CERITA ANDA

Menyapa Negeriku: Aceh Timur Tak Terlupakan

Miris melihat kondisi sarana pendidikan di pedalaman Aceh Timur
Menyapa Negeriku: Aceh Timur Tak Terlupakan
Menyapa Negeriku di Aceh Timur (U-Report)

VIVA.co.id - Usai menempuh perjalanan selama enam jam dari Bandara Kualanamu, Sumatera Utara, kami bertujuh akhirnya tiba di salah satu tujuan yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB) Cahaya Peureulak Aceh Timur. Keramahan dan kehangatan pendiri sekaligus pengelola SLB Cahaya, Ibu Nur dan Pak Muchtar menyambut kehadiran kami, pada Selasa 1 Desember 2015.

Saya bersama lima orang lainnya merupakan peserta program Menyapa Negeriku yang digagas Kementerian Riset Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Jakarta. Mereka adalah Vika Restu (Ortopedagogik), Silvy Tanaga (Aktivis sosial), Rara Rengganis (Dokter), Bustomi (penggiat sosial politik), dan Dwi Prasetyo (Mahasiswa berprestasi), sedangkan saya Ramadhan Wibisono jurnalis TV One.

Kami didampingi Juni Safitri, alumnus SM3T angkatan 4 yang pernah ditugaskan di kawasan Peureulak. SM3T adalah program pemerintah (bermula Kemendikbud kemudian berlanjut Kemenristekdikti) sejak 2011 bagi guru yang hendak meraih status pegawai negeri sipil harus menempuh jenjang mengajar sekaligus mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal atau 3T selama setahun.

Kesan pertama yang saya rasakan di SLB Cahaya adalah keceriaan dan kehangatan tiada henti para pendidik SM3T dan peserta didik di balik kesederhanaan. SLB Cahaya menampung 43 murid pria dan wanita yang terbagi atas SLB tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, serta lima pendidik SM3T. Sebagian murid bersama para pendidik SM3T menginap di asrama SLB Cahaya.

Sekilas bangunan SLB Cahaya tampak "normal" layaknya gedung sekolah pada umumnya. Berdiri sejak 2012 atas inisiatif pasangan suami istri Bu Nur dan Pak Muchtar, dikelilingi pematang sawah serta empang dan jalan beraspal tipis di wilayah yang pernah menjadi basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Namun ironis, di balik keceriaan semangat pantang menyerah para murid berkebutuhan khusus bersama seluruh pendidik SM3T di SLB Cahaya untuk maju, fasilitas SLB Cahaya yang berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus menuntut ilmu masih belum memadai. Menurut Bu Nur, perhatian atau kepedulian warga sekitar dan pemerintah setempat juga kurang.

Ruang kelas seadanya dengan jumlah terbatas, belum lagi kamar mandi ala kadarnya yang kerap memaksa para murid ataupun pengajar SM3T mengantri untuk menggunakannya, ditambah lagi fasilitas air bersih yang sering terabaikan.

Kepedulian masyarakat bersama pemerintah sangat dibutuhkan demi fasilitas terbaik dan berkembangnya generasi muda Indonesia khususnya Peureulak, Aceh Timur. Jangan lagi ada diskriminasi menganaktirikan anak-anak berkebutuhan khusus.

Rabu, 2 Desember 2015

Indonesia sangat kaya dengan budaya dan adat istiadat menarik, khususnya Nanggroe Aceh yang patut dilestarikan. Salah satunya Tari Ranup Lampuan yang menyambut kami bertujuh yaitu tim Menyapa Negeriku SM3T Aceh Timur di SMAN 1 Peureulak Aceh Timur. Dengan anggun dan lincah lima siswi SDN 1 Peureulak ini menampilkan Tari Ranup lampuan.

Tari Ranup Lampuan berarti sirih dalam puan atau tempat sirih khas Aceh. Awalnya dikenal di Banda Aceh kemudian berkembang ke seluruh wilayah tanah rencong. Tarian ini berlatar belakang adat atau kebiasaan masyarakat Serambi Mekah dalam menerima dan memuliakan tamu. Tarian yang diciptakan almarhum Yuslizar, warga asli Aceh pada 1959 ini memiliki arti tersendiri di tiap gerakan seperti memetik sirih kemudian membuang tangkainya, membersihkan sirih, hingga menyuguhkan sirih kepada tamu.

Penyambutan adat setempat kepada kami tak berakhir di Ranup Lampuan. Sejumlah gadis cantik murid SMAN 1 Peureulak ikut menyajikan tarian yang juga khas Aceh, Ati Awai. Tarian ini menggambarkan beragam permainan tradisional Aceh.

Sebelumnya, dua orang dari kami  didaulat mengikuti upacara Peusijuk yang berarti penyampaian doa oleh ketua adat agar kegiatan kami selama di Aceh Timur berjalan lancar sekaligus bermanfaat positif untuk masyarakat.

Kami pun turut menerima informasi dari tengku atau tokoh adat dan ulama setempat seputar asal usul sejarah Peureulak yang berlatar belakang lahirnya Kesultanan Islam pertama di Aceh, bahkan masuknya Islam di Indonesia juga berawal dari Aceh.

Tak hanya budaya, kami juga tidak melewatkan kesempatan menikmati tiga hidangan masakan khas Aceh di Peureulak. Sayur pli (berbahan kelapa dibusukkan dan bentuknya mirip sayur lodeh), asam udeng (udang asam penyet memakai belimbing wuluh), serta asam ke'eung (udang asam pedas menggunakan belimbing wuluh). Cita rasa kuliner melayu sungguh menggugah selera makan kami. Aaajiib !!!

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...