CERITA ANDA

Belajar dari Laba-laba

Ada kalanya hati terkoyak, makin banyak lukanya akan semakin pedih
Belajar dari Laba-laba
Laba-laba (U-Report)

VIVA.co.id – Aroma kopi menyeruak dari cangkir keramik di depan hidung. Kepulan asapnya menari-nari di udara, meliuk-liuk gemulai sebelum akhirnya berbaur dengan hembusan udara. Kuhirup ribuan senyawa aromatik yang terkandung dalam bubuk hitam yang terpanggang air mendidih tersebut. Hmm, menggoda! Lalu kuseruput pelan-pelan sensasi rasanya. Sungguh nikmat!

Lidahku dibuai kenikmatan yang sulit diucapkan dengan bahasa puisi karena cita rasa kopi hitam adalah puisi itu sendiri. Cangkir kuletakkan di atas meja, kemudian kulemparkan pandangan ke luar rumah. Embun menguap gelisah disetubuhi hangat sinar mentari. Daun-daun pohon kersen menaungi teras rumah. Di bawahnya barisan tanaman beluntas berbaris mengelilingi pembatas rumah.

Kuambil sebatang rokok dari bungkusnya, menjepitnya di bibir, lantas membakar ujungnya. Kuhisap dalam-dalam kemudian menghempaskan asapnya ke atas. Nikotin yang mengendap di paru-paru merangsang otak untuk berkhayal. Benakku dipenuhi bayangan wajah cantik Citra Kirana, kecanggihan Samsung Note4, keindahan terumbu karang Raja Ampat, kenaikan gaji, dan senyum manis gadis impianku yang sekarang sudah menjadi istri orang.

Kesempurnaan Minggu pagi ini tiba-tiba dirusak oleh kedatangan Ruslan. Tanpa mengucap salam, langsung saja ia masuk dan berdiri di depanku dengan muka ditekuk sedemikian rupa. Tatapannya layu seperti tumbuhan putri malu yang tersentuh tangan. Bibirnya mirip sawah yang kekeringan. Rambut keritingnya acak-acakan. Mengenaskan sekali.

"Aku ditolak lagi!" ucapnya parau, nyaris tak terdengar. Wajahnya diselimuti awan tebal. Seperti sedang terjadi badai di bola matanya. "Duduklah!" suruhku mencoba menerapkan pertolongan pertama pada kekusutan. Ia menghempaskan tubuhnya pada kursi kayu di sebelahku. Sebegitu kacaukah pikirannya, sampai tak peduli jika tulang belakangnya bisa remuk ketika pantat dan punggungnya dihujamkan ke kursi jati tua tersebut?

"Kamu pernah bilang kepadaku jika ditolak adalah jadian yang tertunda, bukan? Pepatah itu apa pernah diuji sebelumnya?" tanya Ruslan dengan tatapan seperti ingin menghakimiku. Badai itu kini semakin mengganas, siap meluluhlantakkan apa saja yang ada di sekitarnya. "Ya!” jawabku tegas. ”Itu berlaku untuk umum?" Aku mengangguk. "Termasuk aku yang jelek ini?" Aku mengernyit. Sebenarnya Ruslan tidak terlalu jelek. Wajahnya oval terbungkus kulit sawo matang, hidung agak pesek, rahang kokoh, tubuh atletis, pokoknya standar nasional.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...