CERITA ANDA

Jinggaku Hilang Tertelan Malam

Jingga merasa lebih hidup dan mulai mengerti arti mencintai.
Jinggaku Hilang Tertelan Malam
Ilustrasi (http://kanaljogja.com)

VIVA.co.id - Jingga menutup rapat-rapat jendela kamarnya yang sejak tadi dia biarkan terbuka. Matanya masih terasa panas akibat menangis seharian, mulutnya pun mulai kering karena sepanjang hari ini belum ada makanan atau minuman yang melewatinya. Matanya terus menatap ke arah jalan yang terbentang di balik jendela itu.

Angin dingin yang sejak tadi bebas bergerak memasuki kamarnya sekarang mulai terpenjara, sama seperti hatinya yang merasa terpenjara dan kesepian. Lagi-lagi dia menyesali pertemuannya dengan lelaki itu. Tabir, laki-laki yang selama hampir dua tahun ini selalu mengisi hari-harinya.

Bukan, bukan karena Tabir laki-laki yang tidak bertanggung jawab karena mencampakkannya. Tabir juga bukan laki-laki playboy yang telah berkhianat di belakangnya. Tapi dia menyesali karena ternyata dia tidak bisa menjadikan pria itu sebagai teman hidupnya. Besok adalah hari pernikahannya, pernikahan dengan seseorang yang bahkan sama sekali tidak dicintainya.

Jingga mencoba mengusap air mata yang lagi-lagi terus mengalir dari kedua bola matanya yang indah. Pikirannya melayang ke sekitar tiga tahun yang lalu saat seorang pria bertubuh kurus dan berwajah polos menatap dirinya dengan penuh pengharapan. Sambil memegang kedua jemari Jingga, pria itu meminta agar Jingga menunggunya sampai dia selesai melanjutkan kuliah yang akan dijalaninya di negeri tetangga, Malaysia. Pria itu berjanji akan segera menikahi Jingga begitu dia selesai dengan sekolahnya tersebut.

Jingga tersenyum mendengar permintaan Wira. Pria polos itu memang sudah dekat dengan Jingga sejak setahun terakhir. Awalnya Jingga tidak pernah mencintainya, tetapi karena Wira begitu baik akhirnya Jingga memutuskan untuk menerima dia sebagai kekasihnya saat itu.

Wira adalah sosok laki-laki penyayang yang nyaris tanpa cela. Dia selalu ada kapanpun Jingga membutuhkannya. Dia melindungi, menjaga, bahkan tidak ada satu hal pun yang boleh membuat Jingga menangis maka Wira akan mengatasinya. Setiap kali Jingga terlihat sedih, Wira selalu siap menghiburnya. Wira adalah sosok pencinta yang sempurna. Tapi sayang, Jingga tidak pernah mencintainya.

Jingga pun menyanggupi untuk menunggu Wira sampai dia kembali, karena dia yakin Wira adalah pria yang tepat untuk menjadi suaminya, walaupun dia sadar kalau dia tidak pernah mencintai Wira. Saat itu, Jingga hanya menikmati rasanya dicintai, disayangi, diperhatikan, tapi dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mencintai.

Waktu berlalu dan kehidupan Jingga berjalan baik-baik saja. Tidak ada keinginan di hatinya untuk mencintai seorang pria, baginya dirinya sudah memiliki Wira. Di saat teman-teman kuliahnya sibuk berpacaran, dia tetap tidak peduli. Jingga memang tidak mudah untuk jatuh cinta.

Setahun sudah Wira berada jauh darinya. Komunikasi yang terjalin hanya ada lewat telepon dan email saja. Sampai tiba kehadiran seorang Tabir, yang mengubah segalanya.

Tabir adalah laki-laki dengan pribadi yang bebas, sangat bertolak belakang dengan Wira. Jingga sering berhubungan dengannya karena beberapa tugas, ditambah dengan rumah mereka yang ternyata searah. Tabir sering mengajak Jingga untuk pulang bersama. Tabir selalu membiarkan Jingga untuk berani menjadi dirinya sendiri, dan tidak takut melakukan hal apapun. Lain dengan sosok Wira, yang cenderung dewasa dan penuh pertimbangan. Wira tidak pernah mengizinkan Jingga melakukan hal-hal konyol, apalagi yang dianggapnya tidak penting. Wira selalu mengkhawatirkan segala hal.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...