CERITA ANDA

Matahari di Ujung Timur Indonesia

Guru adalah garda terdepan bagi generasi penerus bangsa.
Matahari di Ujung Timur Indonesia
Ilustrasi (http://harysmk3.wordpress.com)

VIVA.co.id - Sudah hampir 5 tahun ini, pemerintah melaksanakan program sarjana mendidik di daerah 3T (daerah terdepan, terluar, dan tertinggal). Sebuah program yang bertujuan mencerdaskan anak bangsa di pelosok negeri.

Program ini menyentuh hati penulis untuk menggambarkan betapa pentingnya membangun matahari di ujung timur Indonesia. Anak bangsa dengan senyuman mereka, dengan impian mereka, dan dengan semangat mereka, ibarat matahari yang bersinar terang di muka bumi. Gambaran penulis ini berdasarkan pengalaman penulis mendidik generasi bangsa di tanah Timor selama 1 tahun.

Timur Indonesia daerah yang sangat indah, beragam kekayaan alam terdapat di sana. Begitupun dengan kekayaan generasi bangsanya, tak jauh berbeda dengan pulau-pulau di Indonesia lainnya. Semangat dan motivasi belajar para peserta didik begitu besarnya untuk pendidikan. Dengan lantangnya setiap minggu, mereka lantunkan lagu Indonesia Raya yang melukiskan betapa cintanya mereka dengan Negara.

Rasa Nasionalisme, rasa keingintahuan yang besar, semangat belajar yang tinggi dapat melahirkan generasi-generasi emas penerus bangsa. Namun kini pertanyaannya, siapakah yang dapat mencetak generasi emas bangsa ini? Jawabannya adalah guru.

Guru  bukan hanya sebuah profesi, guru adalah garda terdepan bagi generasi penerus bangsa. Ibarat ujung pena, guru yang melukiskan berbagai pengetahuan dan penanaman karakter bagi peserta didik. Karenamu, guru, ketertinggalan pendidikan dapat diatasi dan generasi masa depan digapai.

Sungguh ironi pendidikan di Indonesia, tidak semua masyarakat dapat mengeyam pendidikan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya, tenaga pendidik yang kurang memadai, fasilitas yang tidak mendukung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, infrastruktur, dan akses jalan yang sulit ditempuh oleh peserta didik.

Dari beberapa faktor yang disampaikan di atas, hal yang akan penulis soroti adalah guru. Selama ada guru yang berkompeten, berkarakter, dan berjiwa besar untuk mengajar di daerah tertinggal, 50 persen masalah pendidikan akan teratasi. Diperlukan guru inspiratif yang mampu mendidik, memberi teladan yang baik, dan bisa memahami kondisi kejiwaan peserta didik, serta mampu memotivasi dan memberi semangat peserta didiknya ke arah kemajuan.

Sangat disayangkan, faktanya tak banyak guru yang hati nuraninya terpanggil untuk mencerdaskan anak bangsa di timur Indonesia. Kini paradigma guru bergeser kebermaknaannya. Guru yang tanpa tanda jasa untuk mendidik, mengayomi bijaksana dan arif seperti Umar Bakri ataupun Bu Muslimah dalam film laskar pelangi sulit untuk ditemukan pada zaman sekarang ini. Ironisnya, kini banyak guru yang menuntut kesejahteraan namun tak bersedia untuk ditempatkan di seluruh pelosok negeri Indonesia. Sehingga terjadi ketidakmerataan pendidikan di Indonesia.

Program Sarjana Mendidik 3T (SM3T), program Indonesia Mengajar, dan program 1000 guru Indonesia, merupakan program yang perlu terus diadakan. Program yang mengedepankan panggilan jiwa para tenaga pendidik untuk mencerdaskan anak bangsa. Tak banyak para pendidik yang mampu dan bersedia ditempatkan di pelosok negeri. Hanya guru yang berjiwa besar, yang mencintai profesinya, mencintai bangsanya melebihi dirinya sendiri dan rela mencurahkan tenaga dan pikirannya bagi mereka anak-anak bangsa.

Sudah sepatutnya bagi mereka para guru yang bersedia mengajar di pedalaman, kesejahteraan merekalah yang perlu diprioritaskan. Tak ada yang bisa membalas mereka, hanya Tuhan yang dapat membalas jasa mereka.

Untuk bapak ibu guru di seluruh negeri, resapilah makna lagu Hyme Guru, di mana terdapat lirik, "Guru bak pelita penerang dalam gulita, jasamu tiada tara". Daerah apapun di Indonesia, jadilah guru penginspirasi anak bangsa. Tak terkecuali di Papua, karena Papua juga Indonesia. Generasi bangsa, matahari timur Indonesia memanggil ibu bapak guru untuk mengabdi di sana, menjadikan mereka cerdas dan berkepribadian, menjadikan mimpi-mimpi mereka terwujud, sesuai lirik yang di atas, pelita dalam kegelapan untuk pendidikan Indonesia yang jauh lebih baik. (Tulisan ini dikirim oleh Hana Lestari, Universitas Negeri Jakarta)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...