CERITA ANDA

Generasi yang Hilang

Karena tidak tahu kadang kita merasa tidak ingin ikut campur.
Generasi yang Hilang
Foto yang saya ambil di daerah Frontage road Jl. Ahmad Yani Surabaya. (U-Report)

VIVA.co.id – "Apa kau tahu jarak yang paling jauh, tetapi tidak pernah terlihat? Ketidaktahuan." Seperti itu kira-kira ucapan lelaki paruh baya itu. Tepatnya dua belas tahun yang lalu, saat aku masih berusaha mengeja dan menghapalkan nama-nama benda yang ia sodorkan padaku. Kemudian ia akan kembali mengoceh tentang kebodohan orang-orang Tengah yang tidak mau mengerti tentang orang-orang Timur. Dan betapa bodohnya, ia membodoh-bodohkan orang tengah yang tak mau mengerti tentang orang timur.

Ia lalu menatapku dalam-dalam, seraya mengucapkan mantranya, "Walaupun mereka berbeda, mereka memiliki kesamaan, sama-sama berpikir bahwa kamu adalah produk gagal, anakku yang malang. Kamu mengerti apa yang ayah bicarakan. Namun, mereka berpikir bahwa aku sedang berkhayal karena berbicara denganmu, produk gagal."

Entah kenapa, saat itu tidak ada rasa sakit di hati ini. Karena setiap ia bercerita, kemudian mengucapkan mantranya itu, ia menjadi orang yang paling bahagia yang pernah aku tahu. Ia sangat bersemangat dan terlihat sangat ekspresif. Aku sangat menyukai wajah keriput yang sudah lama tidak tergurat senyum kebahagiaan itu.

Waktu berputar dan entah sejak kapan aku mulai menginjak usia wajib untuk mencicipi bangku pendidikan formal. Aku dan teman-teman angkatanku mendapatkan kelas khusus dikarenakan jumlah kami yang hanya ada 10 anak di sekolah yang kelas pemulanya berjumlah 4 ruang. Seluruh staf pengajar dan kakak-kakak kelas kami memperlakukan kami dengan “khusus” pula.

Pada tahun pertama, setiap upacara bendera kepala sekolah akan menyampaikan prasangkanya telah dipermalukan oleh angkatan kami. Karena aku dan kesembilan orang teman seumuranku, nama baik sekolah yang ia pimpin ini menjadi rusak. Setelah upacara, biasanya kakak-kakak kelas akan menjalankan ritual “khusus”nya pada kami dengan disaksikan para staf pengajar dan pegawai di sekolah itu.

Tidak ada yang berani melapor, karena kami tidak punya siapa-siapa selain diri sendiri. Ketika kami mengadukan apa yang telah kakak kelas kami lakukan, respon yang kami dapatkan sama, tidak ada tanggapan dan tindak lanjut. Akhirnya, kami hanya bisa bercerita satu sama lain. Menanggung perlakuan “khusus” ini bersama-sama.

Dari sepuluh anak di angkatanku ini, tujuh orang adalah laki-laki sedang sisanya perempuan. Perlakuan “khusus” mereka akan naik tingkat setiap ujian akhir kelas kami selesai. Aku ingat, saat itu ujian akhir pertama yang kami lewati. Dengan berharap-harap cemas akankah kami naik ke tingkat lanjut atau tetap di tingkat pemula, tiba-tiba dari ujung koridor segerombolan kakak kelas perempuan menghampiri kami yang sedang duduk di depan mading sekolah, tempat pengumuman ditempelkan.

Kelimabelas kakak-kakak perempuan itu menyeret kami ke belakang gedung sekolah, tempat kebun sekolah berada. Tempat terbuka paling luas yang ada di sekitar area sekolah. Para murid lelaki dicekoki suatu cairan bening yang ditampung di wadah kaca berwarna hijau. Ada yang sampai muntah-muntah, kemudian disuruh meminumnya lagi. Sedangkan murid-murid perempuan dipegangi menghadap para murid lelaki yang dicekoki itu, dan jika ada yang memalingkan wajah, mata murid tadi diselotip hingga ia tak dapat mengedipkan kelopak matanya. Dipaksa melihat, meskipun tidak mau.

Dua puluh menit berlalu dan kami pun selalu ditinggalkan begitu saja. Sisa isak tangis masih tergurat, hela napas tak beraturan masih terdengar, racauan sumpah serapah mengutuk takdir terdengar bersahut-sahutan, hingga akhirnya kami pun menenangkan satu sama lain, membenarkan letak baju, rambut, dan lain-lain. Kami berpura-pura tidak terjadi apapun dan kembali ke dalam kelas. Meskipun sudah menjadi rahasia umum, pasti terjadi sesuatu terhadap kami setiap kali kami kembali ke kelas.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...