaki bukit tersebut tidak boleh menoleh ke belakang karena bisa menyebabkan si pendaki tidak bisa menemukan cintanya atau istilahnya “jomblo berkepanjangan”.

Sejenak saat beristirahat di dalam tenda sambil melihat dan menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan, saya hanya berpikiran dan berucap dalam hati saya bahwa untuk menemukan dan menikmati keindahan itu perlu perjuangan yang keras dan sangat melelahkan. Dari perjalanan ini saya akhirnya bisa memetik sebuah pelajaran bahwa untuk mewujudkan impian yang kita inginkan, kita tidak bisa hanya dengan berpangku tangan, berdoa,berharap, dan berangan-angan impian itu akan terwujud. Tetapi kita harus bisa bertindak, berjuang dan berupaya untuk mewujudkan impian yang kita inginkan, dengan sebuah usaha dan disertai untaian doa. (Cerita ini dikirim oleh Basori Alwi, Surabaya)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...