CERITA ANDA

Suka Duka saat Ikut Bermain Teater

Saya selalu dapat peran jelek.
Suka Duka saat Ikut Bermain Teater
Pertunjukan Teater. (VIVAnews/Fernando Randy)

VIVA.co.id – Banyak alasan buat saya kenapa setiap diajak main teater, selalu saya tolak. Pertama, saya bukan tipe orang yang suka tampil. Kedua, saya enggak terlalu nyaman jadi sorotan. Ketiga, saya lebih suka berada di belakang layar, dan keempat saya punya sindrom demam panggung.

Seingat saya, saya kena sindrom ini sejak awal tahun 2012. Kalau saya sudah kena sindrom ini, maka mendadak saya bisa menjadi gagap. Kalau sudah gagap, ngomong "Perkenalkan nama saya Stefanus Sani" saja bisa menjadi, "Per...ke...nalll...kaaaannn nnnaaaa...maaaaa sa...ya...Stef...anus...san...iiiiiii".

Saya percaya banget kalau saya kena "penyakit" gagap ini karena karma buat perbuatan saya. Dulu waktu SMP, teman sebangku saya si Bernard, anaknya gagap parah dan sering saya ejek. Eh, beberapa tahun kemudian malahan saya yang sekarang ketularan gagap. Waktu saya ceritakan hal ini kepada kakak dan beberapa teman saya, tidak ada satupun dari mereka yang percaya kalau saya bisa jadi orang gagap kalau lagi kena sindrom demam panggung.

Jelas mereka enggak percaya, karena saya memang tidak punya riwayat gagap. Dan saat di kelas atau sedang di forum resmi, saya termasuk orang yang berani buat ngomong, kasih kritikkan, atau berdebat. Tapi setiap ada ajakkan main teater, pasti saya tolak. Biar kata orang saya jago berakting, tapi tetap saja saya tolak. Bukan apa-apa, saya takut pas lagi di atas panggung, sindrom demam panggung saya ini muncul dan mengacaukan semuanya.

Dari ingatan saya yang lumayan baik ini (sebelum saya kena sindrom demam panggung), saya sudah beberapa kali ikutan teater. Teater pertama saya itu waktu masih TK Kecil. Saya dapat peran sebagai pembantu raja. Entah kenapa, saya yang berperan sebagai pembantu dan teman saya si Yohanes yang kebagian peran menjadi raja. Padahal menurut saya, saya lebih cakep dibanding si Yohanes. Scene saya enggak sampai satu menit.

Jadi, nanti ada adegan teman saya si raja manggil, "pelayan!". Begitu mendengar dipanggil, saya langsung berlari dari belakang panggung (dengan penampilan ala pelayan, pake peci dan bawa lap tangan) dan bertanya ke raja, "Ada yang bisa saya lakukan, Tuan Raja?" Saya ingat banget, ketika saya keluar dari belakang panggung dan berpakaian ala pelayan semua penonton yang kebanyakkan orangtua murid langsung tertawa ngakak. Entah tertawa karena saya memang mirip pembantu atau apalah.

Ironisnya, setelah saya berperan sebagai pembantu raja, sewaktu TK saya menjadi lebih dikenal sebagai "Stefanus yang berperan sebagai pembantu". Nama Stefanus ini sudah terlalu mainstream, di TK saya saja yang punya nama depan ini ada lima orang. Ada teman saya yang ngomong ke mama-nya, "Ma, tadi aku makan bareng Stefanus", Si tante pun bertanya, "Stefanus yang mana ya Nak?" "Itu ma, Stefanus yang waktu pentas teater jadi pembantu." Jadilah saat di TK saya lebih terkenal sebagai "Stefanus si pembantu".

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...