CERITA ANDA

Bangku Kosong di Dalam Kelas

Alasan mereka tak mengisi bangku dalam kelas mulai tampak.
Bangku Kosong di Dalam Kelas
Bangku kosong di dalam kelas. (U-Report)

VIVA.co.id – Di pagi hari saat mentari menyatu kembali dengan bumi, aku duduk di antara bangku kelas yang kosong. Di dalam kelas hanya ada aku serta tiga orang lainnya dan selebihnya adalah bangku yang kosong. Aku lalu memilih untuk diam. Benakku sepi, ditinggal seorang diri. Namun ternyata ruang kelas itu lebih sepi karena banyak bangku kelas yang kosong.

Dalam ruangan kecil yang sederhana itu, sesekali aku menatap bingkai jendela. Mataku berteman dengan airmata dan seketika melihat kawanan anak kecil yang bermain di tengah sawah. Pertanyaanku ke mana penghuni bangku dalam kelasku telah terjawab. Harapan bangsa adalah anak kecil yang seharusnya duduk di bangku kosong dalam kelas ini. Melihat bangku-bangku kosong itu seakan dunia telah berkhianat.

Perintah membaca tergantikan dengan membajak. Perintah menulis tergantikan dengan menanam. Bukankah seharusnya mereka ada di antara kami, mengisi setiap bangku yang kosong? Ada apa dengan bangku itu? Kenapa penghuninya malah memilih pergi ke tempat yang basah?

Cerita anak kecil di ruang kelas sebenarnya sangat menarik, tetapi apalah daya jika mereka memilih keluar dari skenario itu. Bagi mereka mungkin itu merupakan kenyataan akan semua harapan-harapannya. Bermain lumpur di tengah sawah, itu pilihan mereka. Entah rahasia apa yang tersembunyi di balik bangku-bangku yang kosong itu.

Seiring berjalannya waktu, bangku yang tadinya muda telah menua. Alasan mereka tak mengisi bangku dalam kelas mulai tampak. Pendidikan yang mahal dan mendiskriminasi, harga buku yang setara dengan hasil keringat mereka, menjadikannya malas bertatapan dengan papan tulis dan poster pahlawan di dinding kelas. Bangku kosong adalah pemandangan yang sangat menakutkan bagi diriku. Semoga saja kalian tidak bersedih ditinggal pergi oleh tuanmu.

Aku ingin menjadi gurumu. Berutang budi, itulah yang sering dikumandangkan seseorang kepada gurunya. Mulai dari kecil ketika aku dan kita dirayu untuk menjawab cita-cita, maka aku ingin menjadi guru, itulah jawabku. Entah apa yang spesial dari profesi ini. Bagiku guru adalah sosok yang luar biasa, tapi tentunya biasa saja bagi orang yang tak punya cita-cita. Jika guru tidak pernah ada, maka siapa yang akan mengajarkan kalian bagaimana caranya menjadi manusia yang baik dan jujur?

Entah kenapa di ruang kelas banyak yang membenci kehadirannya dan justru bahagia dengan ketiadaannya. Bangku kelas yang mulai kosong, kursi-kursi tua yang mulai membisu, menjadi bukti kebencian itu. Apa yang salah dari seorang guru? Bukankah mereka lahir sebagai pahlawan tanpa tanda jasa? Bukankah presiden, gubernur, menteri, bahkan pejabat negara lainnya pernah mencuri ilmu dari seorang guru?

Guru ibarat kata yang tak mampu diterjemahkan. Hidup di antara spasi kebencian, kebahagian, dan harapan. Berjalan menyusuri jarak dan membenci rasa malas. Semangat adalah kata yang harus ia pegang teguh. Satu hal yang paling ia takutkan, yakni ketika penghuni kursi beranjak pergi meninggalkan ruang kelas untuk waktu yang lama. (Tulisan ini dikirim oleh DG. Abbas)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...