CERITA ANDA

Hikayat Si Gadis Kuyang

Mustikanti dianggap sebagai gadis celaka buruk rupa di kampungnya.
Hikayat Si Gadis Kuyang
Hantu Kuyang di malam hari (U-Report)

VIVA.co.id – Gadis mana yang tak ingin tampil menawan bak rembulan, menjadi incaran setiap lelaki dalam hidupnya? Dan tak seorang gadis pun yang ingin merana, karena tak ada perjaka yang menginginkannya di seumur hayat. Betul begitu?

Namun, apalah daya bila Sang Pencipta para gadis tersebut justru menginginkan salah seorang dari gadis ciptaannya itu diberi wajah yang tak seindah rembulan, hingga para perjaka tak berhasrat pada si gadis itu? “Sudahlah, Mus! Hidupmu tak layak kau tangisi hanya karena tak seorang perjaka menghendakimu,” ucap Selfa pada tetangganya, Mustikanti, gadis celaka yang hari-harinya dilalui dengan menangis dan menangis.

Seorang Mustikanti cukup tenar di kampungnya, namun tenar karena penduduk menganggapnya sebagai gadis celaka yang tak memiliki wajah seorang gadis. Mereka lebih suka menganggapnya sebagai pria gelap berambut keriting, beralis tebal, namun dada dan kelaminnya adalah milik seorang gadis. Ada pula yang menuduhnya sebagai gadis celaka yang keluar dari rahim seekor ajag (anjing hutan) betina. Jadi tak usah ditanya perihal kerjaan si gadis celaka yang setiap hari hanya menangisi hidup.

Padahal, hampir setiap gadis lain di kampung itu telah sudi berteman dan membujuknya setiap hari. Mencoba menyenangkan hati gadis itu, selalu ada di sisinya, dan menghabiskan waktu untuk ikut prihatin dan siap menyeka air mata si Mustika. Walau sebenarnya semua itu mereka lakukan hanya karena begitu kasihan pada wajahnya yang tak sedap dipandang itu. Dan meski terkadang mereka juga tak bisa menahan diri untuk menertawakan wajah itu.

Di suatu hari yang tak terduga, telah hinggap suatu kabar angin di telinga Mustikanti yang sedang sibuk menjatuhkan airmata di atas kasur dan bantal di kamarnya. Entah dari mana asal kabar angin itu, dan entah bagaimana bisa sampai di lubang telinga gadis malang itu. Mungkin kabar angin itu ditiup oleh bibir-bibir para gadis yang gemar berkumpul dan bergunjing ria di warung-warung pagi hari. Rupanya kabar itu bukan kabar angin biasa. Bagi Mustikanti, kabar itu adalah kabar angin nan sepoi-sepoi, yang dapat menyejukkan hatinya yang telah lara sekian lama.

Kabar itu mengabarinya bahwa ada seorang dukun tua yang dengan ilmunya dapat merubah wajah orang menjadi secantik wajah Nawang Wulan, gadis khayangan yang mulai terlupakan. “Aku harus menemui dukun tua itu dan menerima semua ilmunya,” pikir Mustikanti dalam hati. Dukun tua itu cukup jauh dan sulit ditemukan. Ia bermukim di antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, dekat dengan Sungai Mahakam. Cukup jauh dari tempat kaki Mustikanti berpijak yang berada di Kalimantan Barat. “Hanya dengannya aku dapat merubah nasibku yang celaka menjadi bahagia,” lagi-lagi pikirnya dalam hati.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...