CERITA ANDA

Maluku Gigit Jari

Dari aspek SDM, Maluku masih sangat jauh dari perkembangan.
Maluku Gigit Jari
Pembangunan Jembatan Merah Putih di Kota Ambon, Maluku. (VIVA.co.id/Angkotasan)

VIVA.co.id – Liku-liku yang terjadi saat ini adalah dampak dari kebodohan yang tak akan menjamin adanya sustainable growth pada aspek manapun. Banyak variable-variabel dengan indikator-indikator lucu yang menjadi pemicu hancurnya harapan bangsa. Jauh sebelum, kita mendengar tentang MEA, hal ini sudah terjadi. Yakni adanya kesalahan berpikir tentang orientasi masa depan yang masih buram, dan itu terjadi hingga sekarang ini. Dan tulisan singkat ini adalah mengenai Maluku.

Dari aspek sumber daya alam (SDA), Maluku termasuk yang memiliki kekayaan SDA yang cukup luar biasa dan pantas untuk dieksploitasi guna peningkatan profitabilitas dan lain-lain. Dari aspek sumber daya manusia (SDM), Maluku masih jauh dari perkembangan. Maluku seakan dililit oleh tali kebodohan dengan beragam warna yang sulit untuk dilepaskan. Dari aspek knowledge pun Maluku masih tertinggal.

Kualitas para pemilik profesi pengajar masih sangat memprihatinkan. Guru misalnya, para guru seharusnya mampu menguasai teori yang divalidasikan secara empirik dan secara terus-menerus serta mampu memiliki kemampuan adapatabilitas terhadap karakteristik siswa. Guru adalah panutan intelektual yang nantinya akan diteladani oleh siswa. Ingatkah Anda tentang peribahasa lama yakni, guru kencing berdiri, maka murid pun kencing berlari.

Kesalahan dalam proses transfer ilmu dari guru kepada siswa atau eksplisit knowledge to eksplisit knowledge, tacit knowledge to tacit knowledge, dan sebagainya akan mempengaruhi perilaku siswa ke depan nanti. Terlepas dari sistem yang dianut di negara ini mengenai persyaratan rekruitmen serta proses rekruitmen.

Motivasi yang diberikan guru kepada siswa akan menjadi acuan siswa dalam menjalani kehidupan eksternal ke depan nanti. Proses-proses seperti ini akan berlanjut secara terus-menerus hingga siswa ini pun masuk ke perguruan tinggi. Perguruan tinggi adalah wadah pendidikan yang tergolong ekstrem. Untuk mau memasuki jenjang ini maka bekal pengetahuan yang dibawa siswa harus sesuai dengan keadaan yang ada pada perguruan tinggi.

Pemahaman-pemahaman siswa tentang ini berasal dari pemberian motivasi dari guru melalui kesadaran hati yang bersandar pada rasa cinta dan kasih sayang guru kepada siswa. Kesadaran seorang guru tentang ini akan melengserkan hasrat busuk terhadap kecintaan finansial melebihi segalanya, yang berpeluang rusaknya generasi baru yang kini menjadi trending topik di kalangan para akademisi.

Siswa terkadang bingung dengan pilihan masa depan, bingung dengan orientasi pendidikan yang mau ditempuh pada perguruan tinggi. Bahkan siswa terperangkap oleh tingkat ekspektasi yang lebih mendominasi dan akhirnya plin-plan, dan sebagainya. Sehingga lahirlah yang namanya 5D, datang, duduk, diam, dengar dan daaaaaaahh.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...