CERITA ANDA

Kakek Tiga Cucu Sang Pemulung Botol

Pak Sholihin harus berjuang untuk menghidupi keluarganya.
Kakek Tiga Cucu Sang Pemulung Botol
Pak Sholihin dan tiga orang cucunya. (U-Report)

VIVA.co.id - Di tengah ramainya Kota Bogor,  terlihat seorang kakek sedang menarik sebuah gerobak yang ditumpangi oleh tiga orang cucunya. Setiap sore terlihat sang kakek menarik gerobaknya melintasi Jl. Binamarga I  yang hendak mencari botol-botol dan kaleng-kaleng bekas untuk dikumpulkan lalu dijual demi menghidupi keluarga tercintanya.

Pria yang terlahir 57 tahun silam ini bernama lengkap Abdul Sholihin. Dia memiliki satu orang anak wanita yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia yang belum lama bercerai dengan suaminya, sehingga ketiga orang cucunya harus diasuh oleh sang kakek tersebut. Sedangkan kini Pak Sholihin harus berjuang untuk menghidupi keluarganya seorang diri setelah kepergian istri tercinta empat tahun silam.

Setiap pagi sebelum melakoni pekerjaannya, Pak Sholihin dengan penuh tanggung jawab mencuci pakaian cucu-cucunya hingga menyiapkan sarapan yang hanya ala kadarnya. Pukul 10.00, ia pun berangkat dengan membawa gerobak dengan ketiga orang cucunya di dalam gerobak tersebut.

Tutur Pak Sholihin, dirinya telah melakoni pekerjaan sebagai pemulung selama 12 tahun, tepatnya setelah ia diberhentikan oleh sebuah perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya. "Saya lebih baik bekerja sebagai pemulung daripada saya mesti mengemis dan mengharap belas kasihan dari orang lain tanpa saya harus bekerja keras," ujar Pak Sholihin.

Dari hasil memulung, pendapatan Pak Sholihin sangatlah bergantung dengan seberapa banyak botol-botol atau kaleng-kaleng bekas yang dapat dikumpulkan pada setiap harinya. "Saya jual hasil memulung setiap 3 hari sekali, kadang dapat 20 ribuan tapi kadang juga bisa sampai 35 ribuan,” ujarnya.

Pak Sholihin dan ketiga orang cucunya kini tinggal di sebuah kediaman yang hanya beratapkan terpal dengan kondisi lingkungan yang kumuh. "Ini nikmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa, jadi saya mesti mensyukurinya karena rezeki kan sudah ada yang mengatur," ucapnya lagi dengan menatap penuh kasih ke arah tiga orang cucunya.

Meski kini Pak Sholihin sudah tidak pernah mengetahui kabar dari anaknya yang berada di negeri tetangga, ia tetap sangat menyayangi ke tiga orang cucunya. Sang kakek selalu berusaha mengasihi cucu-cucunya dengan kesabaran dan penuh tanggung jawab di dalam pahitnya kehidupan yang ia jalani. (Cerita ini dikirim oleh Wanda Raynata, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...