CERITA ANDA

Aku Akan Menunggu untuk Bisa Menikah Denganmu

Aku ingin membawanya kembali ke dalam pelukanku.
Aku Akan Menunggu untuk Bisa Menikah Denganmu
Ilustrasi (Pixabay)

VIVA.co.id – Pertama kali kami bertemu ketika aku masih duduk di bangku kelas 2 SMK. Tompel di wajahnya, senyumnya yang manis, wajahnya yang bulat, rambutnya yang panjang, ekspresi wajahnya yang malu-malu tapi mau, dengan kerudung yang membuatnya tampak terlihat perempuan yang alim dan sholehah. Aku berpikir, “Suatu saat aku ingin menikahi wanita ini”.

Itu adalah pertama kali kami bertemu. Itu juga awal pertama kali aku jatuh cinta, aku mengalami apa yang namanya fallin in love. Padahal sebelumnya aku belum pernah sama sekali bertemu dengan dia, dan aku pun sudah berpacaran sebelum jatuh cinta dengan dia. Sungguh aneh!

“Hai, namanya siapa?” Aku sungguh malu untuk bertanya padanya, padahal sebelumnya aku sangat gampang untuk mengatakan pertanyaan itu kepada perempuan. Bukan hanya perempuan, tapi dengan laki-laki juga, namun yang jelas aku bukan pecinta sesama jenis loh. Empat bulan berselang, aku pun tahu namanya, Putry Yenilasari Dila. Waw, nama yang cantik, seperti orangnya. Aku jatuh cinta, aku ingin memilikinya.

Orang-orang banyak mengatakan kalau cinta itu tidak harus memiliki, tapi cukup menyayangi dan melihatnya bahagia. Yap, itu adalah benar. Kami pun saling kenal. Kami tidak sempat pacaran, tapi kami hanya berteman. Aku tidak berani menembaknya karena aku sadar aku ini jelek dan tidak pantas untuknya yang terlihat cantik, manis, dan sempurna untuk dimiliki. Padahal aku tahu tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang sempurna, tapi aku menganggap dengan memilikinya adalah hal yang terindah di dalam hidupku karena di mataku dia adalah perempuan yang sempurna.

Bukan pacaran tapi kok punya panggilan sayang yah? Haha, lucu. Aku memanggilnya dengan sebutan “jelek” dan dia memanggilku “Bulug”. Tidak bosan-bosannya kami saling sms, telepon, dan chat. Akhirnya munculah kecanggungan ketika saudaranya tahu kalau aku dekat dengan Ila (sapaannya di rumah). Aku menembaknya agar tidak ada kesalahpahaman, tapi aku ditolak dengan alasan dia belum mau pacaran. Sakit? Ya, jelas sakit. Aku tidak tahu kenapa aku ditolak, namun aku tahu kalau aku juga sebenarnya belum siap pacaran dengannya. Mungkin paksaan saja agar aku bisa terus berhubungan dengannya.

Semuanya berjalan normal setelah kejadian itu. Aku menjalani aktivitasku sebagai anak muda yang duduk di bangku kelas 3 SMK. Punya teman perempuan, pdkt, dan bahkan pacaran dengan perempuan lain, selain Dila. Jujur, aku pacaran dengan perempuan lain hanya karena aku ingin move on dari dia, namun tetap saja tidak bisa.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, aku masih belum bisa move on. Setelah aku lulus dari SMK aku ingin melupakannya dengan cara tidak mau bertemu dengannya. Tapi ada saja kejadian di mana kami saling bertatapan wajah, bahkan kedua mata kami saling melihat. Kami mempunyai saat yang tepat ketika berpandangan. Inikah jodoh?

Satu tahun lamanya aku menutup diri di dalam kamar, aku tidak mau keluar rumah, dan bahkan aku tidak mau bersosialisasi dengan orang lain. Teman, sahabat, dan keluarga, aku acuhkan agar aku bisa melupakannya. Tepat pada pertengahan tahun, aku mendengar kabar kalau dia akan menikah. Sakit? Jelas saja semakin sakit hati ini. Bahkan ingin rasanya aku mati dan pergi dari dunia ini. Kakiku lemas dan tubuhku rasanya tidak ingin bergerak. Semua usahaku untuk melupakannya sia-sia. Doaku pada Tuhan belum dikabulkan.

Aku bersabar dan terus bersabar. Hingga akhirnya aku pun mulai bisa menerima kenyataan itu ketika dia benar-benar menikah. Saat akan menikah pun, dia sama sekali tidak mau menyapaku. Aku chat di facebook, tapi hanya dibalas dengan senyuman. Ada apa ini? Apa dia menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya? Sekarang satu tujuanku. Aku ingin membawanya kembali ke dalam pelukanku, aku ingin menikahinya, walaupun dia sudah tidak suci lagi dan sudah disentuh laki-laki lain. Sungguh aku benar-benar ingin menikahinya, aku serius.

Aku ingin sukses menjadi seorang penulis, aku ingin dikenal banyak orang, lalu aku bisa menghasilkan uang agar aku bisa membawanya kembali ke pelukanku. Namun aku juga harus menerima restu dari suaminya, kalau saja suaminya mau melepasnya dan dia menjadi janda, aku tetap akan menerimanya.

Apa ada laki-laki seperti aku ini? Laki-laki bodoh yang masih mau menerima perempuan yang jelas-jelas sudah tidak suci lagi dan sudah disentuh oleh laki-laki lain? Jika ada, katakan padaku. Apa kami pantas dibilang laki-laki bodoh padahal masih banyak perempuan di luar sana?

(Cerita ini dikirim oleh Ridhoadhaarie)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...