CERITA ANDA

Patung Purwakarta, Eksotik atau Musyrik?

Purwakarta lebih eksotik dengan keselarasan alam dan pembangunan
Patung Purwakarta, Eksotik atau Musyrik?
Purwakarta Eksotik (U-Report)

VIVA.co.id - Senin, 14 Desember 2015, saya ada urusan pekerjaan di Purwakarta, Jawa Barat. Kabupaten yang tak asing buat saya karena lebih 6 tahun saya selalu punya urusan pekerjaan, pertemanan, dan kekerabatan di Purwakarta. Tapi kali ini saya agak merasa spesial ke Purwakarta karena belakangan nama bupati dengan segala atribusi kebudayaannya sedang naik ke permukaan melalui berita-berita tentang kemusyrikan, kesesatan, penistaan Islam, dan lain sebagainya.

"Kota musyrik" karena patung, batin saya. Memasuki pintu gerbang Purwakarta dengan pesona yang khas, kita akan menemukan patung-patung berjajar di sepanjang jalan. Ada kejanggalan antara kata musyrik dengan fakta keindahan seni. Keindahan tata kota dengan konsep seni dibilang musyrik gara-gara patung?

Kabupaten lain punya patung tidak dianggap musyrik. Apakah karena jumlahnya yang lumayan banyak sehingga kemusyrikan merajalela di Purwakarta atau karena ada penilaian lain? Kalau penyebabnya adalah jumlah patung sehingga disebut kota musyrik, lantas berapa batasan supaya seorang bupati tidak dianggap musyrik memasang patung?

Tak usah bertanya kepada sang bupati atau dinas pariwisata kabupaten Purwakarta. Sekalipun kita akan mendapatkan satu kesan menyolok, bahwa kabupaten ini sebenarnya sedang berbenah mengoptimalisasikan potensi wisata.

Patung-patung yang eksotik dengan berbagai keragamannya adalah cara bupati membuat para wisatawan atau tamu merasakan sensasi, merasa kerasan, dan menikmati keindahan. Itu benar-benar terjadi. Tidak salah sang bupati menampilkan patung-patung itu sebagai strategi memperindah kota. Dan apa yang dilakukannya dengan patung juga mempertimbangkan infrastruktur jalan dan pepohonan secara seimbang.

Tidak seperti Ridwan Kamil yang memperindah Kota Bandung tetapi hanya dengan menjubahi pohon-pohon, Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta ini, justru punya kemampuan menawarkan pesona yang seimbang dan selaras antara ide seni barunya dengan pembangunan fisiknya. Buktikan, di Bandung di mana infrastruktur yang ketinggalan zaman dan walikota hanya memperindah kota melalui elemen-elemen sekunder yang maaf kelewat norak.

Datanglah ke Purwakarta yang lebih eksotik dengan keselarasan antara alam dan pembangunan. Karena saya tahu bahwa bangunan patung ini bukan barang mewah, maka wajar jika anggaran tidak akan terlalu banyak. Mungkin karena itu pula program seni Dedi Mulyadi tidak ditentang oleh anggota DPRD karena anggaran pasti sudah dikalkulasi secara matang.

Senja itu saya makan di sekitar pasar Kota Purwakarta. Iseng-iseng saya berbincang dengan penjual nasi. Ngobrol panjang lebar tentang kiprah bupati. Ibu-ibu muda berjilbab itu sempat saya ledek, "apakah Ibu sekarang musyrik?" Ia tersentak tersenyum paham apa yang saya maksud. Justru ia malah balik bertanya, "memang orang musyrik itu seperti apa sih? Di sini tidak ada yang menyembah patung. Pak Bupati itu Islam. Kami semua Islam", tuturnya.

Ibu Nina, demikian nama panggilannya, mengaku agak heran karena koran-koran belakangan membicarakan perihal musyrik di Purwakarta sementara menurut dirinya urusan agama dari waktu ke waktu tidak berubah.

Kehidupan berjalan biasa. Bahkan menurutnya, ia senang dengan sang bupatinya karena sikap akrab dan rendah hatinya kepada masyarakat. "Kalau bertemu bupati seperti bertemu saudaranya sendiri. Baik, dan perhatian kepada warga. Orang-orang kecil seperti kami juga tidak sulit bicara dengan Akang Dedi", ungkapnya. (Cerita ini dikirim oleh Ferlitahus, Bandung)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...