CERITA ANDA

Jembatan Merah Putih dan Nasib Pendayung

Proyek tersebut kurang memperhatikan masyarakat pesisir.
Jembatan Merah Putih dan Nasib Pendayung
Jembatan merah putih

VIVA.co.id – Perkembangan pembangunan suatu daerah sangat diimpikan dan diharapkan oleh semua baik itu kabupaten, kota, ataupun provinsi. Karena dengan berkembangnya suatu daerah akan menjadikan daya tarik tersendiri pada daerah-daerah lain dalam skala regional, nasional, maupun internasional. Misalnya pembangunan infrastruktur seperti jembatan, jaringan jalan, dan lain-lain. Itu semua merupakan bagian dari upaya mengembangkan pembangunan suatu daerah.

Dengan membangun infrastruktur seperti jalan dan jembatan akan berdampak baik terhadap daerah tersebut misalnya akses transportasi menjadi lebih efektif, aktivitas ekonomi dalam konteks distribusi menjadi lebih baik dan mempunyai potensi untuk masuknya investor dari dalam maupun luar negeri.

Pembangunan-pembangunan dengan tujuan ingin mengembangkan potensi daerah banyak kita temukan di daerah-daerah di Indonesia. Misalnya di daerah-daerah bagian timur Indonesia khususnya di Kota Ambon, yang telah dibangun Jembatan Merah Putih (JMP). Tujuannya sama yaitu ingin mengembangkan Kota Ambon pada sektor ekonomi dan fisik.

Jembatan Merah Putih (JMP) di Teluk Ambon Galala-Poka yang panjangnya sekitar 1.060 meter, merupakan mega proyek yang menggunakan anggaran APBN senilai Rp. 416,76 miliar. Proyek tersebut digarap PT Waskita Karya, PT Pembangunan Perumahan (Persero), dan PT Wijaya Karya (Persero). Jembatan ini akan menghubungkan Desa Galala, Kecamatan Sirimau dengan Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon.

Pembangunan Jembatan Merah Putih (JMP) tujuannya agar akses ekonomi Kota Ambon menjadi lancar, salah satunya dalam konteks distribusi barang dan hasil-hasil alam dari negeri-negeri (desa) yang ada di Kecamatan Leihitu dan Leihitu Timur yang kemudian akan didistribusikan ke Kota Ambon. Dan juga pada aspek fisik, Jembatan Merah Putih (JMP) menjadi landmark untuk Kota Ambon karena Jembatan Merah Putih (JMP) merupakan satu-satunya jembatan terpanjang di provinsi Maluku yang dibangun melintasi laut di Teluk Ambon.

Tetapi proyek yang mulai dikerjakan dari tahun 2012 itu kurang memperhatikan masyarakat pesisir yang hidup bermukim di sekitar kawasan proyek tersebut. Bahkan hampir mungkin mengabaikan kondisi dan aspirasi masyarakat pesisir, jika kita menyimak janji Pemerintah Kota Ambon bahwa ingin menjadikan Pantai Poka Rumah Tiga dan Galala sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Ambon dengan pengembangan konsep Water Front City (WFC) atau Kota Pantai dan juga janjinya Pemerintah Kota bahwa bagi para pendayung perahu tradisional akan dibina untuk menjalani profesinya.

Tetapi realitasnya tidak seperti yang diharapkan masyarakat pesisir, bahkan merugikan. Karena pembangunan Jembatan Merah Putih (JMP) hanya mempertimbangkan kondisi ekonomi dan fisik kota saja tetapi tidak mempertimbangkan aspek sosial-ekonomi masyarakat pesisir di sekitar kawasan proyek tersebut. Implikasinya masyarakat pesisir merasa kehilangan mata pencahariannya yaitu sebagai “tukang panggayong” (pendayung) perahu tradisional. Padahal mata pencaharian masyarakat peisisir sebagai pendayung tradisional ini sudah dilakoni sejak puluhan tahun.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...