CERITA ANDA

Gerakan Banten Membaca untuk Indonesia

Minimnya buku sebagai bahan bacaan menghambat gerakan ini.
Gerakan Banten Membaca untuk Indonesia
Ilustrasi anak-anak membaca buku (VIVA.co.id/Mustakim)
VIVA.co.id - Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sudah sukses memaknai dirinya bukan semata untuk kalangan buta aksara seperti awal-awal tujuan didirikannya. Kini TBM telah memasuki ruang-ruang publik. Keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang tersebar di seluruh Provinsi Banten menjadi bagian yang tak bisa dipungkiri dalam hal mendukung dan mendorong gerakan Banten Membaca sebagai perwujudan dari Gerakan Indonesia Membaca. Sebagai dorongan juga dalam rangka mendukung gerakan nasional Indonesia Membaca yang telah dicanangkan oleh Menteri Pendidikan, Anies Baswedan.

Salah satu komunitas yang mendukung gerakan Indonesia Membaca adalah Forum TBM Provinsi Banten. Gerakan Banten Membaca adalah sebuah gerakan dalam upaya membantu program pemerintah dalam rangka meningkatkan lagi minat baca masyarakat di Banten. Memacu semangat literasi dari Banten agar bisa ditularkan ke daerah-daerah lain yang tersebar di seluruh provinsi di nusantara.

Harus ada keterlibatan semua unsur masyarakat dan pemerintah, baik dari TBM, PKBM, komunitas literasi, dinas pendidikan, kementerian, maupun perpusda. Mereka harus bersama-sama mewujudkan gerakan Banten Membaca. Tanpa kita bersatu, ini tidak akan berjalan dengan baik dan sekarang semangat kita sudah ada.

Adapun bentuk kegiatan yang dilaksanakan adalah road show ke beberapa TBM di delapan kabupaten kota selama beberapa bulan. Agenda setiap kunjungan di antaranya berupa; donasi buku, rembuk budaya baca kampung, gelaran buku, gelar arsip kampung, berbagai perlombaan edukasi (mewarnai, membaca cepat, membaca puisi menulis esai dll), pertunjukan seni musik dan drama, pemutaran film pendidikan, dll.

Lokasi gerakan Banten Membaca adalah beberapa tempat yang sengaja dipilih, sebagai cara komunikasi dari para pengurus daerah forum TBM. Lokasi yang akan dituju adalah betul-betul daerah yang membutuhkan support dari gerakan Banten Membaca ini. Sehingga hasil yang akan dicapai sangat maksimal dalam hal meningkatkan gerakan masyarakat membaca dan menumbuhkembangkan minat baca pada masyarakat.

Gerakan Banten Membaca ini akan tersebar di Kabupaten Pandeglang, Kota Cilegon, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Serang, dan Kabupaten Lebak, dengan jadwal yang berbeda beda.

Hasil pendataan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Provinsi Banten yang kami lakukan, dari TBM yang berjumlah 270 lembaga hampir 60 persen lembaga TBM yang ada masih sangat membutuhkan tambahan sarana dan prasarana, di antaranya tambahan bahan bacaan.

Minimnya buku sebagai bahan bacaan tentunya akan menghambat gerakan para pengelola Taman Bacaan Masyarakat untuk melayani masyarakat dalam mengakses bahan bacaan. Seperti halnya di beberapa TBM yang kami kunjungi, bahan bacaan yang sudah tidak layak di baca masih terpajang di rak buku yang kusam. Selain itu koleksi bahan bacaan yang sangat tidak memadai dan tidak sesuai peruntukannya terpaksa dijejer di antara rak buku-buku tersebut.

Kondisi ini sangat memprihatinkan sekali. Mereka beranggapan bahwa bantuan pemerintah sangatlah sulit diakses, baik APBN maupun APBD. Kesulitan tersebut memang terasa sekali apalagi ketika di antara lembaga TBM yang ada hingga saat ini tidak memiliki izin operasional. Padahal, diakui atau tidak TBM atau rumah-rumah baca tetap mereka kelola sesuai dengan visi dan misi mereka yakni untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Budaya baca dalam pendidikan masyarakat harus tumbuh untuk melawan tradisi nol buku. Oleh karena itu, lembaga pendidikan harus berani berinisiatif mengembangkan budaya baca. Menjamurnya TBM karena adanya jihad literasi yang muncul dari masyarakat. Oleh karena itu, jejaring di antara forum atau komunitas dengan pihak lainya seperti Perpusnas, penerbit, hingga pemerintah pusat dan daerah harus diperkuat.

Masyarakat yang tinggal di kampung-kampung, desa-desa terpencil, dan di pesisir yang jauh dari akses pemerintah mesti diperkuat dan urun rembuk dengan para komunitas yang peduli akan budaya baca masyarakat. Tidak menutup kemungkinan aparat desa campur tangan dalam pengembangan budaya baca ini.

Dengan kata lain, turun tanganlah yang mesti dilakukan oleh semua pihak. Pemerintah peduli, komunitas peduli, Perpusnas peduli, dll.  Selain kedua kegiatan tersebut masih banyak lagi berbagai kegiatan yang telah dirancang untuk pengembangan budaya baca di TBM yang dituju. (Tulisan ini dikirim oleh DC Aryadi, Aktivis Pendidikan dan Ketua Forum TBM Provinsi Banten)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...