CERITA ANDA

Kalijodo, Rusun, dan Hidung Belang

Banyak problematika tinggal di rumah susun.
Kalijodo, Rusun, dan Hidung Belang
Kawasan Kalijodo, Jakarta Utara. (VIVA.co.id/Muhamad Solihin)

VIVA.co.id – Banyak masalah muncul di tempat baru. Relokasi warga Kalijodo ke rumah susun (rusun) akan menimbulkan berbagai persoalan baru. Kali ini, kami mau menuliskan secara ringan dan lucu  dari kebiasaan warga, PSK, hidung belang, dan pejabat  yang sempat berinteraksi selama ini.

Warga Kalijodo Direlokasi ke Rusun

Setelah pembongkaran lokasi Kalijodo, Jakarta, warganya berpindah tempat. Hampir sebagian warga Kalijodo menempati rumah susun (rusun) yang disediakan Pemerintah DKI Jakarta. Mereka bersedia direlokasi ke tempat itu.

Seminggu kemudian, pejabat DKI mengontrol rusun tersebut. Pejabat ini kaget. Ia menyaksikan banyak jemuran di tempat pintu masuk kamar, motor masuk ke ruangan, bahkan ia melihat sendiri warganya membuang sampah dari jendela lantai atas.

Pejabat: "Kok, tempatnya jadi seperti ini."
Warga rusun: "Kenapa Pak?"
Pejabat: “Diberi tempat bagus bukannya bersyukur, dijaga, tertib, dan rapi.”
Warga: "Kami sudah taat semua. Seharusnya pemerintah yang bersyukur, kalau kami tidak mau direlokasi urusannya bisa panjang.”
Pejabat: "Sudah taat bagaimana?”
Warga: Kami taat direlokasi kami ikuti dan pindah tempah. Itu kan namanya taat."
Pejabat: "Kok, ga berubah perilakunya?”
Warga: “Lah, Bapak kan mintanya relokasi. Relokasi kan pindah tempat. Bukan pindah perilaku Pak?"
Pejabat: “Capek deh, maksudnya bukan begitu. Semuanya harus berubah. Tempat baru, perilkau baru."

Rusun Warga Kalijodo Diundi

Warga Kalijodo yang mau direlokasi ke rumah susun harus mendaftar. Pekerja Seks Komersil (PSK) yang warga setempat juga ikut mendaftar. Setelah mendaftar mereka akan mendapatkan kamar masing-masing. Kamar dibagikan secara undian. Ternyata tak semua warga menerimanya dengan sistem ini. Seorang warga bernama Ani protes kepada pejabat.

Ani: "Pak saya protes, kok saya dapat kamar di atas?
Pejabat: "Kenapa protes, kan enak dapat kamar di atas bisa melihat pemandangan."
Ani: “Ga enak Pak. Kamar saya tidak banyak diketahui pengunjung. Saya percuma pasang papan nama di depan pintu, ga ada orang yang lihat dari luar.”
Pejabat: “Maksudnya?”
Ani: "Kalau kamar di lantai bawah saya bisa pasang papan nama supaya pelanggan saya tahu."
Pejabat: "Ga bisa pasang papan nama dan pilih kamar di sini. Semuaya diundi."
Ani: "Wah, Bapak lupa ya, waktu di Kalijodo, Bapak milih  saya ga pake undi, Bapak langsung pilih saya, padahal banyak wanita lain loh."
Pejabat: "Waduh...."

(Cerita ini dikirim oleh Ahmad Zidan, Jakarta)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...